Para penggemar sepak bola Asia Tenggara tentu sudah mengenal Maarten Paes – kiper tangguh Timnas Indonesia. Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa sebelum menjadi penjaga gawang untuk klub raksasa Ajax Amsterdam, ia pernah berposisi sebagai striker.
Februari 2026 menandai tonggak penting dalam karier Maarten Paes ketika ia secara resmi menandatangani kontrak 3,5 tahun dengan Ajax Amsterdam – salah satu klub terbesar di Eropa. Meninggalkan FC Dallas (AS) untuk kembali ke tanah kelahirannya, Belanda, Paes melakukan debutnya untuk tim berbaju putih dan tampil mengesankan.
Namun, perjalanan bintang Belanda- Indonesia ini menuju puncak karier sebagai penjaga gawang dimulai dengan kejadian yang tak terduga.
Titik Balik bagi Seorang Striker yang Mulai Jenuh dengan Sepak Bola
Masa kecil Maarten Paes sangat erat kaitannya dengan sepak bola sejak usia 3 tahun. Namun, posisi yang awalnya ia pilih bukanlah sebagai penjaga gawang.
“Sejak kecil saya selalu bermain sebagai striker,” kata Paes dilansir dari situs resmi Ajax.
“Tetapi ketika saya mulai bermain di lapangan berukuran penuh, saya tiba-tiba kehilangan kegembiraan dan keseruan bermain sebagai penyerang. Semuanya menjadi membosankan.”
Karier bermain Paes tampaknya berakhir sebelum waktunya jika bukan karena keputusan yang mengubah sejarah yang ia buat ketika berada di tim U15. Ia memutuskan untuk mundur dan bermain sebagai penjaga gawang.
“Sejak saat saya mengenakan sarung tangan, saya menemukan kembali gairah saya. Saya berkembang sangat cepat dan tidak lama kemudian, saya direkrut oleh NEC Nijmegen,” kenang penjaga gawang berusia 27 tahun itu.
Setelah mengasah kemampuannya di NEC Nijmegen dan FC Utrecht, Paes mencatatkan 44 penampilan di Eredivisie Belanda. Pada tahun 2022, ia dengan berani meninggalkan zona nyamannya untuk bermain bagi FC Dallas di Amerika Serikat selama empat musim, sebelum bergabung dengan Ajax.
Kecintaan pada Indonesia dan Mendiang Neneknya
Paes tidak hanya dikenal di level klub, tetapi ia juga menjadi fenomena menarik di sepak bola internasional. Setelah mencatat 10 penampilan untuk tim U19, U20, dan U21 Belanda, Paes membuat keputusan yang mengubah kariernya: mewakili tim nasional Indonesia.
Pada 30 April 2024, ia resmi menjadi warga negara Indonesia di bawah kategori “blijvers” (mereka yang kakek-neneknya tinggal di bekas Hindia Belanda). Dalam pertandingan debutnya pada September 2024, Paes bersinar terang, membantu Indonesia meraih hasil imbang melawan tim kuat Arab Saudi.
Berbicara tentang atmosfer di “kandang” Gelora Bung Karno , Paes tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya: “Ini adalah budaya sepak bola yang hebat, tetapi sering diremehkan oleh dunia. Bayangkan saja 80.000 orang menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga. Gairah itu benar-benar sebanding dengan sepak bola Argentina.”
Namun di balik keputusan memilih warna merah dan putih bendera tersebut terdapat kisah keluarga yang mengharukan. Almarhumah nenek Paes lahir di Kediri, Jawa Timur. Setelah Perang Dunia II, ia pindah ke Belanda tetapi tidak pernah melupakan akar budayanya.
“Ia memperkenalkan budaya Indonesia ke dalam hidup saya sejak usia muda. Kami sering memasak masakan Indonesia bersama. Ia adalah guru sejarah terbaik saya,” kenang Paes dengan penuh emosi.
Mengenakan seragam tim nasional Indonesia adalah hadiah terbesar yang ingin ia berikan kepada neneknya di tahun-tahun terakhirnya. “Kami belajar lagu kebangsaan Indonesia bersama, kami menghafal filosofi Pancasila bersama. Sedih rasanya beliau meninggal sebelum saya debut. Sekarang, setiap kali saya berdiri di lapangan dan lagu kebangsaan diputar, pikiran saya hanya tertuju pada satu orang: nenek saya.”
Dari seorang anak laki-laki yang tidak menyukai mencetak gol, Maarten Paes kini dengan percaya diri membela gawang untuk Ajax Amsterdam dan tim nasional Indonesia, memikul di pundaknya bukan hanya harapan jutaan penggemar tetapi juga impian keluarganya.
Scr/Mashable

















