Kabar kurang menyenangkan datang dari realme. Di tengah proses merger realme dengan OPPO, perusahaan dikabarkan mulai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawan di India.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari restrukturisasi internal setelah realme resmi kembali berada di bawah payung OPPO.
Sejak pertama kali berdiri pada 2018, realme memang dikenal sebagai brand yang “lahir” dari ekosistem OPPO.
Meski begitu, realme selama ini selalu menegaskan diri sebagai merek independen, lengkap dengan tim riset dan pengembangan (R&D), strategi pemasaran, hingga jaringan layanan purna jual sendiri.
Bahkan, pada periode tertentu, pengguna sempat merasakan pengalaman software yang relatif seragam antara OPPO, realme, dan OnePlus.
Namun situasi tersebut kini berubah. Laporan terbaru menyebutkan bahwa OPPO dan realme telah menyepakati merger, yang secara otomatis membuat realme kembali sepenuhnya berada di bawah struktur induk OPPO.
Meski nama dan identitas merek realme tetap dipertahankan di pasar, perubahan besar justru dirasakan oleh internal perusahaan terutama para karyawannya.
PHK Terjadi karena Duplikasi Fungsi dengan OPPO
Dilansir dari 91mobiles (03/02/26), sumber laporan menyebutkan bahwa PHK realme di India terutama menyasar divisi pemasaran dan layanan purna jual. Alasannya cukup jelas: setelah merger berjalan, jaringan marketing dan service center realme akan digabungkan dengan milik OPPO.
Dengan OPPO yang sudah memiliki infrastruktur pemasaran dan pusat layanan jauh lebih luas di India, realme dianggap tidak lagi membutuhkan jumlah karyawan sebesar sebelumnya. Kondisi inilah yang memicu pemangkasan tenaga kerja secara signifikan.
Meski tidak disebutkan angka pasti jumlah karyawan yang terdampak, laporan menyebutkan bahwa skala PHK cukup besar dan menjadi salah satu langkah efisiensi paling agresif realme sejak berdiri.
Dampak Merger bagi Pengguna realme
Di sisi lain, merger ini justru diprediksi membawa dampak positif bagi pengguna realme. Dengan bergabungnya sistem operasional realme ke dalam OPPO, beberapa keuntungan yang berpotensi dirasakan konsumen antara lain:
- Akses service center lebih luas, karena OPPO memiliki jaringan layanan yang jauh lebih banyak di berbagai wilayah.
- Dukungan software yang lebih stabil, mengingat OPPO memiliki sumber daya R&D yang lebih besar.
- Optimalisasi pengembangan ColorOS, yang kemungkinan akan semakin terintegrasi dengan realme UI.
Meski demikian, masih ada tanda tanya besar soal identitas realme ke depan. Selama ini, realme dikenal sebagai brand yang agresif di segmen harga menengah dengan pendekatan “value for money”. Tantangannya adalah menjaga karakter tersebut agar tidak larut sepenuhnya dalam strategi OPPO yang lebih premium.
realme Tetap Ada, Tapi dengan Wajah Baru
Pihak internal menegaskan bahwa realme tidak akan menghilang sebagai merek. Brand ini tetap akan meluncurkan smartphone, tablet, dan perangkat AIoT seperti biasa. Namun, cara kerja di balik layar jelas akan berbeda.
Dengan OPPO mengambil alih banyak fungsi penting, realme diperkirakan akan lebih fokus pada strategi produk dan positioning pasar, pengembangan desain dan fitur dan optimalisasi harga di segmen anak muda.
Sementara urusan teknis seperti layanan purna jual, distribusi, dan dukungan sistem akan semakin terpusat di OPPO.
Scr/Mashable


















