Jurang pemisah antara kekuatan finansial Premier League (Liga Inggris) dengan liga-liga top Eropa lainnya tampaknya makin menjadi-jadi. Bayangkan saja, klub sekelas Burnley yang baru saja dipastikan terdegradasi dari Premier League, justru diproyeksikan mengantongi uang yang jauh lebih banyak daripada raksasa Spanyol, Barcelona, yang sukses merengkuh trofi juara LaLiga.
Fenomena gila ini terjadi berkat adanya sistem parachute payments alias ‘dana darurat’ yang diterapkan oleh Premier League.
Meskipun terlempar dari kasta tertinggi Liga Inggris, Burnley dilaporkan bakal menerima suntikan dana segar sekitar 50 juta poundsterling (sekitar Rp1,18 triliun). Angka fantastis ini sukses melewati total hadiah yang didapatkan Barcelona saat menjuarai LaLiga musim 2025/26, yang hanya berkisar di angka 46 juta poundsterling (sekitar Rp1 triliun).
Kabar ini langsung memicu perdebatan panas di kalangan pencinta sepak bola dunia. Fakta tersebut menjadi bukti sahih betapa dominannya kekuatan finansial kompetisi sepak bola di tanah Inggris yang saat ini hampir tidak tersentuh oleh liga lain.
Mengenal Parachute Payments, Jaring Pengaman Klub Degradasi Inggris
Bagi yang belum tahu, parachute payments adalah mekanisme bantuan dana yang diterapkan oleh Premier League untuk menyelamatkan klub-klub yang turun kasta agar tidak langsung bangkrut atau mengalami krisis finansial hebat.
Saat masih berkompetisi di Premier League, klub-klub menikmati jatah kue yang sangat besar dari hak siar televisi, sponsor, hingga pendapatan komersial. Ketika mereka tiba-tiba tergradasi ke EFL Championship (kasta kedua), pendapatan tersebut bisa merosot tajam dalam sekejap mata.
Oleh karena itu, Premier League tetap membagikan sebagian keuntungan hak siar TV kepada klub yang terdegradasi selama beberapa tahun ke depan. Dana talangan ini berfungsi penting agar klub tetap bisa membayar gaji pemain bintang mereka, menstabilkan operasional, serta menjaga asa untuk bisa langsung promosi kembali ke Premier League.
Dalam kasus Burnley, suntikan dana di musim pertama setelah mereka terdegradasi diperkirakan mencapai 50 juta poundsterling. Bagi mayoritas klub di daratan Eropa, nominal sebesar ini adalah angka impian yang bahkan belum tentu bisa didapatkan meski mereka keluar sebagai juara di liga domestik masing-masing.
Nasib Barcelona dan Ketimpangan Finansial Eropa
Kondisi sebaliknya terjadi pada Barcelona. Meski sukses menggelar pesta juara dan bertakhta di panggung tertinggi La Liga Spanyol, sistem pembagian hasil hak siar di Negeri Matador tidak sekaya di Inggris.
Klub-klub LaLiga harus memutar otak lebih keras karena lebih bergantung pada pendapatan komersial mandiri, penjualan tiket stadion, sponsor, serta bonus penampilan dari ajang Liga Champions jika ingin menggemukkan kas klub.
Kesenjangan dana yang mencolok ini semakin mempertegas mengapa Premier League terus berlari sendirian meninggalkan liga-liga top Eropa lainnya dalam urusan finansial. Berkah uang melimpah ini tidak hanya dinikmati oleh klub raksasa sekelas Manchester City atau Arsenal.
Klub yang menghuni papan bawah dan terdegradasi seperti Burnley pun tetap kecipratan untung yang bikin para juara Eropa gigit jari.
Saat ini, Barcelona telah resmi mengunci gelar juara La Liga 2025/26 dan mulai memasang ancang-ancang untuk menatap musim 2026/27 yang penuh ambisi. Sementara bagi Burnley, nestapa hanya meraih 21 poin dari 37 laga di Premier League musim ini setidaknya sedikit terobati dengan status mereka: tim degradasi yang mendadak jadi ‘Sultan’ baru di kasta kedua.
Scr/Mashable


















