Ketika turnamen tenis Roland Garros terus melahirkan drama dan cerita yang memikat dunia, apa yang bisa dilakukan FIFA agar Piala Dunia tetap menjadi panggung yang paling dinantikan setiap empat tahun sekali?
Kampanye FIFA untuk memperluas jumlah peserta Putaran Final Piala Dunia 2026 menjadi 48 tim awalnya dipuji oleh para petinggi sepak bola sebagai langkah visioner untuk membawa olahraga ini ke setiap sudut bumi. Namun, seiring dengan rampungnya babak kualifikasi dan munculnya daftar tim yang lolos, para pencinta sepak bola justru disuguhi sebuah paradoks yang menggelikan.
Negara-negara kecil dengan tradisi sepak bola semenjana seperti Curacao atau Haiti berhasil mengamankan tiket ke putaran final. Di sisi lain, pemilik empat gelar juara dunia, Italia, lagi-lagi harus gigit jari dan menjadi penonton layar kaca akibat nasib sial di beberapa laga kualifikasi.
Tak hanya itu, motif utama FIFA meningkatkan jumlah peserta sejatinya adalah urusan isi dompet—alias mendongkrak pendapatan komersial. Namun, format yang diterapkan saat ini justru berpotensi menjadi senjata makan tuan yang mencekik potensi ladang uang mereka sendiri.
Sengkarut Format 48 Tim di Piala Dunia 2026
Jika menilik peta populasi global, China dan India menguasai hampir 3 miliar penduduk, atau setara dengan 35 persen dari total populasi umat manusia di bumi. Absennya dua raksasa Asia ini di panggung Piala Dunia—termasuk pada edisi kali ini—merupakan sebuah kegagalan komersial yang sangat telak bagi FIFA.
Absennya mereka membuat penyelenggara kehilangan potensi hak siar televisi dalam skala raksasa, melepas pasar sponsor yang luar biasa menggiurkan, dan memangkas angka penjualan jersi yang seharusnya bisa meledak di dua pasar triliunan penduduk tersebut. Tengok saja bagaimana China hanya mau menawar hak siar Piala Dunia dengan harga murah berhubung tim nasional mereka tidak ikut bertanding.
Kehadiran tim-tim kecil seperti Curacao atau Haiti tentu tidak akan mampu memicu ledakan ekonomi global, pun tidak cukup kuat untuk mendongkrak kualitas kompetisi. Babak penyisihan grup kini justru berisiko dipenuhi oleh pertandingan-pertandingan yang timpang akibat jomplangnya kelas antar-tim.
Kondisi ini lambat laun akan menggerus daya tarik komersial turnamen secara drastis, sekaligus menurunkan gairah dan minat menonton dari kelompok pencinta sepak bola netral di seluruh penjuru dunia.
Solusi Wildcard dari Tenis: Jawaban atas Mutu dan Ladang Uang
Menghadapi ancaman penurunan daya pikat ini, sudah saatnya FIFA menanggalkan sistem kualifikasi tradisional yang kaku. Mereka perlu melirik kesuksesan model wildcard (suat khusus/jalur undangan) yang selama ini berjalan sukses di dunia tenis.
Suat wildcard pada turnamen Grand Slam biasanya diberikan langsung oleh panitia atau federasi negara penyelenggara kepada petenis yang peringkatnya tidak mencukupi untuk lolos langsung ke babak utama maupun kualifikasi.
Dalam sejarahnya, Goran Ivanisevic berhasil menjuarai Wimbledon 2001 justru setelah masuk lewat jalur wildcard, membuktikan bahwa “jalur undangan” pun bisa menciptakan sejarah emas. Jika FIFA mau mengalokasikan dua hingga empat tiket wildcard untuk putaran final, langkah ini akan berfungsi seperti “tangan tak terlihat” yang mampu mengoreksi ketimpangan daftar tim peserta.
Formula ini terbukti ampuh menjaga gengsi kepesertaan turnamen di level tertinggi, sekaligus memaksimalkan keuntungan finansial. Meski demikian, demi menjaga nilai keadilan dan sportivitas, mekanisme wildcard ini wajib diikat dengan regulasi yang sangat ketat.
Tentu tidak akan ada yang memprotes jika FIFA memberikan tiket wildcard kepada tim raksasa seperti Italia atau pasar raksasa seperti China. Sebab, kehadiran tim-tim ini akan mengalirkan pundi-pundi uang baru yang luar biasa besar bagi FIFA, yang nantinya bisa didistribusikan kembali ke seluruh federasi anggota.
Namun, agar tetap adil, FIFA dapat memodifikasi aturan mainnya. Sebagai contoh, sebuah negara tidak boleh menerima tiket wildcard dalam dua edisi Piala Dunia secara berturut-turut.
Aturan ini penting untuk mencegah negara-negara kaya atau federasi berkuasa memanfaatkan uang dan kejayaan masa lalu demi menyulap Piala Dunia menjadi turnamen eksklusif milik mereka sendiri.
Cepat atau lambat, FIFA tampaknya harus mulai mempertimbangkan opsi wildcard ini untuk menyelamatkan gengsi turnamen sekaligus memperkuat pengaruh kekuasaan mereka. Bagaimanapun, hak mutlak untuk membagikan tiket wildcard akan memberikan keuntungan yang luar biasa besar bagi FIFA, baik yang berwujud materi maupun pengaruh politik di dunia olahraga.
Scr/Mashable















