AC Milan menutup bursa transfer musim panas 2026 dengan catatan yang terlihat bertolak belakang, tetapi justru menjelaskan arah baru klub. Rossoneri menjadi tim Serie A dengan belanja terbesar sekaligus penghasil pemasukan tertinggi dari penjualan pemain sepanjang jendela musim panas.
Data Transfermarkt mencatat AC Milan mengeluarkan €165,05 juta untuk perekrutan dan memperoleh €87 juta dari penjualan. Angka tersebut menghasilkan net spend kasar sekitar €78,05 juta, menempatkan AC Milan sebagai klub agresif yang tetap berusaha mengimbangi pengeluaran melalui penjualan.
Rafael Leao menjadi transaksi keluar terbesar AC Milan setelah Galatasaray membayar biaya tetap €38 juta dan menyepakati klausul 20 persen keuntungan penjualan berikutnya. Kepergian winger Portugal itu menjadi simbol paling jelas bahwa AC Milan berani melepas pemain utama demi merombak skuad Ruben Amorim.
Leao meninggalkan San Siro setelah tujuh tahun, 291 pertandingan, 80 gol, dan 65 assist dalam seluruh kompetisi. Ia juga menjadi bagian penting ketika AC Milan merebut Scudetto 2021/2022 serta Supercoppa Italiana 2024/2025 sebelum akhirnya memilih melanjutkan karier di Turki.
Selain Leao, AC Milan memperoleh sekitar €18 juta dari kepindahan Alex Jimenez ke Bournemouth dan €12 juta dari transfer Alvaro Morata ke Como. Kombinasi beberapa transaksi itu membantu AC Milan mencapai €87 juta dan mengungguli Bologna hanya dengan selisih sekitar €400 ribu.
AC Milan Paling Boros Sekaligus Raja Penjualan
Yang membuat posisi AC Milan semakin menarik adalah besarnya investasi yang dilakukan pada saat bersamaan. Football Italia mencatat dua pembelian termahal Serie A musim panas ini berasal dari AC Milan, yakni Gonçalo Ramos senilai €74 juta dan Diego Moreira dengan paket €65 juta.
Dengan kata lain, AC Milan tidak menjalankan strategi menjual aset demi mengurangi ambisi olahraga, melainkan memutar skuad dengan kecepatan tinggi. Model tersebut menunjukkan keberanian mengambil risiko karena sebagian pemain lama dilepas ketika klub juga membayar premium untuk membangun struktur yang sesuai dengan Amorim.
Bologna berada sangat dekat di posisi kedua dengan pemasukan €86,6 juta, hanya sedikit di bawah AC Milan. Rossoblu menghasilkan dana besar setelah menjual Santiago Castro ke Roma, Jhon Lucumi ke Juventus, serta meminjamkan Jonathan Rowe ke Atalanta dengan kewajiban pembelian.
Roma membayar sekitar €36 juta untuk Castro, sementara Juventus mengeluarkan sekitar €20 juta untuk Lucumi yang kemudian menandatangani kontrak hingga 2030. Rowe menghasilkan biaya pinjaman awal €5 juta, sedangkan kewajiban tambahan €35 juta baru dihitung pada periode transfer 2027/2028.
Kasus Rowe memperlihatkan mengapa angka pendapatan transfer harus dibaca hati-hati karena tidak seluruh nilai kesepakatan masuk pada tahun yang sama. Bologna secara ekonomis memiliki potensi pemasukan lebih besar, tetapi pencatatan Transfermarkt mengikuti struktur pembayaran aktual berdasarkan musim transaksi.
Parma menempati urutan ketiga dengan €77,2 juta setelah melepas beberapa aset terbaiknya ke klub lain. Zion Suzuki bergabung dengan Aston Villa sekitar €30 juta, Mateo Pellegrino menuju Fiorentina €22,5 juta, sedangkan Alessandro Circati dibeli Benfica sekitar €18 juta.
Bagi Parma, angka tersebut menunjukkan kemampuan klub mengubah perkembangan pemain menjadi modal finansial tanpa berada di kelompok elite. Namun tantangannya berbeda dibanding AC Milan karena menjual beberapa starter sekaligus berpotensi memengaruhi kualitas tim apabila penggantinya tidak mampu beradaptasi dengan cepat.
Atalanta berada di peringkat keempat dengan pemasukan €72,5 juta, dipimpin transfer Marco Palestra ke Chelsea yang bernilai sekitar €60 juta termasuk bonus. Pemain internasional Italia itu menjadi penjualan Serie A termahal musim panas ini berdasarkan nilai paket keseluruhan.
Atalanta juga melakukan transaksi besar dengan Chelsea untuk Honest Ahanor yang dilaporkan bernilai sekitar €48 juta. Namun nilai itu belum masuk penghitungan 2026 karena sang pemain menjalani musim bersama Crystal Palace dan baru bergabung dengan Chelsea setelah kampanye berakhir.
Situasi tersebut sekali lagi menunjukkan bahwa ranking pemasukan tidak selalu mencerminkan seluruh nilai ekonomi yang sudah disepakati klub. Jika pembayaran masa depan dimasukkan sekaligus, posisi beberapa klub termasuk Bologna dan Atalanta bisa terlihat jauh berbeda dari tabel musim panas 2026.
Ranking Pendapatan Transfer Serie A 2026
Napoli berada di posisi kelima dengan €54,5 juta, diikuti Sassuolo €43,5 juta, Lazio €40 juta, Genoa €38 juta, serta Udinese €36,1 juta. Inter Milan melengkapi sepuluh besar dengan pemasukan €33,5 juta dari aktivitas keluar pemain.
Di bawah Inter terdapat Venezia dengan €31,7 juta dan Fiorentina €27,4 juta, kemudian Juventus hanya membukukan €26,5 juta. Torino mencatat €22,54 juta, Roma €20,8 juta, Como €20,4 juta, sedangkan Cagliari menghasilkan €14,5 juta.
Tiga posisi terakhir ditempati Lecce dengan €4,3 juta, Monza €1,3 juta, dan Frosinone €400 ribu, sementara angka klub lain berada di antara kelompok tersebut. Rentang yang sangat lebar memperlihatkan perbedaan kapasitas perdagangan pemain di antara 20 peserta Serie A.
Secara lengkap, urutannya adalah AC Milan €87 juta, Bologna €86,6 juta, Parma €77,2 juta, Atalanta €72,5 juta, Napoli €54,5 juta, Sassuolo €43,5 juta, Lazio €40 juta, Genoa €38 juta, Udinese €36,1 juta, dan Inter €33,5 juta.
Posisi berikutnya ditempati Venezia €31,7 juta, Fiorentina €27,4 juta, Juventus €26,5 juta, Torino €22,54 juta, Roma €20,8 juta, Como €20,4 juta, Cagliari €14,5 juta, Lecce €4,3 juta, Monza €1,3 juta, serta Frosinone €400 ribu.
AC Milan dan Juventus Punya Model Bursa Berbeda
Perbandingan antara AC Milan dan Juventus menjadi salah satu bagian paling menarik dari data tersebut. Juventus membelanjakan €164,35 juta, hanya €700 ribu di bawah AC Milan, tetapi pendapatan penjualannya cuma €26,5 juta sehingga net spend kasarnya mencapai sekitar €137,85 juta.
Angka itu hampir €60 juta lebih besar dibanding net spend AC Milan yang sekitar €78,05 juta berdasarkan data sama. Perbedaan tersebut bukan otomatis berarti strategi AC Milan lebih baik, tetapi menunjukkan Juventus menanggung investasi bersih yang jauh lebih besar untuk memperbarui skuad Luciano Spalletti.
Fiorentina bahkan mengeluarkan €150,3 juta sambil mendapatkan €27,4 juta, menghasilkan net spend kasar sekitar €122,9 juta. Roma membelanjakan €124,2 juta dan memperoleh €20,8 juta, sehingga investasi bersih mereka berada sedikit di atas €103 juta.
Inter mengeluarkan €101 juta dan menerima €33,5 juta, membuat net spend kasarnya sekitar €67,5 juta. Napoli berada pada situasi berbeda karena angka belanja €71,2 juta sebagian besar berasal dari kewajiban transfer pinjaman lama yang menjadi permanen pada musim panas ini.
Karena itu, menyebut AC Milan sebagai klub paling boros tanpa melihat pemasukan akan menghasilkan gambaran yang tidak lengkap. AC Milan memang berada di puncak belanja, tetapi kemampuan menghasilkan €87 juta membuat beban bersihnya lebih rendah dibanding Juventus, Fiorentina, dan Roma.
Strategi tersebut juga memperlihatkan perubahan pendekatan terhadap pemain yang tidak lagi dianggap sentral oleh Amorim. Kepergian Leao menjadi contoh paling besar karena AC Milan menerima biaya tetap yang lebih rendah dibanding beberapa valuasi sebelumnya, tetapi sekaligus membuka ruang taktik dan finansial.
Galatasaray secara resmi menyatakan membayar €38 juta tetap kepada AC Milan serta memberikan 20 persen dari keuntungan penjualan berikutnya. Struktur tersebut memberi AC Milan peluang memperoleh tambahan nilai di masa depan apabila Leao kembali dijual dengan harga lebih tinggi oleh klub Turki.
Dari sisi pasar, Marco Palestra justru menjadi pemain Serie A dengan nilai penjualan tertinggi musim panas ini, mencapai €60 juta termasuk bonus. Setelahnya terdapat Jonathan Rowe €40 juta, Tarik Muharemovic €40 juta, Leao €38 juta plus bonus, serta Santiago Castro sekitar €35 juta plus bonus.
Daftar tersebut memperlihatkan bahwa pemasukan besar Serie A tidak hanya datang dari pemain berstatus superstar. Klub seperti Bologna, Sassuolo, Parma, dan Atalanta mampu menciptakan nilai tinggi dari pemain yang dikembangkan, lalu menjualnya ketika permintaan dan harga pasar berada di titik optimal.
AC Milan Bertaruh pada Revolusi Ruben Amorim
AC Milan berada pada model yang sedikit berbeda karena mereka menjual satu ikon besar sekaligus beberapa pemain lain sambil membeli dua pemain termahal di Italia. Risiko strategi itu jelas, sebab tekanan keberhasilan terhadap Ramos dan Moreira otomatis menjadi lebih besar setelah klub membayar mahal.
Jika rekrutan baru langsung meningkatkan performa, bursa AC Milan dapat dinilai sebagai restrukturisasi agresif yang berhasil menjaga keseimbangan finansial. Namun jika pemain mahal kesulitan beradaptasi, pendapatan €87 juta tidak akan cukup menghapus pertanyaan mengapa klub melepas sejumlah aset penting.
Bursa transfer juga memperlihatkan bahwa Serie A semakin bergantung kepada kemampuan menjual pemain ke pasar yang mempunyai daya beli lebih besar. Chelsea, Galatasaray, Aston Villa, Benfica, dan klub Premier League lain menjadi sumber pemasukan besar bagi beberapa tim Italia musim panas ini.
Namun penjualan besar tidak selalu identik dengan pelemahan apabila dana diputar secara tepat dan struktur skuad justru membaik. AC Milan mencoba membuktikan konsep tersebut dengan menjual pemain senilai €87 juta sambil melakukan investasi €165,05 juta untuk proyek baru Amorim.
Pada akhirnya, titel “raja penjualan Serie A” memang menjadi milik AC Milan dengan keunggulan sangat tipis atas Bologna. Tetapi cerita yang lebih penting berada di balik angka tersebut: AC Milan menjalani salah satu perombakan skuad paling agresif di Italia sambil berusaha menjaga investasi bersih tetap terkendali.
Keberhasilan strategi itu baru bisa dinilai setelah musim berjalan karena pasar transfer hanya menyediakan bahan, bukan jaminan prestasi. Jika AC Milan kembali bersaing untuk Scudetto, kombinasi penjualan €87 juta dan belanja €165,05 juta akan terlihat sebagai pertaruhan besar yang dibayar dengan tepat.
Scr/Mashable















