Apa Kabar Mesin Gol AC Milan Andriy Shevchenko?

14.07.2026
Apa Kabar Mesin Gol AC Milan Andriy Shevchenko?
Apa Kabar Mesin Gol AC Milan Andriy Shevchenko?

Andriy Shevchenko tidak lagi berdiri di kotak penalti untuk menunggu umpan atau mencetak gol kemenangan. Legenda AC Milan tersebut kini bekerja di balik meja sebagai pemimpin tertinggi sepak bola Ukraina.

Pada usia 49 tahun, Shevchenko menjabat Presiden Asosiasi Sepak Bola Ukraina atau UAF. Tugasnya mencakup pengelolaan tim nasional, pembinaan pemain, hubungan internasional, hingga menjaga sepak bola tetap berjalan di tengah perang.

Kehidupannya sekarang jauh berbeda dibandingkan masa kejayaan di San Siro. Shevchenko tidak lagi dinilai dari jumlah gol, melainkan dari keputusan, keberanian bersikap, dan kemampuannya menentukan masa depan sepak bola negaranya.

Kegiatan terbarunya menunjukkan bahwa perannya juga tidak terbatas pada lapangan. Selain merombak tim nasional, ia menemui tentara yang terluka dan memperjuangkan sikap Ukraina dalam forum sepak bola internasional.

Shevchenko memimpin UAF sejak Januari 2024 setelah sebelumnya menjalani karier sebagai pemain, pelatih, dan administrator olahraga. Jabatan tersebut menempatkannya sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam sepak bola Ukraina.

Sebagai presiden federasi, ia tidak menentukan susunan pemain secara langsung. Namun, Shevchenko bertanggung jawab memilih arah tim nasional, mengevaluasi pelatih, mengembangkan kompetisi, dan menjaga hubungan dengan FIFA serta UEFA.

Pengalaman panjangnya menjadi modal penting. Ia pernah bermain di Ukraina, Italia, dan Inggris, kemudian menangani tim nasional sebelum menjalani periode singkat sebagai pelatih Genoa.

Shevchenko juga memahami tekanan yang dihadapi pemain. Ia pernah membawa Ukraina mencapai perempat final Piala Dunia 2006 sebagai kapten, lalu mengantarkan negaranya ke perempat final Euro 2020 ketika menjadi pelatih.

Perjalanan tersebut membuat Shevchenko memahami sepak bola dari tiga sudut berbeda. Ia pernah menjadi pemain utama, pemimpin ruang ganti, pelatih, dan kini pengambil keputusan di tingkat federasi.

Tantangan terbesar Shevchenko pada 2026 adalah membangun kembali tim nasional Ukraina. Perubahan dilakukan setelah Ukraina gagal lolos ke Piala Dunia menyusul kekalahan 1-3 dari Swedia pada semifinal playoff kualifikasi.

Serhiy Rebrov kemudian meninggalkan posisi pelatih pada April 2026. Meski tidak lagi menangani tim senior, mantan penyerang Dynamo Kyiv dan Tottenham Hotspur itu tetap terlibat dalam struktur UAF dengan peran berbeda.

Shevchenko menegaskan Ukraina harus bergerak maju dan mengambil keputusan baru sebagai dasar pembentukan tim masa depan. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kegagalan lolos tidak ingin ditutupi dengan alasan atau nostalgia.

Menurut laporan Reuters, Shevchenko kemudian menunjuk Andrea Maldera sebagai pelatih baru pada 18 Mei 2026. Pelatih berusia 55 tahun itu menjadi orang asing pertama yang memimpin tim nasional senior Ukraina.

Maldera bukan sosok baru bagi Shevchenko. Ia pernah menjadi bagian dari staf teknis timnas selama lima tahun ketika Shevchenko masih menjabat pelatih kepala.

Setelah meninggalkan Ukraina, Maldera bekerja sebagai asisten Roberto De Zerbi di Brighton & Hove Albion dan Olympique Marseille. Pengalaman tersebut membuatnya dinilai semakin siap menjalankan tugas sebagai pelatih utama.

Shevchenko menggambarkan Maldera sebagai orang Italia yang memiliki jiwa Ukraina. Baginya, pemahaman terhadap lingkungan timnas sama pentingnya dengan pengalaman bekerja di klub besar.

Penunjukan tersebut juga mempertemukan dua bagian penting dalam kehidupan Shevchenko. Ukraina merupakan tanah kelahirannya, sedangkan Italia menjadi tempat namanya tumbuh menjadi salah satu penyerang terbaik dunia.

Untuk sementara, Shevchenko tidak terlihat ingin kembali menjadi pelatih klub. Fokus utamanya berada pada UAF dan pembangunan struktur sepak bola Ukraina.

Pekerjaan terakhirnya sebagai pelatih klub terjadi bersama Genoa pada musim 2021/2022. Masa kerjanya hanya berlangsung sekitar dua bulan setelah mencatat satu kemenangan dan tujuh kekalahan.

Hasil tersebut menjadi salah satu periode paling sulit dalam perjalanan Shevchenko setelah pensiun. Namun, kegagalan di Genoa tidak membuatnya menjauh dari sepak bola.

Ia justru memilih jalur berbeda dengan menjadi administrator. Dalam posisi sekarang, Shevchenko dapat memberikan pengaruh lebih besar daripada sekadar mengelola satu tim.

Peran Shevchenko sebagai pemimpin sepak bola juga terlihat dalam kegiatan sosialnya. Pada 7 Juni 2026, ia menemui prajurit Ukraina yang menjalani pengobatan dan rehabilitasi di Kopenhagen.

Dilansir situs resmi UAF, Shevchenko datang bersama jajaran federasi, Duta Besar Ukraina untuk Denmark Andriy Yanovskyi, serta Wali Kota Odense Peter Rahbæk Juel.

Pertemuan berlangsung menjelang pertandingan persahabatan antara Denmark dan Ukraina di Odense. Lebih dari 25 anggota militer menghadiri kegiatan tersebut, termasuk beberapa orang yang datang bersama istri dan anak-anak.

Para prajurit berasal dari sejumlah wilayah dan medan pertempuran, termasuk Kharkiv, Zaporizhzhia, Bakhmut, Kherson, dan Kupyansk. Sebagian besar mengalami luka berat ketika bertugas.

Salah satu peserta adalah Andriy “Bezhemotik” Pupyshev. Ia mengalami luka bakar pada wajah dan gangguan penglihatan akibat ledakan ketika bertempur di Bakhmut, sebelum menjalani rehabilitasi di Kopenhagen.

Prajurit lain bernama Igor Khomenko kehilangan satu kaki dan jari telunjuk kirinya setelah bunker tempatnya bertugas terkena serangan bom tandan pada April 2025. Ia sempat koma selama dua hari sebelum menjalani amputasi.

Khomenko sebelumnya bertugas di infanteri dan kemudian menjadi pilot drone untuk unit pengintaian udara. Ia telah menjalani rehabilitasi di Denmark selama sekitar satu tahun.

UAF memberikan tiket pertandingan kepada seluruh peserta pertemuan. Bagi mereka, kesempatan menonton tim nasional menjadi jalan untuk keluar sejenak dari lingkungan rumah sakit dan kembali merasakan hubungan dengan tanah air.

UAF di bawah kepemimpinan Shevchenko juga menggunakan fasilitas sepak bola untuk membantu masyarakat. House of Football di Kyiv pernah menyediakan tempat menginap dan fasilitas mandi ketika serangan mengganggu pasokan listrik serta air.

Federasi turut membuka ruang bermain bagi anak-anak ketika cuaca sangat dingin dan kondisi di luar tidak memungkinkan. Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa fasilitas olahraga dapat mempunyai fungsi lebih luas dalam keadaan darurat.

Shevchenko kini memandang sepak bola bukan hanya sebagai kompetisi. Olahraga juga dapat menjadi ruang perlindungan, hiburan, dan penghubung masyarakat dengan identitas negaranya.

Shevchenko juga aktif dalam diplomasi sepak bola. Ia mengambil sikap tegas terhadap wacana mengizinkan Rusia kembali mengikuti kompetisi FIFA dan UEFA.

Dilansir The Guardian, Shevchenko berencana menemui Presiden FIFA Gianni Infantino di sela Kongres UEFA di Brussels pada Februari 2026. Ia ingin menyampaikan langsung kondisi perang dan posisi resmi Ukraina.

Wacana tersebut muncul setelah Infantino mengatakan larangan terhadap Rusia perlu dipertimbangkan kembali. Pernyataan itu memicu kekhawatiran karena dinilai dapat membuat situasi perang terlihat mulai normal.

Sikap Shevchenko dan UAF tetap konsisten. Selama kondisi tidak berubah, mereka menilai belum ada alasan untuk membuka kembali jalan bagi klub maupun tim nasional Rusia.

Rusia masih menjadi anggota FIFA dan UEFA, tetapi dikeluarkan dari kompetisi karena banyak calon lawan menolak bertanding. Dalam praktiknya, kepulangan mereka juga akan sulit diwujudkan tanpa persetujuan negara peserta lain.

Sebagai pemain, Shevchenko dikenal memiliki ketenangan di depan gawang. Ia mencetak 175 gol untuk AC Milan dan menjadi pencetak gol terbanyak kedua sepanjang sejarah klub di belakang Gunnar Nordahl.

Shevchenko juga memenangi Liga Champions 2003, Scudetto 2003/2004, dan Ballon d’Or 2004. Untuk timnas Ukraina, ia mencetak 48 gol dalam 111 penampilan.

Namun, kemampuan yang dibutuhkan dalam pekerjaannya sekarang sangat berbeda. Ia harus bernegosiasi, memilih orang yang tepat, menjaga hubungan internasional, dan mengambil keputusan dalam keadaan penuh tekanan.

Jika dahulu ia hanya perlu membaca pergerakan bek lawan, kini Shevchenko harus membaca situasi politik, kondisi keuangan, kepentingan klub, serta kebutuhan masyarakat sepak bola Ukraina.

Perubahannya cukup besar, tetapi karakter dasarnya tetap sama. Shevchenko masih bekerja untuk membawa Ukraina mencapai posisi yang lebih baik, hanya melalui cara dan lapangan yang berbeda.

Scr/Mashable





Don't Miss