Dunia astronomi kembali bergetar heboh berkat penemuan fenomenal yang melibatkan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) dan sederet observatorium internasional terkemuka. Mereka berhasil mendeteksi supernova tertua yang pernah tercatat, sebuah ledakan bintang dahsyat yang usianya mencapai 13 miliar tahun.
Dikutip dari Engadget, Rabu (10/12/2025), beberapa waktu lalu, Badan Antariksa Eropa (ESA) secara resmi mengumumkan penampakan gamma-ray burst (GRB) yang dihasilkan oleh bintang yang meledak ini.
Bayangkan, peristiwa kosmik nan dramatis ini terjadi ketika usia alam semesta kita yang luas baru menginjak sekitar 730 juta tahun, atau bisa dibilang, saat semesta masih dalam fase ‘bayi’.
Hebatnya lagi, Teleskop Webb tak hanya merekam ledakannya, tetapi juga berhasil mengidentifikasi dan menangkap citra galaksi induk dari supernova purba tersebut, sebuah pencapaian yang luar biasa dalam pengamatan kosmik ultra-jauh.
Penemuan ini benar-benar memecahkan rekor yang ada, mengubah pemahaman kita tentang batas waktu pengamatan supernova. Sebelumnya, ledakan bintang tertua yang pernah didokumentasikan berasal dari masa ketika alam semesta sudah berusia sekitar 1,8 miliar tahun.

Itu artinya, deteksi terbaru oleh Webb ini berhasil mundur ke masa lalu lebih dari satu miliar tahun dari rekor sebelumnya, sebuah lompatan waktu yang revolusioner dalam dunia penelitian luar angkasa.
Peristiwa GRB 250314A ini menjadi benchmark baru, menunjukkan kemampuan de facto JWST untuk mengintip kembali ke fajar kosmik, saat bintang-bintang pertama mulai terbentuk dan menyalakan cahaya di semesta yang gelap.
Jika Anda penasaran dengan buktinya, semburan sinar gamma yang luar biasa ini terekam jelas dalam citra yang dirilis. Dalam gambar tersebut, ia tampak seperti noda merah kecil yang nyaris tak terlihat, namun memiliki makna kolosal, titik merah samar yang bersemayam di tengah kotak perbesaran di sisi kanan.
Citra dari Webb ini sendiri merupakan karya seni kosmik yang menampilkan ratusan galaksi dalam berbagai bentuk dan ukuran, terhampar indah di atas latar belakang hitam pekat antariksa.
Perhatikan bagian tengah kiri, di sana terlihat galaksi spiral putih besar yang hampir tampak saling berhadapan. Namun, fokus utama kita tertuju pada kotak besar di sebelah kanannya, area yang diperbesar, yang di dalamnya terdapat titik merah samar tersebut, yang kini diberi label GRB 250314A.
“Observasi ini bukan hanya soal rekor, tetapi juga membuktikan bahwa kita mampu menggunakan Webb untuk menemukan bintang-bintang individual ketika usia Alam Semesta baru sekitar 5 persen dari usianya saat ini,” ujar Andrew Levan, salah satu rekan penulis studi ini, dalam siaran pers dari ESA.
Andrew menambahkan, GRB yang berhasil dideteksi dalam miliaran tahun pertama usia semesta ini sangat langka, hanya ada segelintir yang ditemukan dalam 50 tahun terakhir.
“Peristiwa khusus ini bukan hanya langka, tetapi juga sangat menarik,” tegas Levan, menyoroti betapa berharganya data yang berhasil dikumpulkan ini untuk memahami evolusi awal kosmos.
Menariknya lagi, para peneliti menemukan sebuah paradoks kosmik. Ledakan supernova yang berusia 13 miliar tahun ini ternyata memiliki banyak kesamaan dengan supernova modern yang terjadi di dekat kita saat ini.
Sekilas, hal ini mungkin terdengar biasa saja, namun bagi para ilmuwan, mereka sebenarnya mengharapkan perbedaan yang jauh lebih besar.
Alasan di balik ekspektasi perbedaan tersebut adalah asumsi bahwa bintang-bintang purba yang lahir di awal semesta kemungkinan besar terbentuk dari materi yang lebih sederhana, memiliki unsur berat yang lebih sedikit, cenderung lebih masif, dan karena itu, memiliki umur yang jauh lebih singkat.
“Kami melakukan pengamatan dengan pikiran yang sangat terbuka. Dan sungguh, Webb menunjukkan bahwa supernova jadul ini tampak persis seperti supernova modern,” kata rekan penulis Nial Tanvir.
Penemuan tak terduga ini membuka pintu bagi pertanyaan-pertanyaan baru mengenai komposisi kimia dan siklus hidup bintang-bintang generasi pertama di alam semesta, menunjukkan bahwa proses pembentukan bintang mungkin telah menjadi matang lebih cepat dari yang kita duga.
Deteksi spektakuler ini bukanlah hasil kerja satu pihak, melainkan lomba estafet internasional yang sangat terkoordinasi. Kisahnya dimulai ketika Observatorium Swift Neil Gehrels milik NASA mencatat lokasi sumber sinar-X dari ledakan tersebut, yang kemudian menjadi penentu bagi Webb untuk melakukan pengamatan lanjutan yang sangat penting untuk menghitung jaraknya.
Selanjutnya, Teleskop Optik Nordik di Kepulauan Canary, Spanyol, melakukan pengamatan yang mengindikasikan bahwa semburan sinar gamma itu kemungkinan berasal dari jarak yang sangat jauh.
Puncak dari serangkaian pengamatan cepat ini terjadi beberapa jam kemudian, ketika Teleskop Sangat Besar milik European Southern Observatory di Chili berhasil memperkirakan usia pastinya: 730 juta tahun setelah peristiwa Big Bang.
Semua puzzle data ini terkumpul dan terselesaikan dalam waktu kurang dari 17 jam, sebuah bukti kolaborasi dan efisiensi yang luar biasa di antara komunitas astronomi global, sebagaimana dilaporkan oleh ESA.
Saat ini, tim ilmuwan di balik penemuan historis ini telah mendapatkan lampu hijau untuk mengalokasikan waktu pengamatan yang lebih banyak menggunakan James Webb. Mereka berencana untuk terus mendalami semburan sinar gamma yang berasal dari alam semesta awal, sekaligus meneliti lebih jauh galaksi-galaksi yang bersembunyi di belakangnya.
“Cahaya dari GRB itu akan membantu Webb melihat lebih jauh dan akan memberikan kita ‘sidik jari’ autentik dari galaksi purba tersebut,” prediksi Levan.
Observasi lanjutan ini diharapkan dapat mengungkap detail komposisi kimia dan struktur galaksi awal yang selama ini hanya bisa kita bayangkan, menjadikan GRB 250314A bukan hanya sebuah rekor, tetapi juga jendela emas menuju misteri fajar kosmik.
Scr/Mashable





















