Satu “Dosa Besar” Lionel Messi: Tak Pernah Cicipi Kerasnya Premier League

04.09.2026
Cetak Gol Lawan Cape Verde, Messi Tambah Rekor Baru di Piala Dunia: GOAT Sejati!
Cetak Gol Lawan Cape Verde, Messi Tambah Rekor Baru di Piala Dunia: GOAT Sejati!

Saat Lionel Messi mengumumkan gantung sepatu dari Timnas Argentina untuk memfokuskan sisa kariernya di Inter Miami, gelombang penyesalan merayap di dada para pencinta sepak bola. Dunia takkan lagi bisa menyaksikan tarian magis sang nomor 10 di panggung tertinggi.

Dari ruang hampa tersebut, muncul sebuah pertanyaan pengandaian terbesar dalam sejarah karier La Pulga: “Bagaimana jadinya jika Messi bermain di Premier League?”

Liga Inggris selalu dianggap sebagai kawah candradimuka yang mampu menyajikan ujian paling brutal dan variatif bagi sang genius asal Argentina. Kenyataannya, Messi pernah mendapat tawaran emas untuk berlabuh di Manchester City, namun ia menolaknya.

Keraguan Sir Alex Ferguson vs Klaim Hiperbola Wayne Rooney

Ada sebuah paradoks menarik dalam relasi antara Messi dan Premier League. Sir Alex Ferguson pernah secara terbuka meragukan apakah Messi mampu mendominasi sepak bola Inggris dengan mudah—sebuah kompetisi di mana pemain dituntut memiliki fisik baja, kecepatan ekstrem, dan jadwal tanding yang tak masuk akal.

Keraguan sang manajer legendaris Manchester United itu kemudian melahirkan frasa ikonis:

“Bisakah Messi bersinar di malam yang dingin dan hujan di Stoke?”

Namun, waktu membuktikan bahwa klaim tersebut sangat bisa diperdebatkan. Wayne Rooney, mantan anak asuh Ferguson yang telah menelan asam garam ratusan laga Premier League, justru melontarkan pandangan yang berbanding terbalik.

Saat membahas performa talenta muda Lamine Yamal melawan klub-klub Inggris, Rooney menyebut bahwa Premier League patut “bersyukur” karena Messi tak pernah bermain di sana.

Menurut mantan kapten Manchester United tersebut, jika Messi menginjakkan kaki di tanah Inggris pada masa puncaknya, ia akan mengubah Premier League menjadi “farmers’ league” (liga amatir yang didominasi satu pihak).

Meski ucapan Rooney kental dengan hiperbola khas mantan pemain, hal ini memicu satu pertanyaan liar: Apa yang sebenarnya akan terjadi jika Messi harus bertarung dalam 38 pekan melelahkan di Premier League?

Di La Liga, musuh abadi Messi “hanyalah” Real Madrid, di mana El Clasico selalu menjadi pusat gravitasi dunia. Saat hijrah ke PSG, ia bermain di liga yang secara kekuatan finansial timpang sebelah.

Premier League jelas berada di dimensi yang berbeda. Manchester City, Liverpool, Chelsea, Arsenal, Manchester United, hingga Tottenham Hotspur bergantian siap menciptakan perang besar setiap pekannya. Bahkan, tim-tim medioker semacam Stoke City atau Everton pada era tertentu punya kapasitas membuat seorang superstar menderita selama 90 phút penuh.

Jadi, Premier League mungkin bukan tempat pembuktian apakah Messi pemain terhebat, melainkan panggung di mana dunia ingin melihat bagaimana ia bertahan hidup.

Menghancurkan Raksasa Inggris, Namun Pernah Menelan Pil Pahit

Secara rekor, Messi sejatinya sama sekali tidak asing dengan klub-klub Inggris. Arsenal pernah menjadi samsak favoritnya, di mana ia menceploskan sembilan gol dalam enam pertemuan di Liga Champions. Manchester United juga pernah dihabisinya di dua final Liga Champions (2009 dan 2011).

Deretan pembantaian itu membuktikan satu hal: kecepatan, adu fisik, dan tekel keras khas Inggris bukanlah tembok yang terlalu tinggi bagi La Pulga. Namun, cerita berbeda terjadi saat ia bersua Chelsea.

Barcelona era Messi kerap kali dibuat frustrasi oleh Chelsea. Sistem pertahanan berlapis, pressing ketat, dan taktik membunuh ruang gerak dari The Blues sukses membuat Messi mati kutu di beberapa laga krusial, terlebih saat harus berhadapan dengan Petr Cech.

Lebih menyakitkan lagi adalah memori buruk di Anfield. Pada leg pertama semifinal Liga Champions 2018/19, Messi mencetak dua gol (termasuk tendangan bebas magis) untuk membawa Barca menang 3-0.

Tiket final seolah sudah di tangan. Namun, magis Anfield membalikkan segalanya; Liverpool menang telak 4-0 dan Messi seolah menghilang ditelan bumi di laga comeback bersejarah tersebut.

Messi memang pernah membuat raksasa-raksasa Inggris gemetar, tetapi ia juga pernah dibikin tak berdaya oleh mereka. Fakta inilah yang membuat tak ada satupun jaminan bahwa ia bakal otomatis menguasai Premier League jika memutuskan pindah.

Daya tarik sesungguhnya terletak pada ketidakpastian. Di Inggris, Messi tak hanya akan menunggu laga El Clasico. Satu pekan ia bisa saja dihajar sistem gegenpressing gila-gilaan ala Liverpool, lalu pekan berikutnya harus beradu tulang melawan tim gaya Inggris klasik di bawah guyuran hujan dan hawa dingin yang menusuk tulang.

Dunia tak akan pernah tahu apa yang bisa dilakukan Messi di usia 25 tahun dalam format 38 pekan Premier League. Mungkin ia akan merajai liga, atau mungkin pertahanan gerendel ala Chelsea, agresivitas Liverpool, dan kejutan tim-tim papan tengah akan memberinya lebih banyak rasa frustrasi daripada yang dibayangkan.

Dan karena dunia tak akan pernah menemukan jawabannya, Premier League akan selamanya menjadi teka-teki tak terpecahkan—sebuah lembar kosong yang menjadi “dosa besar” paling disesali dari perjalanan karier Lionel Messi, bukan bagi dirinya sendiri, melainkan bagi kita, para penonton setianya.

Scr/Mashable





Don't Miss