Tak banyak pesepak bola di kawasan Asia Tenggara yang memiliki reputasi se-menakutkan Bambang Pamungkas di depan gawang lawan. Penyerang legendaris Indonesia ini adalah sosok yang mengakhiri turnamen ASEAN Championship 2002—yang kini dikenal sebagai ASEAN Hyundai Cup™—sebagai pencetak gol terbanyak.
Namun, di balik ketajamannya yang luar biasa yang kerap mengoyak jala gawang musuh, sang striker harus menerima kenyataan pahit. Ia gagal membawa Indonesia merengkuh trofi regional pertamanya setelah mengalami patah hati di partai final tahun 2000, 2002, dan 2010.
Skuad Merah Putih berkali-kali harus puas hanya menjadi saksi kemenangan tim lain dari podium kedua.
Melejit Sejak Usia Muda
Nama Bambang Pamungkas pertama kali mencuat saat ia masih remaja ketika membela Persija Jakarta. Sebelumnya, ia sempat menimba ilmu di Belanda untuk mengasah kemampuannya, sebuah pengalaman yang membuatnya tampil menonjol dan berbeda dibanding para pemain seangkatannya di tanah air.
Meski postur tubuhnya tidak terlalu tinggi untuk ukuran seorang penyerang, Bambang sangat terkenal dengan keunggulan duel udara, kemampuan sundulan yang mematikan, serta refleks secepat kilat di dalam kotak penalti. Ketajaman inilah yang membawanya menembus skuad utama Tim Nasional Indonesia pada usia yang masih sangat muda, yakni 19 tahun.
Ia menjadi bagian dari kerangka tim Indonesia di ajang ASEAN Championship 2000, serta turut berkompetisi di putaran final Piala Asia AFC pada tahun yang sama. Namun, panggung Asia Tenggara di tahun 2002 menjadi momen di mana sang penyerang benar-benar berada di puncak performanya.
Mengamuk di Piala ASEAN 2002
Indonesia membawa luka mendalam dari edisi sebelumnya setelah tim asuhan Ivan Kolev dihajar musuh bebuyutan mereka, Thailand, dengan skor telak 4-1 di partai final.
Ketika Peter Withe—pelatih yang membawa Thailand juara dua tahun sebelumnya—beralih menakhodai Indonesia, skuad Garuda datang dengan misi balas dendam yang membara. Setelah bermain imbang di laga pembuka melawan Myanmar, hat-trick dari Bambang Pamungkas sukses mengunci kemenangan 4-2 atas Kamboja.
Tren positif berlanjut. Usai hasil imbang 2-2 kontra Vietnam, Bambang kembali mengamuk di lapangan.
Kali ini, ia memborong empat gol dalam kemenangan telak 13-1 atas Filipina, sekaligus mengamankan posisi runner-up grup di bawah Vietnam.
Ketajaman Bambang belum habis. Di babak semifinal, ia menjadi pahlawan tunggal dengan mencetak gol semata wayang yang menyingkirkan rival abadi, Malaysia, dengan skor 1-0. Kemenangan ini sekaligus memastikan terjadinya laga ulangan final tahun 2000 melawan Thailand.
“Bermain dan mencetak gol untuk negara yang kita cintai akan selalu menjadi hal yang paling membanggakan,” tulis Bambang di situs resminya kala itu.
“Namun, semua rekor itu tidak ada artinya tanpa sebuah trofi yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia.”
Patah Hati di Babak Penalti dan Kegagalan Beruntun
Sayangnya, meski telah berjuang habis-habisan, Bambang gagal mempersembahkan trofi tersebut.
Laga final yang sengit membuat Indonesia dan Thailand bermain imbang 2-2. Setelah babak perpanjangan waktu gagal memecah kebuntuan, pemenang harus ditentukan lewat drama adu penalti.
Bambang sukses menunaikan tugasnya sebagai eksekutor, namun Thailand akhirnya keluar sebagai juara dengan kemenangan penalti 4-2.
Gelar top skorer dengan torehan delapan gol dari enam pertandingan menjadi sedikit pelipur lara bagi Bambang. Namun, penghargaan individu itu terasa hambar bagi seorang pemain yang selalu menetapkan standar tinggi untuk kejayaan timnya.
Setelah absen pada edisi 2004, Bambang kembali memperkuat timnas di turnamen tahun 2007. Sayang, ia gagal mencetak gol dan Indonesia langsung tersingkir di babak penyisihan grup.
Ketajamannya kembali pulih di ASEAN Championship 2008 dengan mencetak dua gol di fase grup, meski langkah Indonesia kembali terhenti dengan menyakitkan di babak semifinal.
Harapan baru sempat membuncah pada ASEAN Championship 2010. Bambang mencetak dua gol dari titik putih saat Indonesia menumbangkan Thailand di laga terakhir fase grup.
Kemenangan itu sukses mendepak tim gajah perang dan menyegel tiket ke babak empat besar. Gelar juara yang dinanti-nanti seolah sudah berada di depan mata.
Namun, takdir berkata lain. Kekalahan agregat 4-2 dari Malaysia yang saat itu dilatih oleh K. Rajagopal kembali menghancurkan mimpi tersebut.
Bambang dan Indonesia harus pulang dengan tangan hampa.
Warisan Sang Legenda Nomor 20
Setelah satu upaya terakhir yang tidak membuahkan hasil pada tahun 2012, Bambang akhirnya memutuskan untuk memensiunkan jersei nomor 20 miliknya yang ikonik. Ia gantung sepatu tanpa pernah mempersembahkan trofi regional yang sangat diidamkan oleh seluruh pencinta sepak bola tanah air.
Meski dihantui rasa penasaran akan trofi tersebut, Bambang tetap berdiri tegak sebagai ikon abadi sepak bola Indonesia dan ASEAN. Dengan koleksi 86 caps bersama Timnas, ia tercatat sebagai pemain dengan jumlah penampilan terbanyak ketiga dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Sebagai informasi, ajang ASEAN Hyundai Cup™ yang pertama kali bergulir pada tahun 1996 dan dianggap sebagai permata mahkota sepak bola Asia Tenggara, akan merayakan hari jadinya yang ke-30 pada pertengahan tahun ini. Turnamen bergengsi ini dijadwalkan berlangsung dari 24 Juli hingga 26 Agustus.
Upacara pembukaan akan digelar di Kamboja menjelang laga perdana Grup A antara Kamboja melawan Singapura, yang juga akan dimeriahkan oleh penampilan dua bintang regional terkemuka, Putri Norodom Jenna dan Sambath Sok.
Scr/Mashable















