Raksasa Serie A, Juventus, resmi mengambil keputusan mengejutkan dengan tidak memperpanjang kontrak bomber andalan mereka, Dusan Vlahovic. Keputusan ini memastikan striker asal Serbia tersebut bakal angkat kaki dari Allianz Stadium dengan status bebas transfer alias gratisan setelah lima musim mengabdi.
Bagi para Juventini, perpisahan ini tentu menyisakan rasa sesal. Namun jika dibedah lebih dalam, keretakan hubungan kedua pihak ini sebenarnya sudah bisa diprediksi.
Setidaknya, ada tiga alasan krusial mengapa manajemen Bianconeri memilih bersikap tega dan mengakhiri kerja sama mereka.
1. Beban Finansial yang Mencekik Klub
Faktor utama dan yang paling sensitif tentu saja urusan finansial. Perlu dicatat bahwa Dusan Vlahovic saat ini merupakan pemain dengan bayaran tertinggi di panggung Serie A, dengan upah mencapai 12 juta euro (sekitar Rp252 miliar) per tahun belum termasuk bonus.
Di tengah situasi ekonomi sepak bola Italia yang sedang megap-megap, angka tersebut menjadi beban yang luar biasa berat bagi kas Juventus. Dalam proses negosiasi, mantan penyerang Fiorentina ini sebenarnya sudah menunjukkan iktikad baik dengan bersedia memangkas gajinya secara drastis menjadi 8 juta euro per musim plus bonus.
Namun, angka yang sudah diskon itu ternyata masih dianggap terlalu mahal dan belum mampu memuaskan manajemen Si Nyonya Tua.
Jika ditotal secara keseluruhan, Juventus telah membakar uang dalam jumlah yang sangat fantastis demi proyek ini. Selama lima tahun terakhir, klub asal Turin tersebut total merogoh kocek hingga lebih dari 170 juta euro (seteara Rp3,56 triliun) hanya untuk seorang Vlahovic.
Angka super jumbo itu merupakan gabungan dari biaya transfer senilai 92 juta euro yang dibayarkan ke Fiorentina (termasuk bonus dan biaya agen), serta akumulasi gaji sang pemain yang menyentuh 80 juta euro. Manajemen merasa kontribusi Vlahovic di atas lapangan sangat jomplang jika dibandingkan dengan tumpukan modal yang sudah mereka investasikan.
2. Performa Lapangan yang Loyo dan Jauh dari Ekspektasi
Alasan kedua murni karena masalah teknis dan produktivitas di lapangan. Datang dengan label bomber papan atas saat diboyong dari Fiorentina, Vlahovic justru gagal total menunjukkan performa yang sebanding dengan nilai investasinya.
Dari 168 laga resmi yang ia lakoni bersama seragam hitam-putih Juventus, striker bertubuh jangkung ini hanya mampu mengemas 68 gol dan 16 assist. Statistik ini dinilai sangat mengecewakan dan gagal memikat hati para petinggi klub.
Fakta miris lainnya, selama lima musim berkarier di Turin, Vlahovic tidak pernah sekalipun menyentuh angka 20 gol dalam satu musim kompetisi domestik (Serie A). Catatan terbaiknya hanyalah menggelontorkan 18 gol pada musim 2023/24—sebuah angka yang dianggap terlalu medioker untuk pemain dengan rekor gaji tertinggi di liga.
3. Petaka Gagal Lolos ke Liga Champions
Bak sudah jatuh tertimpa tangga, tetesan air terakhir yang membuat gelas kesabaran Juventus tumpah adalah kegagalan mereka mengamankan tiket ke Liga Champions musim depan. Absen dari kompetisi kasta tertinggi Eropa tersebut membuat Juventus harus rela kehilangan potensi pendapatan sebesar 60 juta euro (sekitar Rp1,25 triliun).
Dihadapkan pada situasi yang menuntut pengetatan ikat pinggang, mempertahankan striker mahal yang minim kontribusi seperti Vlahovic jelas menjadi langkah bunuh diri secara finansial. Juventus mutlak memerlukan perombakan skuad secara radikal, dan mengosongkan pos anggaran gaji Vlahovic adalah langkah awal yang tidak bisa ditawar lagi.
Kepergian Dusan Vlahovic menjadi tanda berakhirnya sebuah eksperimen mahal yang berujung buntung bagi Juventus. Meski kedua belah pihak sempat berupaya mencari jalan tengah, realitas pahit di laporan keuangan dan penurunan performa di lapangan memaksa kisah ini harus selesai secara prematur.
Vlahovic kini bersiap pergi dengan cuma-cuma, meninggalkan sebuah pelajaran berharga bagi Juventus tentang risiko besar berinvestasi pada bintang mahal tanpa adanya jaminan efisiensi yang nyata di atas lapangan hijau.
Scr/Mashable















