Rentetan Acara Hiburan ‘Aneh’ yang Warnai Final Piala Dunia 2026

20.07.2026
Rentetan Acara Hiburan 'Aneh' yang Warnai Final Piala Dunia 2026
Rentetan Acara Hiburan 'Aneh' yang Warnai Final Piala Dunia 2026

Laga final Piala Dunia 2026 di New Jersey awalnya digadang-gadang akan menjadi pesta sepak bola kasta tertinggi yang sempurna. Namun, apa yang terjadi di sekeliling pertandingan justru mencuri perhatian dengan cara yang sangat tidak biasa.

Rentetan momen di Stadion MetLife ini menyisakan kontroversi dan rasa heran, baik bagi penonton di layar kaca maupun suporter yang hadir langsung di stadion.

Sebelum peluit kick-off berbunyi, sajian musik di Stadion MetLife sudah langsung memanen kritik tajam. Penyanyi kawakan Robbie Williams tampil membuka acara dengan setelan olahraga bertabur manik-manik (sequin) biru yang berkilau.

Namun, gerakannya yang lamban di atas panggung membuat dirinya ramai diejek netizen sebagai “versi murah” dari Sir Elton John. Tak lama berselang, bintang media sosial IShowSpeed juga naik panggung.

Ia tampil singkat dengan bantuan teknologi pengoreksi suara (autotune) yang terdengar sangat kentara.

Sentuhan gaya hiburan ala Amerika Serikat (American-style entertainment) semakin menjadi-jadi ketika dokumen daftar tamu FIFA sepanjang 11 halaman bocor. Di dalamnya, terselip nama dua karakter boneka legendaris, Kermit si Katak dan Miss Piggy.

Suasana canggung kembali terjadi sesaat sebelum laga dimulai. Ketika para pemain kedua tim sudah bersiap di lorong stadion, mereka terpaksa berdiri menunggu hanya karena aktor Hollywood, Tom Cruise, belum selesai membacakan sebuah puisi yang dinilai penonton terlalu puitis dan cenderung menggelikan (cheesy).

Prosesi sakral membawa trofi ke dalam lapangan pun tidak luput dari komersialisasi tingkat tinggi. Trofi emas Piala Dunia yang sangat prestisius itu dibawa masuk oleh petenis Carlos Alcaraz di dalam koper khusus rancangan rumah mode mewah, Louis Vuitton.

Sesaat setelah itu, duo penyiar ring legendaris, Michael Buffer (dari dunia tinju) dan Bruce Buffer (dari UFC), maju bersama untuk meneriakkan jargon ikonik mereka guna memperkenalkan pertandingan.

Komersialisasi Masif dan Sorotan Kontroversial

Di sepanjang acara, komersialisasi terasa sangat pekat. Logo FIFA terpampang masif di setiap sudut stadion, mulai dari bendera hingga papan iklan digital.

Pihak panitia penyelenggara bahkan nekat memasang jajaran sofa beludru berwarna biru tepat di pinggir garis lapangan (touchline). Sofa-sofa mewah ini kabarnya dijual dengan harga fantastis mencapai jutaan dolar AS khusus untuk kaum konglomerat dan kaum jetset.

Momen menarik lainnya tertangkap kamera di tengah jalannya pertandingan. Trofi juara Piala Dunia tampak dibawa oleh seorang petugas berlapis sarung tangan putih ke hadapan Presiden AS Donald Trump.

Trump kemudian terlihat menepuk pelan trofi berlapis emas tersebut sebelum akhirnya dibawa pergi kembali.

Puncak kehebohan terjadi di awal jeda babak pertama (halftime show). Diva pop berusia 67 tahun, Madonna, muncul di atas bak sebuah truk.

Ia tidak sendiri, melainkan ditemani oleh dua legenda sepak bola Brasil, Ronaldo dan Ronaldinho. Namun, kedua legenda tersebut justru terlihat kikuk dan tampak tidak sepenuhnya nyaman mengikuti koreografi pertunjukan tersebut.

Kritik Pedas dari Pengamat dan Mantan Pemain

Meskipun panitia penyelenggara telah jorjoran mencoba menciptakan sebuah konser megah bertabur bintang dunia—mulai dari Justin Bieber hingga deretan pesohor lainnya—tidak semua pihak merasa terkesan.

Saat dimintai tanggapannya dalam siaran langsung televisi BBC setelah pertandingan usai, mantan kapten Timnas Inggris, Wayne Rooney, tanpa ragu melayangkan kritik yang sangat pedas.

“Saya menyukai beberapa artis yang tampil tadi, tapi menurut saya pertunjukan (hiburan) ini benar-benar sampah,” ujar Rooney blak-blakan.

Laga final Piala Dunia 2026 sendiri akhirnya ditutup dengan kemenangan tipis 1-0 untuk Spanyol atas Argentina. Kendati demikian, riak-riak di luar lapangan melahirkan perdebatan yang panjang.

Bagi sebagian penonton awam, ini adalah pertunjukan hiburan yang megah dan spektakuler. Namun bagi pencinta sepak bola tradisional, elemen-elemen hiburan yang berlebihan ini dinilai telah merusak nilai estetika sepak bola dan justru mereduksi kesakralan dari pertandingan paling penting di muka bumi.

Scr/Mashable





Don't Miss