Absennya beberapa pemain kunci membuat permainan Manchester United kurang bergairah, lambat, dan mudah ditebak sepanjang pertandingan melawan Everton dalam lanjutan Liga Inggris 2025/2026, Selasa 24 Januari 2026 dini hari WIB.
Pada menit ke-29 di Stadion Hill Dickinson, Bruno Fernandes menggiring bola di sisi kanan dan memberi isyarat untuk melakukan kombinasi operan.
Namun, karena tidak ada yang bergerak selaras, kapten Manchester United terpaksa membelakangi gawang Jordan Pickford untuk mempertahankan penguasaan bola. Peluang serangan balik pun sirna. Itu adalah salah satu momen yang jelas mencerminkan kebuntuan tim tamu.
Masalah yang terlihat jelas dalam hasil imbang melawan West Ham terus muncul kembali karena tim Michael Carrick bermain terlalu defensif. Para pemain bermain berdekatan tetapi kurang memiliki pergerakan menyerang yang dibutuhkan. Kecepatan sirkulasi bola tidak cukup cepat untuk membongkar blok pertahanan rendah Everton.
Cedera Lisandro Martinez merupakan faktor penting. Ia absen karena cedera betis hanya beberapa jam sebelum pertandingan dimulai. Manchester United kehilangan kemampuan untuk melepaskan diri dari tekanan dan membangun permainan dari belakang, yang merupakan kekuatan bek tengah asal Argentina tersebut.
Di sayap kiri, Patrick Dorgu masih absen karena cedera hamstring dan diperkirakan akan absen hingga pertengahan April. Tanpa dia, sisi kiri MU menjadi jauh lebih lambat. Matheus Cunha memiliki teknik dan kecerdasan menyerang yang baik, tetapi kecenderungannya untuk bergerak ke tengah membuat ruang di depan kotak penalti lawan semakin sempit.
Dalam pertandingan-pertandingan sukses di bawah asuhan Carrick, MU sering menggunakan umpan-umpan pendek yang diikuti dengan kecepatan tinggi secara tiba-tiba di setiap lini. Melawan Everton, selama kurang lebih satu jam pertama, mereka kekurangan ketepatan dan ritme untuk melakukan hal itu.
Pada satu momen, Fernandes menendang bola melewati mistar gawang, lalu berbalik dan bereaksi marah kepada wasit Darren England. Gambaran itu membangkitkan sosok Fernandes yang pemarah dan tidak sabar, yang harus memikul terlalu banyak tanggung jawab kreatif.
Barulah ketika Carrick melakukan penyesuaian di babak kedua, permainan berubah. Dan kemudian Benjamin Sesko, dari umpan apik Cunha, mencetak gol penentu kemenangan. MU mengamankan tiga poin penuh, tetapi masalah kreativitas tetap belum terselesaikan.
Manchester United Memasuki Tahap Krusial dalam Perebutan Posisi 4 Besar
Kemenangan 1-0 melawan Everton bukan hanya tentang tiga poin, tetapi juga ukuran apakah Manchester United masih memegang kendali atas nasib mereka sendiri saat tim tersebut naik ke posisi keempat di klasemen Liga Inggris.
Persaingan untuk memperebutkan empat posisi teratas di Liga Primer memasuki tahap krusial, dan Manchester United memahami bahwa setiap pertandingan kini adalah masalah hidup atau mati. Oleh karena itu, pertandingan melawan Everton bukan sekadar pertandingan, tetapi ujian kemampuan Setan Merah untuk mengendalikan nasib mereka sendiri.
Secara teori, MU masih memiliki peluang untuk finis di posisi 4 besar musim ini. Musim belum berakhir, dan selisih poin dengan tim-tim yang lolos ke Liga Champions sangat kecil. Di klasemen liga, MU memiliki 48 poin setelah 27 pertandingan, hanya unggul 3 poin dari Chelsea yang berada di posisi ke-6. Liverpool – di posisi ke-6 – juga memiliki 45 poin.
Namun, masalahnya bukan soal matematika, melainkan soal konsistensi. Tim Michael Carrick memang pernah menampilkan permainan yang eksplosif, tetapi juga lebih dari sekali mereka menyia-nyiakan keunggulan mereka dengan cara yang kurang menguntungkan.
Jika MU terus mempertahankan performa kemenangan yang mengesankan, mereka tidak perlu terlalu khawatir tentang hasil lawan mereka. Sebaliknya, satu kesalahan saja dapat menempatkan mereka pada posisi yang tidak menguntungkan, memaksa mereka untuk menunggu tim lain tersandung.
Konfrontasi langsung yang akan datang dengan rival mereka akan seperti “pertandingan final.” Jika mereka menang, MU akan memiliki kendali penuh atas posisi empat besar. Jika mereka kalah, mereka berisiko kehilangan kendali atas situasi tersebut.
Di tahap akhir musim, psikologi adalah faktor penentu keberhasilan atau kegagalan. Manchester United telah menunjukkan tanda-tanda peningkatan dalam organisasi dan disiplin taktis di bawah manajer sementara Michael Carrick, tetapi pertanyaan besarnya tetap: apakah mereka cukup stabil untuk menentukan nasib mereka sendiri?
Oleh karena itu, perebutan empat besar bukan hanya tentang memperebutkan poin. Ini adalah kisah tentang keyakinan, ketekunan, dan kemampuan untuk menahan tekanan. Dan jawabannya akan terungkap di setiap babak selanjutnya.
Scr/Mashable
















