Keputusan Presiden Prabowo Subianto mencopot Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada Selasa (2/6/2026) malam membuka kembali memori publik. Jauh sebelum diberhentikan karena masalah tata kelola dan kualitas makanan, Dadan sempat memicu kegaduhan nasional lewat pernyataan kontroversialnya yang menyebut pemain Timnas Indonesia kurang gizi sejak kecil.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pencopotan ini merupakan hasil monitoring dan evaluasi ketat selama 1,5 tahun. Dadan dinilai tidak disiplin dalam menjalankan Standard Operating Procedure (SOP), tata kelola administrasi, hingga gagal menjaga kualitas makanan yang disajikan ke masyarakat.
Namun, bagi pencinta sepak bola tanah air, nama Dadan Hindayana akan selalu diingat lewat polemik “gizi buruk” skuad Garuda yang ia lontarkan setahun lalu.
Sindir Pemain Lokal, Puji Produk Belanda
Kontroversi tersebut bermula pasca Timnas Indonesia menelan kekalahan telak 1-5 dari Australia pada laga putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia di Sydney, 20 Maret 2025. Dua hari berselang, dalam sebuah acara di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Dadan mengaitkan kekalahan tersebut dengan kualitas gizi para pemain lokal.
“Jadi jangan heran kalau PSSI itu sulit menang karena main 90 menit berat. Kenapa? Karena gizinya tidak bagus dan banyak pemain bola lahir dari kampung,” ujar Dadan pada Sabtu (22/3/2025).
Ia menilai, fisik pemain lokal sulit bersaing di level internasional karena mengalami kekurangan gizi sejak masa kanak-kanak akibat latar belakang ekonomi. Dadan kemudian membandingkannya dengan para pemain naturalisasi di skuad PSSI yang menurutnya punya kualitas fisik lebih baik karena tumbuh di Eropa.
“Nah sekarang PSSI sudah agak baik, karena 17 pemainnya merupakan produk makan bergizi di negeri Belanda,” tambahnya. Tak hanya itu, ia juga memuji Jepang yang disebutnya memiliki IQ rata-rata tertinggi di dunia karena telah menjalankan program makan bergizi selama 100 tahun.
Disemprot DPR: “Jangan Lebay dan Kebanyakan Gimmick”
Pernyataan Dadan langsung memantik reaksi keras dari parlemen. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, langsung menyemprot Dadan dan menyebut komentarnya sangat berlebihan atau “lebay”.
“Kepala BGN jangan terlalu lebay menyangkutpautkan PSSI dengan makanan bergizi. Apalagi menyampaikan statement bahwa pemain Indonesia kurang makan bergizi,” tegas Lalu Ari dalam keterangan tertulisnya kala itu (24/3/2025).
Politisi Fraksi PKB ini mengingatkan Dadan agar tidak sibuk membuat pernyataan gimmick yang bukan merupakan ranah kerjanya. DPR meminta BGN fokus membenahi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat itu justru sedang dihujani banyak keluhan dan kekurangan di lapangan.
“Fokus urus pelaksanaan makan bergizi gratis saja. Laksanakan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto,” kritik Lalu Ari setahun lalu—sebuah peringatan yang kini terbukti menjadi bumerang bagi karier Dadan.
Akhir Perjalanan Dadan, Nanik S. Deyang Naik Takhta
Dadan Hindayana sebenarnya merupakan pejabat pertama yang merintis BGN setelah dilantik oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, pada 19 Agustus 2024. Namun, rapor merah dalam menjaga kualitas makanan dan kepatuhan SOP membuat Presiden Prabowo mengambil tindakan tegas dengan memberhentikannya.
Sebagai langkah cepat untuk menyelamatkan program strategis nasional ini, Presiden Prabowo resmi menunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN yang baru. Nanik sebelumnya merupakan Wakil Kepala BGN pendamping Dadan.
Dalam nakhoda baru ini, Nanik akan dibantu oleh dua Wakil Kepala BGN yang baru dilantik, yaitu Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono, untuk membenahi sengkarut tata kelola gizi nasional yang ditinggalkan Dadan.
Scr/Mashable
















