Ada sesuatu yang menyenangkan dari melihat diri sendiri dalam versi yang sebenarnya tidak pernah ada. Kita mengetik satu kalimat sederhana: “How do I look in the 80s?”
Lalu beberapa detik kemudian, wajah kita muncul dengan rambut bergaya retro, jaket denim, kamera analog, warna foto yang sedikit pudar, dan latar belakang seolah-olah diambil dari album keluarga tahun 1985.
Lucu. Nostalgik. Dan, yang paling menggoda, mudah sekali dibagikan. Teman ikut. Influencer ikut. Timeline penuh dengan manusia masa kini yang mendadak hidup di masa lalu. Kita melihat hasilnya, tertawa, lalu mungkin mencoba satu prompt lagi dengan gaya berbeda.
Di titik itu, hampir tidak ada yang terasa seperti aktivitas yang menghabiskan sumber daya. Hanya mengetik. Hanya menunggu. Hanya satu gambar.
Tapi di balik layar ponsel yang dingin di tangan kita, ada komputer-komputer raksasa yang bekerja keras untuk menghasilkan gambar tersebut.
Ilusi “Gratis” di Dunia Digital
Kita terbiasa menganggap aktivitas digital sebagai sesuatu yang tidak punya wujud.
Ketika membeli bensin, kita melihat liter yang berkurang. Ketika menggunakan listrik, meteran bergerak. Ketika membeli air minum, botolnya ada di tangan.
Tetapi ketika menekan tombol generate, tidak ada asap keluar dari ponsel. Tidak ada suara mesin. Tidak ada tangki air yang terlihat kosong.
Padahal AI bekerja di pusat data yang penuh server dan akselerator komputasi. Perangkat-perangkat itu membutuhkan listrik, sekaligus sistem pendingin agar tidak kepanasan.
Menurut International Energy Agency (IEA), pusat data mengonsumsi sekitar 415 TWh listrik pada 2024, setara sekitar 1,5 persen konsumsi listrik dunia. Angka itu diproyeksikan mendekati 945 TWh pada 2030. AI menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut.
Jadi, foto yang muncul dalam hitungan detik sebenarnya tidak pernah benar-benar “tanpa biaya”. Hanya saja, biayanya dibayar jauh dari layar kita.
Berapa Harga Sebuah Gambar?
Di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Tidak ada angka universal yang bisa mengatakan, “satu gambar AI pasti menghabiskan sekian watt.” Penelitian terhadap 17 model generasi gambar menemukan perbedaan konsumsi energi hingga 46 kali antar-model. Resolusi gambar juga dapat meningkatkan kebutuhan energi secara signifikan.
Salah satu estimasi yang sering digunakan untuk memberikan gambaran kasar menempatkan konsumsi generasi gambar berbasis model seperti Stable Diffusion di sekitar 2,9 Wh per gambar. Namun angka tersebut bukan meteran universal untuk semua layanan AI hari ini.
Sebagai pembanding, Google melaporkan median satu prompt teks Gemini mengonsumsi sekitar 0,24 Wh. Jadi, menghasilkan gambar memang bisa berada pada kelas konsumsi energi yang berbeda dibanding sekadar meminta AI menjawab pertanyaan dalam bentuk teks.
Kalau ingin membayangkannya, anggap saja kita sedang menyalakan sebuah keran. Satu kali generate mungkin hanya seperti membuka keran sebentar. Masalahnya muncul ketika jutaan orang melakukan hal yang sama, berkali-kali.
Satu orang meminta foto dirinya menjadi anak 80-an. Kemudian mencoba versi 90-an. Lalu cyberpunk. Lalu anime. Lalu mengubah rambut. Lalu meminta resolusi lebih tinggi.
Kerannya tidak pernah benar-benar berhenti. Dan persoalan AI bukan hanya listrik. Panas dari server juga harus dibuang. Sistem pendinginan tertentu menggunakan air, sementara jejak air AI juga dapat muncul secara tidak langsung melalui pembangkitan listrik dan produksi perangkat keras.
Studi mengenai pusat data menunjukkan bahwa kebutuhan air sangat bergantung pada lokasi, teknologi pendinginan, sumber listrik, dan infrastruktur yang digunakan.
Dengan kata lain, ketika kita melihat satu foto retro di layar, ada infrastruktur fisik yang jauh lebih besar di belakangnya.
Antara FOMO dan Kesadaran
Lalu, apakah kita harus berhenti menggunakan AI? Rasanya tidak sesederhana itu. Sebab teknologi ini juga punya manfaat nyata. AI dapat membantu pekerjaan, pendidikan, kreativitas, riset, hingga berbagai aktivitas yang sebelumnya membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Lagipula, menyalahkan satu orang karena membuat satu foto AI juga tidak proporsional. Jejak lingkungan seseorang tidak bisa dihitung hanya dari satu prompt.
Persoalannya justru ada pada kebiasaan. Kita hidup dalam ekosistem media sosial yang membuat FOMO terasa seperti kebutuhan. Ketika semua orang mengunggah foto versi 80-an, kita merasa harus ikut. Ketika muncul tren baru besok, kita kembali mencoba. Padahal mungkin kita tidak benar-benar membutuhkan 20 versi wajah kita.
Di sinilah konsep digital minimalism atau mindful AI usage menjadi menarik. Bukan berarti kembali ke zaman tanpa AI. Bukan pula menganggap setiap prompt sebagai dosa lingkungan.
Hanya sedikit berhenti sebelum menekan tombol. Apakah gambar ini benar-benar ingin saya buat, atau saya hanya takut ketinggalan tren?
Pertanyaan itu sederhana, tetapi mungkin semakin penting ketika AI menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Sebab persoalannya bukan apakah satu foto AI akan menghancurkan planet.
Tentu tidak. Yang perlu kita pikirkan adalah apa yang terjadi ketika satu foto berubah menjadi miliaran permintaan, sementara efisiensi teknologi justru membuat kita semakin sering menggunakannya.
IEA sendiri mencatat bahwa konsumsi energi per tugas AI terus turun, tetapi pertumbuhan penggunaan dan munculnya aplikasi yang lebih berat dapat mendorong konsumsi total tetap meningkat.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu berhenti membuat foto AI. Kita hanya perlu menyadari bahwa tombol Generate bukanlah tombol ajaib yang membuat sesuatu muncul dari kehampaan.
Di balik satu foto masa lalu yang terasa begitu ringan, ada listrik, server, sistem pendingin, dan sumber daya alam yang bekerja diam-diam. Dan mungkin, sesekali, membiarkan keran itu tetap tertutup adalah pilihan yang sama sekali tidak buruk.
Scr/Mashable


















