Di tengah musim mengecewakan Real Madrid, Jose Mourinho secara tak terduga muncul sebagai kandidat untuk kursi manajer di Bernabeu.
Menurut Mundo Deportivo, manajemen “Los Blancos” sangat membutuhkan seorang arsitek yang cakap untuk membangkitkan kembali tim, dan “The Special One,” sang ahli strategi yang membangkitkan semangat kompetitif di Bernabeu dari tahun 2010-2013, adalah kandidat yang kuat.
Kembalinya Mourinho dipandang sebagai ujian berat bagi kurangnya semangat juang Real Madrid saat ini. Para pendukung percaya bahwa disiplin dan otoritas yang kuat dari pelatih asal Portugal itu akan mengembalikan ketertiban di ruang ganti.
Namun, gaya kepelatihannya yang lugas dan tegas juga menuai banyak kritik, terutama dalam konteks sepak bola modern yang telah mengalami banyak perubahan baik dalam pola pikir maupun personel.
Reaksi tersebut terutama datang dari para bintang, dengan Vinicius sebagai pusatnya. Striker asal Brasil ini, sosok yang tak tergantikan di lini serang, dilaporkan tidak tertarik dengan prospek bekerja sama dengan Mourinho. Keraguan tentang kemampuannya beradaptasi dengan filosofi pragmatis Mourinho, bersamaan dengan kekhawatiran tentang suasana tegang di dalam tim, telah membuat bintang kelahiran tahun 2000 ini mempertimbangkan masa depannya dengan cermat.
Selain itu, banyak sumber menyebutkan bahwa sang bintang mengirimkan pesan tegas kepada manajemen klub: kedatangan Mourinho bisa jadi alasan kepergiannya.
Real Madrid saat ini berada di persimpangan jalan yang sulit. Memilih Mourinho berarti memilih sosok yang kuat untuk membangun kembali tim, tetapi harga yang harus dibayar bisa berupa keretakan hubungan dengan pemain kunci seperti Vinicius.
Situasi Ironis Mourinho
Jose Mourinho bisa membawa Benfica meraih musim tak terkalahkan namun tanpa trofi pada 2025/26.
Mengambil alih jabatan pada September 2025, “The Special One” membantu Benfica mempertahankan rekor tak terkalahkan dalam 30 pertandingan di Primeira Liga (Liga Utama Portugal). Rekor mereka dengan 21 kemenangan dan 9 hasil imbang, yang terbaru adalah kemenangan tandang 2-1 atas Sporting Lisbon pada 20 April, menunjukkan stabilitas luar biasa yang telah dicapai Benfica di bawah Mourinho.
Namun, paradoksnya adalah rekor tak terkalahkan ini tidak cukup untuk membawa Benfica ke puncak. Setelah 30 putaran, mereka hanya memiliki 72 poin, untuk sementara berada di posisi kedua tetapi tertinggal 7 poin dari Porto. Tim Porto telah menunjukkan performa yang lebih unggul dengan 25 kemenangan dan hanya satu kekalahan sejak awal musim.
Selain itu, Benfica berada di bawah tekanan besar dari belakang. Sporting Lisbon saat ini memiliki 71 poin dan satu pertandingan tersisa. Jika mereka menang, mereka dapat dengan mudah menyalip Benfica untuk posisi kedua. Dalam hal itu, tim Mourinho tidak hanya akan kehilangan posisi runner-up tetapi juga terlempar dari zona kualifikasi Liga Champions untuk musim depan.
Selain itu, masa depan ahli strategi berusia 63 tahun ini juga tidak pasti. Menurut media Portugal, ia sedang dipertimbangkan oleh Real Madrid sebagai calon pengganti pelatih Alvaro Arbeloa, setelah tim Royal tersingkir dari Liga Champions oleh Bayern Munchen.
Bagi Mourinho, musim ini bisa berakhir dengan rekor yang mengesankan, tetapi akan kekurangan hal terpenting: gelar juara. Prospek itu membuat rekor tak terkalahkan ini terasa semakin pahit.
Scr/Mashable
















