Dari kebangkrutan dan degradasi ke liga amatir hingga kembali ke Serie A sebagai klub dengan pemilik terkaya di Italia, sejarah Como 1907 adalah sebuah film yang penuh dengan pasang surut dan emosi. Como adalah simbol baru ambisi dan kelahiran kembali dari abu.
Como 1907 bukan hanya tim yang mewakili keindahan idilis Danau Como, tetapi juga simbol kebangkitan yang kuat dari keterpurukan. Setelah lebih dari satu abad mengalami kebangkrutan yang menyakitkan, tim Lombardia ini telah kembali ke Serie A dengan bangga di bawah kepemilikan klub terkaya di sepak bola Italia.
Kemunculan dan Penggabungan
Klub ini didirikan pada tanggal 25 Mei 1907, sebagai Como Foot-Ball Club oleh sebuah komite anggota di bar Taroni di Via Cinque Giornate. Pada tahun-tahun awalnya, tim ini terutama memainkan pertandingan persahabatan dan turnamen lokal melawan tim-tim dari Milan dan Swiss.
Pada tahun 1912, setelah bergabung dengan klub mahasiswa “Minerva,” Como berpartisipasi dalam babak kualifikasi untuk Prima Categorya (liga tertinggi pada saat itu) tetapi gagal. Baru pada musim 1913–14 Como secara resmi memasuki liga utama Italia dan bertahan di sana hingga tahun 1922.
Tonggak sejarah penting terjadi pada tahun 1927, ketika Como bergabung dengan Esperia untuk menjadi Associazione Calcio Comense. Pada tahun yang sama, mereka memenangkan Coppa Volta setelah mengalahkan nama-nama besar seperti Inter Milan dan Genoa.
Stadion Kandang Bersejarah dan Promosi
Pada tahun 1928, klub pindah ke stadion kandangnya, Stadio Giuseppe Sinigaglia, yang hingga kini tetap menjadi tempat keramat mereka. Di bawah kepemimpinan Gedeon Lukács, Como menjalani musim 1930–31 yang bersejarah, meraih promosi ke Serie B dengan rekor tak terkalahkan, mencetak 90 gol hanya dalam 32 pertandingan.
Meskipun Perang Dunia II memberikan dampak yang parah pada sepak bola Italia, Como tetap aktif dan memenangkan turnamen Torneo Benefico Lombardo pada tahun 1945, sebagai pengganti kejuaraan nasional yang terhenti.
Gejolak dan Zaman Keemasan (1949 – 1990)
Pertama kali di Serie A
Setelah perang, Como bermain di Serie B selama tiga tahun sebelum meraih promosi ke Serie A untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka pada tahun 1949 di bawah pelatih Mario Varglien. Pada musim pertama mereka (1949–50), mereka mengejutkan semua orang dengan finis di peringkat ke-6 – pencapaian terbaik dalam sejarah klub hingga saat itu.
Yang perlu dicatat, pada 23 September 1951, Como naik ke puncak klasemen Serie A , mengungguli Inter, Juventus, dan Milan. Namun, setelah empat tahun di puncak, tim tersebut mulai mengalami periode naik turun divisi.
Krisis Tahun 1960-an dan Kebangkitannya Kembali
Awal tahun 1960-an menyaksikan “kasus Bessi,” ketika Como dihukum dengan lima kekalahan karena menggunakan pemain yang tidak memenuhi syarat, yang menyebabkan degradasi ke Serie C. Butuh bertahun-tahun untuk membangun kembali tim, di bawah bimbingan pelatih Franco Viviani dan kapten legendaris Bruno Ballarini, sebelum Como kembali ke Serie B pada tahun 1968.
Zaman Keemasan (1984 – 1989)
Periode paling sukses Como terjadi pada pertengahan tahun 1980-an. Pada tahun 1984, mereka kembali ke Serie A dan bertahan di liga paling bergengsi di Italia selama lima musim berturut-turut.
Dengan duet penyerang Dan Corneliusson dan Stefano Borgonovo, serta soliditas bek Pasquale Bruno, Como mengulangi pencapaian peringkat ke-9 mereka di Serie A pada tahun 1986. Periode ini dianggap sebagai periode paling stabil dan gemilang bagi tim dari wilayah danau tersebut sebelum memasuki periode penurunan.
Krisis Keuangan dan Peristiwa Kebangkrutan (1990 – 2017)
Dekade 1990-an dan awal 2000-an merupakan periode yang penuh gejolak. Meskipun memenangkan Coppa Italia Serie C (1996–97) dan promosi ke Serie A pada musim 2002–03, kegembiraan Como hanya berlangsung singkat.
Kebangkrutan Pertama (2004)
Degradasi berulang dan manajemen yang buruk mendorong klub ke ambang kehancuran. Pada Desember 2004, Como menyatakan kebangkrutan. Perusahaan lama dibubarkan, dan entitas hukum baru, Calcio Como Srl, terpaksa memulai kembali dari Serie D (liga amatir).
Kebangkrutan Kedua (2016)
Meskipun mereka berupaya untuk kembali ke Serie B pada tahun 2015, masalah keuangan kembali muncul. Pada musim 2016–17, klub tersebut dinyatakan bangkrut untuk kedua kalinya dan dilelang. Akosua Puni Essien (istri pemain Michael Essien) mengakuisisi aset tim tetapi gagal memenuhi kriteria Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk pendaftaran.
Akibatnya, sebuah perusahaan baru bernama Como 1907 Srl didirikan pada tahun 2017 dan harus memulai kembali dari Serie D.
Era Djarum dan Kembalinya ke Puncak (2019 – Sekarang)
Munculnya para pemilik usaha Indonesia.
Tahun 2019 menandai titik balik bersejarah ketika klub tersebut diakuisisi oleh Grup Djarum, sebuah konglomerat yang dimiliki oleh saudara miliarder Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono. Dengan kekayaan mereka yang sangat besar, mereka menjadikan Como sebagai klub dengan pemilik terkaya di sepak bola Italia.
Strategi “Galacticos” di Serie B
Dengan investasi sistematis, Como dengan cepat promosi ke Serie C dan kemudian kembali ke Serie B. Tim ini menarik perhatian global ketika menunjuk mantan pemain bintang Dennis Wise sebagai CEO (hingga 2024) dan mengundang legenda seperti Cesc Fabregas dan Thierry Henry untuk bergabung sebagai pemegang saham minoritas.
Kembali ke Serie A Setelah 21 Tahun
Pada musim 2023–24, setelah pemecatan pelatih Moreno Longo, Cesc Fabregas (sebagai pelatih interim) dan kemudian Osian Roberts memimpin tim meraih posisi runner-up di Serie B. Pada 10 Mei 2024, hasil imbang 1-1 melawan Cosenza secara resmi membawa Como kembali ke Serie A setelah penantian selama 21 tahun, membuka babak baru yang menjanjikan.
Scr/Mashable
















