Dari Luka Menuju Takhta, Inter Milan Ubah Penderitaan Menjadi Dominasi di Serie A

04.05.2026
Dari Luka Menuju Takhta, Inter Milan Ubah Penderitaan Menjadi Dominasi di Serie A
Dari Luka Menuju Takhta, Inter Milan Ubah Penderitaan Menjadi Dominasi di Serie A

Inter Milan akhirnya resmi kembali ke puncak singgasana. Keberhasilan Nerazzurri mengunci gelar juara Serie A musim 2025/2026 menjadi bukti nyata bagaimana sebuah klub mampu mengubah luka mendalam menjadi motivasi yang tak terbendung.

Hanya dalam satu musim, Inter bertransformasi dari tim yang hancur karena kegagalan treble menjadi penguasa tunggal di tanah Italia.

Kepastian gelar ini didapat setelah Inter membungkam Parma 2-0 di San Siro pada, Minggu 3 Mei 2026. Dengan sisa tiga pertandingan, Inter kini unggul 12 poin dari Napoli di posisi kedua.

Tak hanya itu, pasukan Biru-Hitam berpeluang mengawinkan gelar liga dengan Coppa Italia jika mampu menumbangkan Lazio di final pada 13 Mei mendatang—sebuah prestasi yang terakhir kali diraih saat era emas José Mourinho tahun 2010.

Kondisi hari ini berbanding terbalik dengan akhir musim lalu yang penuh air mata. Kala itu, Inter yang berpeluang meraih tiga trofi justru berakhir dengan tangan hampa. Mereka finis di bawah Napoli di liga, gugur di semifinal Coppa Italia, dan puncaknya, dipermalukan Paris Saint-Germain 0-5 di final Liga Champions paling sepihak dalam sejarah.

Namun, musim ini adalah cerita yang berbeda. Berikut adalah faktor kunci di balik kebangkitan Inter:

Perjudian Manis dengan Cristian Chivu

Kejutan terbesar datang di awal musim. Saat Simone Inzaghi hengkang ke Al-Hilal (Arab Saudi), manajemen Inter menunjuk Cristian Chivu. Banyak pihak meragukan Chivu yang minim pengalaman di level senior.

Namun, Chivu bukan orang asing; ia adalah bagian dari skuad Treble 2010 dan telah tujuh tahun melatih tim muda Inter.

Sentuhan Chivu membawa ide-ide segar. Ia mengubah Inter menjadi mesin penekan yang agresif (high-pressing) dan memulihkan harmoni ruang ganti.

Ia juga berani mengorbitkan bakat muda seperti Pio Esposito untuk memberi energi baru dalam tim.

Stamina Baja dan Nasib Sial Rival

Salah satu kunci dominasi Inter adalah kebugaran pemain. Di bawah metode latihan baru Chivu, para pilar utama Inter jarang masuk ruang perawatan, kecuali Denzel Dumfries dan Hakan Calhanoglu. Meski kapten Lautaro Martinez sempat absen karena cedera betis, ia kembali tepat waktu dalam laga penentu kontra Parma.

Kondisi ini kontras dengan sang rival, Napoli. Tim asuhan Antonio Conte tertatih-tatih karena badai cedera. Kehilangan Romelu Lukaku di awal musim, disusul Kevin De Bruyne, Frank Anguissa, hingga David Neres, membuat kekuatan Napoli pincang dan gagal mengejar konsistensi Inter.

Mentalitas Juara: Bangkit dari “Blip”

Musim Inter tidak selalu mulus. Mereka sempat mengalami fase kritis saat disingkirkan tim gurem Bodø/Glimt di Liga Champions. Performa liga pun sempat merosot dengan hanya meraih dua kemenangan dari delapan laga, termasuk kalah di Derby della Madonnina.

Namun, Inter menunjukkan mentalitas juara. Alih-alih kolaps seperti musim lalu, mereka bangkit dengan kemenangan dramatis 5-3 atas AS Roma. Sejak saat itu, laju Inter tak terhenti. Mereka terus memperlebar jarak di klasemen dan memastikan tiket final Coppa Italia.

Kini, Milan kembali membiru. Dengan bintang ke-21 di dada, Inter Milan telah membuktikan bahwa cara terbaik membalas kegagalan masa lalu adalah dengan mendominasi masa depan.

Scr/Mashable





Don't Miss