Michael Owen akhirnya angkat bicara mengenai salah satu perdebatan terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris. Mantan striker legendaris The Three Lions itu menegaskan bahwa kegagalan “Golden Generation” meraih trofi bukan disebabkan oleh konflik antarpemain atau kubu-kubuan di ruang ganti, melainkan karena pendekatan taktik yang dianggap kurang tepat.
Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, Owen yang akan menjadi kolumnis eksklusif Daily Mail Sport mengenang kembali perjalanan kariernya bersama Timnas Inggris dalam tiga edisi Piala Dunia, yakni 1998, 2002, dan 2006.
Dari semua pengalaman tersebut, ada satu keyakinan yang masih ia pegang hingga hari ini: Inggris seharusnya memiliki peluang lebih besar untuk sukses jika Glenn Hoddle tetap menjadi pelatih.
Selama bertahun-tahun, kegagalan Inggris pada era yang dihuni pemain-pemain bintang seperti Steven Gerrard, Frank Lampard, David Beckham, Rio Ferdinand, John Terry, hingga Michael Owen sering dikaitkan dengan rivalitas klub yang terbawa ke tim nasional.
Namun Owen menilai teori tersebut terlalu dibesar-besarkan. Ia mengaku terkejut ketika mendengar pernyataan yang menyebut Rio Ferdinand dan Steven Gerrard tidak pernah benar-benar akur selama membela Inggris.
Menurut Owen, memang ada kelompok-kelompok pemain yang biasa duduk bersama saat makan, seperti para pemain Manchester United yang cenderung berkumpul dengan rekan setim mereka. Namun hal itu bukan berarti terjadi permusuhan.
Bagi Owen, masalah utama justru terletak pada cara Inggris bermain di lapangan ketika menghadapi tim-tim elite dunia.
Owen menyebut Glenn Hoddle sebagai salah satu otak sepak bola terbaik yang pernah dimiliki Inggris. Ia bahkan yakin bahwa kombinasi Hoddle dan Generasi Emas Inggris bisa menjadi pasangan sempurna yang berpotensi mengubah sejarah sepak bola negaranya.
Menurut mantan penyerang Liverpool tersebut, tim Inggris pada era Sven-Goran Eriksson sering kali kesulitan menghadapi lawan-lawan kelas dunia karena kurang memiliki fleksibilitas taktik.
Salah satu pertandingan yang masih membekas di benaknya adalah kekalahan 1-2 dari Brasil pada perempat final Piala Dunia 2002.
Meski Brasil harus bermain dengan 10 pemain setelah Ronaldinho mendapat kartu merah, Owen merasa Inggris tetap gagal mengendalikan permainan. Bahkan, menurutnya, Inggris hampir tidak mampu menciptakan peluang berarti dalam situasi unggul jumlah pemain.
Ia menilai tim saat itu kurang cerdas secara taktik dan terlalu kaku dalam menjalankan strategi.
Perdebatan mengenai sulitnya menyatukan Steven Gerrard dan Frank Lampard di lini tengah sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun Owen tidak sepakat jika dua gelandang tersebut dijadikan kambing hitam.
Menurutnya, masalah sebenarnya adalah sistem 4-4-2 yang terlalu kaku sehingga membuat Inggris kalah jumlah pemain di sektor tengah ketika menghadapi lawan kuat.
Owen bahkan mengungkapkan bahwa permainan Inggris sering kali hanya mengandalkan bola-bola panjang ke arah Emile Heskey karena kesulitan membangun serangan dari lini tengah.
Gol yang ia cetak ke gawang Brasil pada 2002 maupun gol ke gawang Portugal di perempat final Euro 2004, menurutnya, juga lahir dari situasi yang tidak mencerminkan dominasi permainan Inggris.
Ia menilai tim terlalu sering memainkan sepak bola langsung karena keterbatasan taktik, bukan karena itu merupakan pilihan strategi terbaik.
Di sisi lain, Owen juga mengingatkan bahwa Generasi Emas Inggris terkadang terlalu percaya diri terhadap kualitas mereka sendiri.
Ia membandingkan skuad Inggris dengan Brasil yang menjadi juara dunia pada 2002.
Menurutnya, Brasil memiliki pemain-pemain kelas dunia di hampir semua posisi. Di sektor sayap, mereka diperkuat Cafu dan Roberto Carlos. Di lini depan terdapat trio Ronaldinho, Rivaldo, dan Ronaldo.
Sementara Inggris hanya mengandalkan duet Michael Owen dan Emile Heskey di lini serang.
Meski demikian, Owen tetap yakin peluang Inggris akan lebih besar jika Hoddle tetap menangani tim nasional.
Ketika ditanya apa yang akan dilakukan Hoddle jika menangani Generasi Emas, Owen memiliki jawaban yang jelas.
Menurutnya, Hoddle kemungkinan besar akan mempertahankan formasi 3-5-2 yang pernah digunakan pada Piala Dunia 1998.
Skema tersebut dianggap cocok karena Inggris memiliki banyak bek tengah berkualitas seperti John Terry, Sol Campbell, Rio Ferdinand, Gareth Southgate, Jonathan Woodgate, Jamie Carragher, dan Ledley King.
Dengan Gary Neville di sisi kanan dan Ashley Cole di sisi kiri sebagai wing-back, Owen merasa Inggris bisa menguasai bola lebih baik serta mengontrol pertandingan dibanding hanya mengandalkan permainan langsung.
Terlalu Ketat
Meski sangat mengagumi kecerdasan taktik Hoddle, Owen mengakui bahwa mantan pelatih Inggris itu terlalu keras dalam mengelola kehidupan pemain di luar lapangan.
Piala Dunia 1998 di Prancis menjadi salah satu pengalaman paling membosankan yang pernah ia rasakan.
Pada masa itu belum ada ponsel pintar, akses hiburan sangat terbatas, dan para pemain bahkan tidak diperbolehkan bertemu keluarga secara bebas.
Mereka hanya bisa melihat anggota keluarga dari kejauhan di tribun stadion.
Tidak hanya itu, pola makan para pemain juga diatur secara sangat ketat. Menu harian hampir selalu sama, berupa nasi, kentang rebus, pasta, dan ayam rebus.
Bahkan saus bolognese atau saus tomat pun nyaris tidak diperbolehkan.
Di ruang makan terpampang spanduk bertuliskan “Chew to Win”, sebuah filosofi yang menekankan pentingnya mengunyah makanan lebih lama demi meningkatkan proses pencernaan dan efisiensi energi tubuh.
Selain itu, para pemain rutin mengonsumsi berbagai suplemen dan kreatin yang direkomendasikan tim medis.
Menurut Owen, pendekatan tersebut memang bertujuan memaksimalkan performa atlet, tetapi membuat suasana kamp menjadi terlalu kaku dan melelahkan secara mental.
Kekacauan WAGs di Piala Dunia 2006
Jika kamp Prancis 1998 terlalu ketat, maka Piala Dunia 2006 di Jerman justru berada di sisi ekstrem yang berlawanan.
Turnamen tersebut terkenal dengan fenomena WAGs (Wives and Girlfriends) yang mendominasi pemberitaan media Inggris.
Kehadiran pasangan para pemain di Baden-Baden bahkan menjadi sorotan yang tak kalah besar dibanding performa tim di lapangan.
Namun Owen mengaku tidak terlalu tertarik dengan hiruk-pikuk tersebut.
Ia bahkan tidak pernah mengunjungi pusat keramaian tempat para WAGs berkumpul.
Sebelum berangkat ke Jerman, ia juga sempat berpesan kepada sang istri, Louise Owen, agar tidak sampai tertangkap kamera sedang berpesta atau menari di atas meja.
Menurut Owen, hal seperti itu justru akan mengganggu fokusnya selama turnamen berlangsung.
Piala Dunia 2006 menjadi turnamen terakhir Owen bersama Inggris. Tragisnya, perjalanan itu berakhir hanya dalam hitungan menit.
Pada laga terakhir fase grup, lututnya tiba-tiba tertekuk di menit pertama pertandingan. Cedera ligamen anterior (ACL) yang dideritanya membuat Owen harus menepi hampir satu tahun.
Ia mengaku sangat sulit menerima kenyataan bahwa impiannya di Piala Dunia berakhir dalam sekejap tanpa peringatan.
Dari semua momen dalam kariernya, satu yang paling dikenang dunia adalah gol spektakuler ke gawang Argentina pada babak 16 besar Piala Dunia 1998.
Gol tersebut dicetak saat Owen masih berusia 18 tahun dan langsung mengubah statusnya dari bintang muda Inggris menjadi ikon sepak bola internasional.
Menariknya, Owen mengaku hampir tidak pernah menonton ulang pertandingan itu.
Ia bahkan tidak yakin apakah anak-anaknya pernah melihat gol tersebut secara utuh.
Bagi Owen, mencetak gol ke gawang Argentina saat Piala Dunia adalah momen yang melampaui batas olahraga. Ke mana pun ia bepergian di dunia, selalu ada orang yang mengingat dengan detail di mana mereka berada ketika gol itu tercipta.
Meski dikenal sebagai striker tajam dan bermental kuat, Owen mengakui tekanan saat bermain untuk Inggris jauh berbeda dibanding membela klub.
Ia mengingat bagaimana perasaannya ketika berjalan menuju titik penalti dalam adu penalti melawan Argentina pada 1998.
Meski baru saja mencetak salah satu gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia, pikirannya tetap dipenuhi ketakutan akan kegagalan.
Menurut Owen, satu kesalahan di Piala Dunia bisa membekas selama empat tahun dan berpotensi mendefinisikan karier seorang pemain, baik dalam arti positif maupun negatif.
Namun pada saat yang sama, ia percaya tekanan tersebut bisa menjadi motivasi besar bagi para pemain muda Inggris yang akan tampil di Piala Dunia 2026.
Di penghujung wawancara, Owen memberikan pesan sederhana namun penuh makna kepada generasi baru Inggris yang kini dipimpin pelatih asal Jerman, Thomas Tuchel.
Menurutnya, Piala Dunia adalah panggung terbesar yang dapat mengubah hidup seorang pemain dalam semalam.
Karena itu, para pemain muda seperti Elliot Anderson, Nico O’Reilly, dan Marc Guehi tidak perlu takut menghadapi tekanan. Mereka harus menikmati kesempatan tersebut dan menunjukkan kemampuan terbaik di hadapan dunia.
Bagi Owen, kenangan indah dan penyesalan dari masa lalu masih tersimpan kuat. Namun satu hal yang ia yakini tidak pernah berubah: Piala Dunia selalu menjadi milik pemain yang berani mengambil peluang dan pelatih yang cukup cerdas untuk memaksimalkan potensi timnya.
Scr/Mashable
















