Kenaikan Harga BBM Jadi Beban Baru, MyPertamina Masih Sekadar Tempat Simpan QR Code?

10.06.2026
Kenaikan Harga BBM Jadi Beban Baru, MyPertamina Masih Sekadar Tempat Simpan QR Code?
Kenaikan Harga BBM Jadi Beban Baru, MyPertamina Masih Sekadar Tempat Simpan QR Code?

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi perhatian masyarakat Indonesia.

Setelah Pertamina melakukan penyesuaian harga sejumlah BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green pada Juni 2026, banyak pengguna kendaraan mulai memperhatikan pengeluaran transportasi harian mereka.

Harga Pertamax bahkan naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap harga BBM, muncul pertanyaan menarik. Mengapa aplikasi MyPertamina yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem digital Pertamina justru terbilang jarang digunakan oleh sebagian besar pengguna kendaraan?

Padahal, aplikasi tersebut sempat menjadi sorotan ketika pemerintah dan Pertamina menjalankan program Subsidi Tepat untuk memastikan penyaluran BBM subsidi lebih tepat sasaran.

Ketika harga BBM mengalami kenaikan, perhatian masyarakat umumnya tertuju pada besarnya biaya yang harus dikeluarkan saat mengisi bahan bakar.

Banyak pengguna kendaraan mencari informasi mengenai harga terbaru Pertamax, Pertamax Turbo, hingga Pertalite yang masih mendapatkan subsidi pemerintah.

Namun menariknya, kondisi tersebut tidak otomatis membuat penggunaan aplikasi MyPertamina meningkat secara signifikan. Sebagian besar konsumen ternyata hanya membutuhkan akses terhadap Kode QR Subsidi Tepat yang telah mereka miliki, bukan aplikasi secara keseluruhan.

Bagi pengguna Pertalite dan Solar subsidi, transaksi pembelian BBM tetap dapat dilakukan hanya dengan menunjukkan Kode QR yang sudah terdaftar.

Kode tersebut bisa disimpan di ponsel atau dicetak sehingga tidak mengharuskan pengguna membuka aplikasi setiap kali datang ke SPBU.

Pembelian BBM Subsidi Tidak Wajib Melalui Aplikasi

Salah satu alasan terbesar mengapa MyPertamina jarang dibuka adalah karena pengguna tidak diwajibkan melakukan transaksi melalui aplikasi tersebut.

Saat membeli Pertalite atau Solar subsidi, konsumen cukup menunjukkan Kode QR yang telah terhubung dengan data kendaraan mereka. Setelah kode dipindai petugas SPBU, proses pengisian BBM dapat langsung dilakukan.

Selain itu, metode pembayaran di SPBU juga sangat fleksibel. Konsumen masih bisa menggunakan uang tunai, kartu debit, kartu kredit, maupun QRIS tanpa harus mengakses aplikasi MyPertamina terlebih dahulu.

Kondisi ini membuat banyak pengguna merasa bahwa aplikasi hanya diperlukan saat proses pendaftaran awal atau ketika ingin memperbarui data kendaraan.

Pengguna di Daerah Lebih Mengandalkan Kode QR

Tantangan datang dari kualitas jaringan internet yang belum merata di seluruh Indonesia.

Di sejumlah daerah, terutama wilayah pelosok dan kota kecil, akses internet yang tidak stabil membuat penggunaan aplikasi secara real-time menjadi kurang nyaman. Dalam situasi seperti ini, keberadaan Kode QR fisik justru menjadi solusi yang lebih efektif.

Petugas SPBU hanya perlu memindai kode tersebut tanpa memerlukan proses login atau koneksi internet dari sisi pengguna.

Bisakah MyPertamina Menjadi Lebih Relevan?

Kenaikan harga BBM sebenarnya dapat menjadi momentum bagi Pertamina untuk meningkatkan nilai tambah aplikasi MyPertamina.

Misalnya dengan menghadirkan fitur pemantauan pengeluaran BBM bulanan, simulasi biaya perjalanan berdasarkan harga bahan bakar terbaru, notifikasi perubahan harga secara real-time, hingga program loyalitas yang memberikan keuntungan langsung kepada pengguna.

Jika aplikasi mampu menawarkan manfaat yang lebih nyata dalam membantu masyarakat mengelola pengeluaran transportasi, terutama saat harga BBM mengalami kenaikan, bukan tidak mungkin tingkat penggunaan MyPertamina akan meningkat di masa mendatang.

Scr/Mashable




Don't Miss