Di tengah pesatnya perkembangan investasi digital, literasi keuangan menjadi kunci penting bagi generasi muda agar tidak sekadar mengikuti tren.
Hal inilah yang mendorong PINTU bersama Otoritas Jasa Keuangan dan Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk berkolaborasi memperkuat edukasi finansial di kalangan mahasiswa.
Melalui program “Pintu Goes to Campus” bertema Financial Literacy, kegiatan ini digelar di Bale Sawala, Unpad Jatinangor, Bandung, dan dihadiri lebih dari 200 mahasiswa.
Acara ini juga menjadi wadah diskusi terbuka antara akademisi, regulator, dan pelaku industri untuk membahas pentingnya pemahaman keuangan, termasuk investasi aset kripto.
Rektor Unpad, Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, menekankan bahwa literasi keuangan kini menjadi kebutuhan dasar di era modern.
Menurutnya, banyaknya produk keuangan yang tersedia saat ini harus diimbangi dengan pemahaman yang baik agar tidak menimbulkan masalah di masa depan.
“Memang kelihatannya mengenai literasi keuangan, bahkan sekarang literasi crypto dan juga investasi, ini merupakan hal yang sangat penting yang harus kita pahami bersama. Karena kita tahu sekarang begitu banyaknya produk keuangan, begitu banyaknya masalah-masalah keuangan yang kalau kita tidak pelajari secara baik, kalau kita tidak kenal, maka ini akan menyebabkan hal-hal yang menjadi permasalahan di masa yang akan datang”, ungkap Arief.
Edukasi Crypto: Antara Peluang dan Tantangan
Dari sisi regulator, Djoko Kurnijanto menyoroti adanya kesenjangan antara literasi dan inklusi dalam investasi kripto. Banyak masyarakat yang sudah berinvestasi, namun belum sepenuhnya memahami risiko dan mekanismenya.
“Jadi kita menemui dua kondisi ya. Di satu sisi memang investasi atau masalah financial literacy ini satu masalah tersendiri. Namun ketika didalami, ada tantangan lagi terkait dengan aset crypto di mana masih terjadi gap antara literasi dengan inklusi. Inilah yang kemudian membuat kami terus melakukan langkah-langkah bagaimana caranya supaya masyarakat yang melakukan investasi crypto ini tidak sekadar ikut-ikutan”.
Ia juga mengingatkan pentingnya prinsip “2L” dalam berinvestasi, yaitu Legal dan Logis. Artinya, masyarakat harus memastikan platform investasi yang digunakan telah terdaftar dan diawasi oleh OJK, serta tidak mudah tergiur dengan iming-iming keuntungan instan.
Pendekatan ini dinilai sangat relevan, terutama di tengah maraknya investasi digital yang semakin mudah diakses oleh siapa saja.
Adopsi Crypto Tinggi, Tapi Literasi Masih Tertinggal
Chief Marketing Officer PINTU, Timothius Martin, mengungkapkan bahwa adopsi aset kripto terus meningkat, baik secara global maupun di Indonesia.
Saat ini, jumlah investor kripto di Indonesia telah mencapai lebih dari 21 juta orang, bahkan melampaui jumlah investor saham.
“Dari sisi adopsi secara global itu ada sekitar 700 juta orang yang sudah trading atau investasi crypto. Sekitar 1 banding 15. Artinya dari setiap 15 orang di dunia satu orang sudah pernah trading atau investasi crypto. Di Indonesia saat ini angka adopsi sekitar 21 juta orang, lebih besar dari investor saham. Jadi memang masalahnya itu bukan adopsinya, yang menjadi tantangan adalah literasi dan edukasinya”, ujar Timo.
Secara global, tren ini juga semakin kuat. Data dari World Economic Forum menunjukkan sekitar 42% investor Gen Z telah memiliki aset kripto.
Meski demikian, tingginya angka adopsi belum diimbangi dengan pemahaman yang memadai. Inilah yang menjadi tantangan utama bagi industri dan regulator untuk terus meningkatkan literasi.
“Untuk itu, PINTU bekerja sama dengan OJK, Universitas, dan Investortrust, menggelar acara edukasi dan literasi ke kampus-kampus, tujuannya untuk bersama-sama memberikan edukasi tentang aset crypto khususnya kepada generasi muda masa depan yakni teman-teman mahasiswa agar dapat memiliki pemahaman yang matang sebelum mulai berinvestasi”, pungkas Timo.
Melalui kolaborasi antara PINTU, OJK, dan Unpad, diharapkan tercipta ekosistem investasi yang lebih sehat dan berkelanjutan. Program edukasi seperti ini menjadi langkah nyata untuk membekali generasi muda dengan pengetahuan yang tepat sebelum terjun ke dunia investasi.
Tak hanya seminar, kegiatan ini juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada delapan mahasiswa berprestasi sebagai bentuk apresiasi dan motivasi.
Dengan pemahaman yang kuat tentang risiko, peluang, serta prinsip dasar investasi, mahasiswa dapat membangun masa depan finansial yang lebih stabil.
Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa edukasi adalah fondasi utama dalam menghadapi transformasi digital di sektor keuangan.
Scr/Mashable

















