Bakal Ada Fenomena Gerhana Matahari Cincin Sebelum Ramadan, Apakah Bakal Terlihat di Indonesia?

04.02.2026
Bakal Ada Fenomena Gerhana Matahari Cincin Sebelum Ramadan, Apakah Bakal Terlihat di Indonesia?
Bakal Ada Fenomena Gerhana Matahari Cincin Sebelum Ramadan, Apakah Bakal Terlihat di Indonesia?

Fenomena gerhana matahari cincin atau annular diprediksi akan menghiasi langit pada 17 Februari 2026, tepat menjelang datangnya bulan suci Ramadan yang diperkirakan dimulai pada 18 Februari 2026.

Peristiwa astronomi langka ini menarik perhatian karena menghadirkan tampilan khas berupa ‘cincin api’ di langit, meski sayangnya hanya dapat disaksikan secara langsung dari wilayah yang sangat terbatas.

Gerhana matahari cincin terjadi saat bulan berada di antara bumi dan matahari dalam fase bulan baru, namun berada pada jarak yang lebih jauh dari bumi.

Kondisi tersebut membuat ukuran tampak bulan sedikit lebih kecil dibandingkan matahari, sehingga tidak mampu menutup piringan matahari sepenuhnya.

Akibatnya, cahaya matahari masih terlihat mengelilingi tepi bulan dan membentuk cincin cahaya yang kerap disebut sebagai cincin api.

Berdasarkan perhitungan astronomi, pada gerhana matahari annular kali ini, bulan akan menutupi sekitar 96 persen piringan matahari.

Puncak gerhana diperkirakan terjadi pada pukul 07.12 waktu setempat bagian timur Amerika Serikat (EST) atau bertepatan dengan pukul 19.12 WIB. Meski waktunya telah ditentukan secara presisi, tidak semua wilayah di dunia dapat menikmati pemandangan tersebut secara langsung.

Fase cincin dari gerhana matahari annular hanya dapat disaksikan oleh pengamat yang berada tepat di jalur annularity. Jalur ini dikenal sangat sempit, dengan panjang sekitar 4.282 kilometer dan lebar kurang lebih 616 kilometer.

Pada peristiwa kali ini, jalur annularity tersebut seluruhnya melintasi wilayah terpencil di Antartika, menjadikannya sulit diakses dan minim saksi mata.

“Tahun ini, fase cincin hanya akan terlihat dari wilayah terpencil di Antartika,” demikian laporan yang dikutip Mashable Indonesia dari laman Space.

Kondisi geografis tersebut membuat peluang masyarakat umum untuk menyaksikan langsung cincin api menjadi sangat terbatas.

Meski demikian, fenomena gerhana matahari ini tetap dapat diamati dalam bentuk gerhana parsial dari sejumlah wilayah lain. Beberapa bagian Antartika, kawasan Afrika bagian selatan, serta wilayah selatan Amerika Selatan diperkirakan masih dapat melihat matahari tertutup sebagian oleh bulan.

Pada fase parsial ini, matahari tidak membentuk cincin sempurna, melainkan tampak seperti tergigit pada salah satu sisinya.

Bagi masyarakat di luar wilayah tersebut, pengamatan langsung secara kasat mata memang tidak memungkinkan. Namun perkembangan teknologi memungkinkan publik tetap mengikuti peristiwa ini melalui siaran langsung daring.

“Pengamat di luar area tersebut dapat memantau peristiwa secara daring melalui siaran langsung resmi,” tulis Space dalam laporannya.

Meski begitu, hingga kini detail mengenai platform dan jadwal siaran langsung masih menunggu pengumuman resmi dari pihak penyelenggara.

Secara ilmiah, gerhana matahari merupakan salah satu fenomena alam yang terjadi ketika matahari, bulan, dan bumi berada pada satu garis lurus.

Peristiwa ini hanya dapat terjadi saat fase bulan baru, ketika posisi bulan tepat berada di antara bumi dan matahari, sehingga bayangannya jatuh ke permukaan bumi.

Terdapat beberapa jenis gerhana matahari, yakni gerhana matahari total, sebagian, dan cincin. Pada gerhana matahari total, bulan menutupi seluruh piringan matahari sehingga langit dapat berubah gelap seperti senja dalam beberapa menit.

Sementara itu, pada gerhana matahari cincin, posisi bulan yang lebih jauh dari bumi menyebabkan ukuran tampaknya tidak cukup besar untuk menutup matahari secara sempurna.

Fenomena gerhana matahari cincin menjelang Ramadan ini menjadi pengingat akan keteraturan kosmos dan ketepatan perhitungan astronomi modern. Meski tidak dapat dinikmati secara langsung dari Indonesia, kehadirannya tetap menjadi peristiwa penting dalam kalender astronomi global.

Masyarakat diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari lembaga astronomi terkait jika ingin menyaksikan gerhana ini melalui siaran langsung, sekaligus tetap mengutamakan keselamatan mata dengan tidak mengamati matahari secara langsung tanpa pelindung khusus.

Scr/Mashable




Don't Miss