Gen Z Indonesia Juara Adopsi AI! Simak Hasil Riset AI Ready ASEAN Terbaru

13.02.2026
Gen Z Indonesia Juara Adopsi AI! Simak Hasil Riset AI Ready ASEAN Terbaru
Gen Z Indonesia Juara Adopsi AI! Simak Hasil Riset AI Ready ASEAN Terbaru

Masa depan digital Asia Tenggara kini memasuki babak baru yang lebih menantang sekaligus menjanjikan. ASEAN Foundation, dengan dukungan penuh dari Google.org, secara resmi meluncurkan ASEAN Digital Outlook dan membedah temuan krusial dari riset AI Ready ASEAN dalam pertemuan regional di Manila, Filipina.

Langkah strategis ini diambil untuk memetakan kesiapan kawasan dalam menghadapi ledakan kecerdasan buatan (AI) yang diprediksi akan mendongkrak ekonomi digital ASEAN hingga menyentuh angka fantastis USD 1 triliun pada tahun 2030.

Laporan ini menjadi kompas bagi negara-negara anggota untuk menyelaraskan tata kelola digital, memperkuat infrastruktur, dan memastikan bahwa setiap institusi siap menghadapi disrupsi teknologi tanpa ada yang tertinggal.

Kehadiran inisiatif ini terasa sangat mendesak mengingat populasi ASEAN yang mencapai 660 juta jiwa didominasi oleh generasi muda yang sangat melek teknologi. Program AI Ready ASEAN sendiri telah mencetak pencapaian luar biasa dengan menjangkau lebih dari 5 juta penerima manfaat serta melatih ratusan ribu peserta dalam kemahiran AI tingkat lanjut.

Namun, di balik angka-angka tersebut, terdapat fakta bahwa kecepatan adopsi teknologi seringkali melampaui kemampuan sistem regulasi dan institusi untuk mengarahkannya secara bijak.

Oleh karena itu, riset ini hadir untuk mengalihkan fokus pembahasan dari sekadar akses perangkat menuju pemahaman etika, keamanan, dan dampak sosial jangka panjang yang lebih bertanggung jawab.

Menariknya, Indonesia menjadi sorotan utama dalam riset ini karena menunjukkan tingkat adopsi AI yang sangat masif di kalangan pelajar. Sebanyak 95,25% siswa di Indonesia tercatat sudah aktif menggunakan model AI generatif untuk berbagai kebutuhan, sebuah angka yang jauh melampaui tingkat penggunaan oleh orang tua maupun pendidik mereka.

Fenomena ini menciptakan gap antar generasi yang cukup lebar dalam hal literasi teknologi. Sementara siswa berlari kencang mencoba berbagai tools terbaru, banyak pendidik dan orang tua yang masih merasa kurang percaya diri serta minim mendapatkan akses pelatihan terstruktur maupun panduan kebijakan yang jelas dari institusi mereka masing-masing.

Kesenjangan ini membawa risiko yang tidak bisa disepelekan, terutama dengan meningkatnya ancaman siber seperti penipuan berbasis deepfake, misinformasi, hingga kebocoran data pribadi yang kian canggih.

Laporan ASEAN Digital Outlook memperingatkan bahwa pendekatan kebijakan yang bersifat terfragmentasi antar negara hanya akan memperlemah perlindungan terhadap kepercayaan publik.

Kebutuhan akan kerangka tata kelola yang inklusif dan kolaboratif di tingkat regional menjadi harga mati agar kemajuan teknologi tidak justru menjadi bumerang bagi stabilitas sosial dan ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

Pada akhirnya, akses terhadap teknologi AI hanyalah pintu masuk, namun kesiapan mental dan literasi adalah kunci utamanya. Sebagaimana ditegaskan oleh para pemangku kepentingan, investasi pada sumber daya manusia, terutama para pendidik dan komunitas, harus diprioritaskan agar AI dapat digunakan secara etis dan produktif.

Melalui data komprehensif dari ASEAN Digital Outlook dan riset AI Ready ASEAN, para pengambil kebijakan kini memiliki landasan kuat untuk merancang intervensi yang tepat sasaran, demi mewujudkan transformasi digital yang tidak hanya canggih, tetapi juga inklusif dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat ASEAN.

Scr/Mashable




Don't Miss