Industri smartphone global menghadapi potensi gelombang kenaikan harga pada 2026. Penyebabnya adalah lonjakan harga chip memori yang terus berlangsung selama beberapa kuartal terakhir, sehingga mulai memicu kekhawatiran di kalangan konsumen maupun produsen perangkat elektronik.
Laporan dari 36kr, menyebutkan kenaikan harga komponen memori seperti DRAM dan NAND flash berpotensi mengubah lanskap pasar smartphone dan komputer pribadi secara global. Dampaknya tidak hanya pada harga perangkat, tetapi juga terhadap volume penjualan sepanjang tahun ini.
Dalam beberapa pekan terakhir, rumor mengenai kemungkinan kenaikan harga smartphone mulai ramai diperbincangkan di pasar ritel. Banyak konsumen mendatangi toko ponsel untuk menanyakan apakah harga perangkat akan ikut naik seiring melonjaknya harga komponen memori.
Sejumlah toko resmi merek smartphone seperti Xiaomi, Huawei, dan Honor mengakui adanya peningkatan pertanyaan dari pelanggan terkait isu tersebut.
Namun hingga saat ini, sebagian besar perangkat yang sudah beredar di pasaran belum mengalami kenaikan harga resmi. Beberapa penjual menyebut kemungkinan penyesuaian harga baru akan terjadi pada model-model yang akan diluncurkan dalam waktu dekat.
Seorang staf toko Huawei menyebutkan bahwa pihaknya belum menerima pemberitahuan resmi terkait kenaikan harga smartphone. Namun ia mengakui bahwa kenaikan harga komponen elektronik bisa berdampak pada produk baru.
“Belum ada instruksi kenaikan harga ponsel yang tersedia sekarang. Tapi kemungkinan perangkat komputer akan lebih dulu terdampak,” ujarnya.
Sementara harga smartphone masih relatif stabil, beberapa produk komputer sudah mulai mengalami penyesuaian harga. Salah satunya laptop Honor MagicBook Art 14 yang dilaporkan naik dari 8.499 yuan atau sekitar Rp21 juta menjadi 8.999 yuan (Rp22 juta) di beberapa toko.
Kenaikan tersebut disebut berkaitan dengan meningkatnya biaya komponen, terutama memori dan penyimpanan. Meski demikian, harga di platform e-commerce masih bervariasi karena adanya diskon dan kupon promosi.
Di sisi lain, perangkat smartphone terbaru juga diperkirakan akan mengalami perubahan harga. Misalnya ponsel lipat Honor Magic V6 yang akan meluncur pada pertengahan Maret. Harga model ini diperkirakan sedikit lebih tinggi dibanding pendahulunya, Honor Magic V5, terutama pada varian memori besar seperti 1TB.
Meski kenaikan harga belum sepenuhnya terjadi, ekspektasi pasar sudah memengaruhi perilaku konsumen. Sebagian pembeli memilih membeli lebih cepat untuk menghindari kenaikan harga di masa depan, sementara sebagian lainnya menunda pembelian sambil menunggu promosi besar seperti festival diskon e-commerce.
Fenomena ini menciptakan semacam “permainan psikologis” di pasar smartphone: apakah lebih baik membeli sekarang atau menunggu potongan harga.
Seorang konsumen bernama Chen mengaku awalnya ingin menunggu promosi sebelum membeli ponsel lipat terbaru dari Huawei. Namun rumor kenaikan harga membuatnya ragu.
“Kalau harga naik, saya akan menyesal tidak membeli lebih cepat. Tapi kalau menunggu diskon, bisa jadi lebih murah,” katanya.
Lembaga riset teknologi International Data Corporation (IDC) memprediksi dampak kenaikan harga memori akan terasa signifikan pada pasar perangkat elektronik konsumen.
Menurut proyeksi IDC, pasar smartphone global diperkirakan akan mengalami penurunan pengiriman hingga 12,9 persen pada 2026. Sementara pasar komputer pribadi diprediksi turun sekitar 11,3 persen.
Namun menariknya, meski volume penjualan menurun, pendapatan industri tidak serta-merta jatuh. Hal ini karena harga jual rata-rata perangkat diperkirakan meningkat akibat biaya produksi yang lebih tinggi.
Analis IDC menjelaskan bahwa produsen kemungkinan akan menaikkan harga perangkat untuk menutup kenaikan biaya komponen, terutama memori.
Salah satu penyebab utama kenaikan harga memori adalah meningkatnya permintaan dari industri kecerdasan buatan. Infrastruktur AI membutuhkan kapasitas memori besar, sehingga memicu persaingan pasokan antara pusat data dan perangkat elektronik konsumen.
Akibatnya, produsen smartphone, laptop, tablet, hingga perangkat wearable harus bersaing mendapatkan pasokan chip memori.
IDC memperkirakan tekanan pasokan memori ini bisa berlangsung hingga 2027. Meski kenaikan harga mungkin melambat pada paruh kedua 2026, harga memori diperkirakan tetap berada pada level tinggi dan tidak kembali ke level 2025.
Situasi ini diprediksi akan mengubah peta persaingan di industri elektronik. Produsen besar kemungkinan lebih mampu mengamankan pasokan komponen dibanding perusahaan kecil.
Selain smartphone dan komputer, dampaknya juga bisa merembet ke berbagai perangkat lain seperti tablet, headset XR, konsol game, hingga perangkat wearable.
Jika tren ini berlanjut, konsumen kemungkinan akan menghadapi harga perangkat elektronik yang lebih mahal dalam beberapa tahun ke depan, sementara produsen harus mencari strategi baru untuk menjaga daya beli pasar.
Scr/Mashable



















