Di luar jangkauan GPS dan satelit pelacak, wahana menuju Bulan bergantung pada jaringan antena radio berbentuk piringan untuk komunikasi dan navigasi.
Pada hari ke-18 misi Artemis I, NASA secara tak terduga kehilangan kontak dengan wahana Bulan tersebut, dengan periode hening yang berlangsung lebih dari empat jam.
Gangguan itu bermula ketika stasiun Goldstone di dekat Barstow, California, tiba-tiba mati, memutus salah satu jalur penting dalam jaringan komunikasi antariksa NASA. Para pengendali misi kehilangan ribuan menit data dari wahana Orion serta 16 misi lainnya.
Masalahnya terbilang sepele namun mengkhawatirkan: hard drive tua yang gagal berfungsi, perangkat lunak usang, serta lampu peringatan yang tak pernah menyala.
Goldstone akhirnya kembali online, tetapi insiden pada 2022 itu menyingkap rapuhnya infrastruktur komunikasi antariksa. Kini, saat NASA bersiap meluncurkan astronaut dalam misi Artemis II — penerbangan berawak pertama ke Bulan dalam setengah abad — badan antariksa itu menyebut sistem komunikasi siap digunakan, meski antena Goldstone berdiameter 230 kaki telah tidak beroperasi selama empat bulan terakhir.
Menjelang potensi peluncuran pada Februari, NASA menegaskan antena DSS-14 yang rusak, yang kerap disebut Antena Mars, seharusnya tidak menjadi kekhawatiran, menurut pernyataan kepada Mashable.
“Tidak ada dampak terhadap komunikasi Artemis II karena DSS-14 memang tidak menjadi bagian dari perencanaan misi, bahkan sebelum gangguan tak terduga ini,” ujar Ian O’Neill, juru bicara Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA.
Pernyataan terbaru NASA itu mungkin benar, namun ingatan akan pemadaman selama 4,5 jam empat tahun lalu membuat situasi terasa lebih rawan, terutama karena kali ini ada empat orang yang dijadwalkan terbang dengan Orion.
Antena Mars yang rusak di Kompleks Goldstone merupakan piringan terbesar di lokasi tersebut — seukuran pesawat Boeing 747 — dan mampu melacak wahana antariksa yang berada puluhan miliar mil dari Bumi.
Antena itu rusak pada 16 September 2025, ketika terjadi rotasi berlebih saat operasi, yang menegangkan kabel dan pipa di bagian tengahnya. Selang dari sistem pemadam kebakaran yang rusak menyebabkan banjir, meski NASA menyatakan kerusakan akibat air segera ditangani.
Setelah kembali dari penutupan panjang pemerintah federal, NASA membentuk dewan investigasi insiden resmi untuk menentukan penyebab kerusakan dan merencanakan perbaikan, kata para pejabat pada November. Mashable termasuk media pertama yang melaporkan kecelakaan tersebut.
Lebih dari dua bulan berlalu, masih belum ada pembaruan mengenai kapan antena radio itu akan kembali beroperasi.
Didirikan pada 1963, Deep Space Network (DSN) NASA merupakan sistem komunikasi wahana antariksa terbesar dan terkuat di dunia.
Jaringan ini mengendalikan dan memantau lebih dari 40 misi melalui tiga kompleks di California, Spanyol, dan Australia, yang beroperasi 24 jam agar setidaknya satu lokasi selalu dapat menjangkau wahana seiring rotasi Bumi.
Kendala sebesar ini bukan kali pertama terjadi. Pada 2014, seorang tukang las secara tidak sengaja menjatuhkan pegangan tangan saat perawatan, hingga melubangi antena DSS-14. Pada 1992, gempa bumi juga pernah merusak antena tersebut dan memerlukan perbaikan.
Selain perangkat keras yang menua, jaringan ini juga kelebihan beban. Aliran data yang melintasinya meningkat tajam selama 30 tahun terakhir, melampaui kapasitas awal hingga 40 persen.
Inspektur jenderal NASA, yang berperan sebagai pengawas federal, berulang kali mendorong peningkatan sistem. Melalui Deep Space Network Aperture Enhancement Program, NASA menambahkan enam antena, termasuk antena baru berdiameter 112 kaki di California yang diperkirakan mulai beroperasi tahun ini.
Kantor Inspektur Jenderal belum menelaah dampak spesifik dari tidak beroperasinya antena Goldstone terhadap Artemis II atau misi lain, kata juru bicara Raleigh McElvery.
Namun, lembaga itu merilis audit kesiapan Artemis II pada 2024, yang mencatat NASA telah memulai langkah korektif untuk mencegah gangguan serupa. Sejak pemadaman 2022, NASA menandatangani perjanjian baru dengan mitra internasional, seperti JAXA dari Jepang, guna menyediakan cakupan cadangan jika kembali terjadi kehilangan kontak.
Penguatan semacam itu dinilai krusial, menurut laporan tersebut, karena gangguan komunikasi selama misi dinyatakan “semakin mungkin terjadi”.
“Faktanya, sejak misi Artemis I, dua kegagalan serupa telah terjadi di Canberra dan Goldstone, sehingga memerlukan penggantian tiga hard drive tambahan,” tulis laporan audit tersebut.
“Ke depan, sangat penting bagi Badan Antariksa untuk terus berfokus pada peningkatan pemeliharaan, operasi, dan keandalan DSN agar jaringan tidak mengalami gangguan yang dapat membahayakan awak dan wahana Artemis II.”
Scr/Mashable





















