Keputusan AC Milan memecat Massimiliano Allegri beserta jajaran petinggi klub memang mengejutkan banyak pihak. Namun, jika melihat ke belakang, krisis yang melanda Rossoneri sebenarnya sudah mengakar jauh sebelum kegagalan tragis di pekan pamungkas Serie A.
Milan tidak ambruk hanya dalam satu pertandingan. Mereka telah rapuh selama berbulan-bulan. Keputusan ekstrem manajemen mendepak Allegri, Giorgio Furlani, Igli Tare, dan Geoffrey Moncada hanyalah titik akhir dari sebuah musim di mana Milan kehilangan momentum dan kendali saat kompetisi memasuki fase paling krusial.
Padahal, Milan sempat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Mereka sempat kokoh di posisi dua besar Serie A dan mencatatkan rekor impresif 24 pertandingan tak terkalahkan. Di bawah kendali Allegri, Milan bermain pragmatis, kokoh di lini belakang, dan cukup stabil untuk membuat para Milanisti kembali memimpikan trofi Scudetto.
Namun, cacat terbesar Milan musim ini adalah ketidakmampuan mereka menjaga momentum dan kedalaman sistem taktik tersebut. Begitu lini serang mulai tumpul, seluruh fondasi tim langsung goyah dan berantakan.
Santiago Giménez mendadak kehilangan ketajaman di Serie A. Rafael Leão kehilangan magis dan ledakan yang biasa ia tunjukkan di sisi sayap.
Sementara itu, Christian Pulisic hanya mampu memberikan kontribusi lewat kilasan-kilasan performa yang tak konsisten. Milan perlahan berubah menjadi tim yang dominan menguasai bola, namun ompong dan frustrasi saat harus menyelesaikan peluang.
Catatan buruk hanya mendulang 10 poin dari 10 laga terakhir bukanlah sebuah kebetulan atau nasib sial belaka. Itu adalah alarm bahaya dari sebuah skuad yang telah kehilangan kepercayaan pada diri mereka sendiri.
Akhir Tragis Taktik Pragmatis
Bagi jajaran direksi RedBird, hal yang paling mengecewakan sebenarnya bukan cuma perkara kehilangan tiket Liga Champions karena selisih satu poin. Bagi klub sebesar Milan, kegagalan terbesar adalah hilangnya mentalitas juara dan karakter petarung di saat-saat menentukan.
Oleh karena itu, pembersihan massal di jajaran manajemen menjadi hal yang tidak bisa dihindari.
Pada awalnya, Allegri diharapkan mampu menghadirkan stabilitas lewat segudang pengalaman dan jam terbangnya di Serie A. Sepanjang paruh pertama musim, ia sukses melakukan tugas itu.
Namun, sepak bola modern membuktikan bahwa tim besar tidak bisa bertahan hidup terlalu lama jika hanya mengandalkan taktik bertahan dan bermain aman dari risiko.
Milan yang dahulu ditakuti di Eropa karena karakter kuat, kecepatan, dan permainan yang mendominasi, kini menutup musim 2025/26 dengan wajah yang lesu. Mereka kehabisan ide, kelelahan, dan runtuh justru di saat yang paling krusial.
Rossoneri kini bersiap memulai revolusi baru dari nol. Namun, pekerjaan rumah Milan saat ini jauh lebih besar daripada sekadar mengganti pelatih atau merombak jajaran direksi.
Hal paling mendesak yang mereka butuhkan saat ini adalah membangun kembali identitas klub yang kuat, agar AC Milan tidak lagi mengalami kemunduran di masa depan.
Scr/Mashable
















