Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) kini tidak lagi sekadar menjadi alat pendukung bisnis, tetapi mulai mengubah cara perusahaan mengambil keputusan hingga membentuk ulang struktur kepemimpinan.
Hal tersebut terungkap dalam studi terbaru dari IBM Institute for Business Value yang melibatkan 2.000 CEO global, termasuk para pemimpin perusahaan di Indonesia.
Dalam laporan tersebut, sebanyak 80 persen CEO di Indonesia yang disurvei menyatakan AI telah mengubah cara perusahaan mendefinisikan inti bisnis mereka. Tidak hanya sebatas teknologi tambahan, AI kini mulai diposisikan sebagai fondasi baru dalam menjalankan operasional perusahaan.
Selain itu, 90 persen CEO di Indonesia mengaku aktif mengintegrasikan AI ke berbagai alur kerja untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional secara menyeluruh.
Temuan ini memperlihatkan bahwa perusahaan di Indonesia mulai bergerak dari tahap eksperimen menuju implementasi AI yang lebih serius dan terukur.
Gary Cohn, IBM Vice Chairman dalam kata pengantarnya menjelaskan, “Peran CEO selalu identik dengan kemampuan memimpin di tengah disrupsi. Yang berubah lewat kehadiran AI adalah kecepatan dan besarnya dampak dari kepemimpinan itu sendiri. Perusahaan yang berhasil adalah mereka yang mengadopsi pendekatan AI-first, bukan sekadar menjadikan AI sebagai lapisan teknologi tambahan, melainkan sebagai model operasional baru.”
Ia juga menambahkan bahwa proses pengambilan keputusan akan semakin cepat, batas antar fungsi organisasi akan semakin melebur, dan perusahaan yang mampu belajar serta beradaptasi lebih cepat akan memiliki keunggulan kompetitif lebih besar dibanding kompetitornya.
CEO Indonesia Semakin Percaya pada AI
Salah satu temuan menarik dari studi IBM adalah meningkatnya kepercayaan CEO terhadap teknologi AI dalam pengambilan keputusan strategis.
Sebanyak 65 persen CEO di Indonesia mengaku nyaman mengambil keputusan bisnis besar berdasarkan masukan yang dihasilkan AI. Angka ini menunjukkan bahwa AI mulai dipercaya tidak hanya untuk tugas administratif, tetapi juga sebagai alat bantu strategis di level tertinggi perusahaan.
Selain itu, 65 persen responden juga menilai AI sovereignty atau kedaulatan AI menjadi bagian penting dalam strategi bisnis.
Peran Chief AI Officer Semakin Penting
Transformasi AI juga mulai mengubah struktur organisasi perusahaan modern. Di Indonesia sendiri, seluruh CEO yang disurvei memperkirakan peran CAIO akan semakin strategis hingga 2030 seiring meningkatnya penggunaan AI dalam berbagai lini bisnis.
Tidak hanya itu, 85 persen CEO di Indonesia juga menilai setiap pemimpin di berbagai fungsi bisnis kini harus memiliki pemahaman teknologi yang kuat. Artinya, tanggung jawab implementasi AI tidak lagi hanya berada di divisi IT, tetapi mulai menyebar ke seluruh bagian perusahaan.
Peran Chief Human Resources Officer (CHRO) juga diperkirakan akan semakin penting. Sebanyak 60 persen CEO percaya pengelolaan sumber daya manusia akan menjadi faktor utama dalam keberhasilan transformasi AI.
AI Akan Mengubah Cara Pengambilan Keputusan
IBM juga menemukan bahwa penggunaan AI dalam proses pengambilan keputusan diperkirakan akan meningkat sangat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Pada 2030, para CEO memperkirakan sekitar 48 persen keputusan operasional yang memiliki parameter jelas akan diambil sepenuhnya oleh AI tanpa campur tangan manusia. Saat ini angka tersebut masih berada di kisaran 24 persen.
Seiring meningkatnya penggunaan AI, sebanyak 95 persen eksekutif yang disurvei menyebut perusahaan mulai mendesentralisasi pengambilan keputusan dan mendistribusikan tanggung jawab lebih luas ke berbagai lini organisasi.
Talenta Jadi Kunci Keberhasilan AI
Meski teknologi AI berkembang sangat cepat, IBM menilai faktor manusia tetap menjadi elemen terpenting dalam transformasi digital perusahaan.
Sebanyak 75 persen CEO di Indonesia menyatakan keberhasilan implementasi AI lebih ditentukan oleh tingkat adopsi manusia dibanding teknologinya sendiri.
Karena itu, perusahaan mulai fokus pada peningkatan keterampilan tenaga kerja. Studi IBM menunjukkan antara 2026 hingga 2028 sekitar 30 persen karyawan diperkirakan perlu mempelajari keterampilan baru untuk menjalankan peran berbeda. Sementara 52 persen lainnya membutuhkan peningkatan skill agar bisa bekerja lebih efektif di posisi mereka saat ini.
Juhi McClelland, Managing Director, IBM Consulting Asia Pacific mengatakan, “Para CEO di Asia Pasifik kini menjadi salah satu yang terdepan dalam mendorong adopsi AI secara global, bergerak melampaui tahap eksperimen menuju kepemimpinan yang semakin ditopang oleh AI.”
Ia menambahkan bahwa keberhasilan implementasi AI tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga bagaimana perusahaan memberdayakan talenta, mendesain ulang proses kerja, dan menerapkan AI secara bertanggung jawab.
Sementara itu, Catherine Lian, General Manager and Technology Leader, IBM ASEAN menegaskan, “Para CEO di Indonesia terus mempercepat ambisi mereka dalam pemanfaatan AI, dengan melampaui tahap uji coba dan mulai menempatkan AI sebagai penggerak utama kepemimpinan, daya saing, serta kinerja bisnis.”
Menurutnya, AI kini tidak lagi dipandang sekadar eksperimen teknologi, melainkan sudah menjadi prioritas bisnis yang diintegrasikan secara serius ke dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan.
Untuk melihat laporan lengkap IBM CEO Study 2026, pengguna dapat mengunjungi IBM CEO Study.
Scr/Mashable


















