Kompetisi Liga Inggris musim 2025/2026 resmi berakhir, meninggalkan sejuta cerita. Di balik kesuksesan para jawara, musim ini juga menjadi panggung rontoknya reputasi para pemain bintang. Liverpool, Chelsea, hingga Tottenham Hotspur harus gigit jari setelah deretan keputusan transfer mewah mereka berakhir menjadi investasi bodong alias rekrutan gagal.
Berikut adalah susunan tim rekrutan paling zonk di Liga Inggris musim ini yang menguras kas klub hingga triliunan rupiah, namun minim kontribusi di lapangan.
Lini Depan: Isak dan Delap, Simbol Pemborosan Raksasa
Sektor penyerang tengah dipimpin oleh dua nama yang paling disorot musim ini: Alexander Isak (Liverpool) dan Liam Delap (Chelsea).
Isak mendarat di Anfield dengan memecahkan rekor transfer klub sebesar 140 juta euro. Digadang-gadang menjadi mesin gol baru The Reds, striker asal Swedia ini justru menjelma menjadi pasien tetap ruang medis karena badai cedera.
Sepanjang musim, Isak hanya mampu membukukan 3 gol saja di liga—sebuah catatan yang sangat mengenaskan untuk pemain seharga triliun rupiah.
Nasib serupa tapi tak sama dialami Liam Delap di Stamford Bridge. Diboyong Chelsea dari Ipswich Town seharga 40 juta euro, Delap justru menjadi korban terbaru dari “kutukan nomor punggung 9” yang melegenda di London Barat.
Bagi sebagian besar fans The Blues, melihat Delap masuk ke lapangan menjadi sinyal sahih bahwa harapan timnya untuk mencetak gol sudah habis.
Sektor Sayap: “Mesin Berlari” dan Pengambil Keputusan Buruk
Beralih ke sektor sayap, ada Alejandro Garnacho (Chelsea) dan Anthony Elanga (Newcastle United) yang tampil sangat mengecewakan.
Garnacho berulang kali membuat fans Chelsea mengelus dada dan jengkel akibat pengambilan keputusannya yang buruk (clueless) di lini serang.
Sementara itu, Elanga di Newcastle United bernasib sama apesnya. Pemain sayap ini bahkan sampai mendapat sindiran keras dari suporter dengan julukan “robot yang cuma tahu cara berlari” tanpa memberikan hasil konkret.
Lini Tengah: Duet Spurs yang Bikin Frustrasi
Jantung pertahanan lini tengah dalam daftar starting XI paling ambyar ini dikuasai oleh dua penggawa baru Tottenham Hotspur: Conor Gallagher dan Xavi Simons.
Sejak awal kedatangan mereka di London Utara, publik sebenarnya sudah menaruh keraguan besar. Benar saja, performa keduanya di lapangan jauh dari ekspektasi.
Nasib Xavi Simons bahkan lebih tragis; ia dihantam cedera parah yang memaksanya absen di periode krusial akhir musim, sekaligus mengubur impiannya untuk tampil di ajang Piala Dunia.
Lini Belakang: Bek Sayap Melempem dan Duet Bek Tengah Pengundang Petaka
Di pos pertahanan, duo bek sayap baru Liverpool, Milos Kerkez dan Jeremie Frimpong, banjir kritikan tajam dari pengamat sepak bola. Alih-alih menghidupkan permainan, keduanya tampil sangat hambar, baik saat membantu serangan maupun ketika dipaksa turun bertahan.
Untuk posisi bek tengah, gelar duet komedian paling mengecewakan jatuh kepada Jorrel Hato (Chelsea) dan Jean-Clair Todibo (West Ham United). Kedua pemain ini menguras dana klub masing-masing lebih dari 40 juta euro, namun menyajikan performa yang kacau di atas lapangan.
Efeknya sangat fatal. Blunder-blunder Hato membuat Chelsea resmi kehilangan tiket kompetisi Eropa di pekan terakhir.
Sementara itu, penampilan buruk Todibo menjadi salah satu biang kerok utama yang membuat West Ham United terdegradasi ke kasta kedua setelah 15 tahun bertahan di Premier League.
Posisi Kiper: Proyek Gagal Man City
Di bawah mistar gawang, ada nama James Trafford. Ia sempat ditebus Manchester City dengan mahar fantastis 35 juta euro untuk memplot posisi yang ditinggalkan Ederson.
Namun, rentetan blunder fatal yang ia lakukan justru menjadi blunder terbesar bagi Pep Guardiola. Gerah dengan penampilan Trafford, manajemen The Citizens bahkan sampai bergerak cepat di bursa transfer berikutnya demi mendaratkan Gianluigi Donnarumma sebagai penyelamat.
Scr/Mashable















