Piala Dunia selalu menghadirkan cerita besar bagi Brasil. Negara dengan koleksi lima gelar juara dunia itu datang ke edisi 2026 membawa satu misi yang terus digaungkan para pendukungnya: Rumo ao Hexa atau mengejar gelar keenam.
Namun langkah pertama menuju impian tersebut tidak berjalan mulus.
Di hadapan puluhan ribu penonton yang memadati MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Sabtu malam waktu setempat atau Minggu (14/06/2026) waktu Indonesia, Brasil harus puas berbagi angka setelah ditahan imbang 1-1 oleh Maroko dalam laga pembuka Grup C Piala Dunia 2026.
Hasil ini memang belum mengubur harapan Selecao. Akan tetapi, pertandingan tersebut menghadirkan sejumlah tanda tanya besar mengenai kesiapan tim asuhan Carlo Ancelotti untuk benar-benar bersaing memperebutkan trofi paling bergengsi di sepak bola dunia.
Sejak peluit awal dibunyikan, justru Maroko yang tampil lebih percaya diri.
Juara Piala Afrika itu langsung mengambil inisiatif permainan dan memaksa Brasil bertahan lebih dalam. Dalam 10 menit pertama, Maroko menguasai hampir 70 persen penguasaan bola dan melepaskan lima tembakan ke arah pertahanan lawan.
Brasil terlihat kesulitan mengembangkan permainan. Para pemain Selecao lebih sering berlari mengejar bola ketimbang mengontrol ritme pertandingan.
Di bawah komando kapten Achraf Hakimi, Maroko berulang kali mengeksploitasi sisi kiri pertahanan Brasil yang ditempati Douglas Santos. Serangan-serangan cepat Atlas Lions terus mengalir dari sektor tersebut, sementara lini tengah Brasil juga kerap kehilangan kontrol dan meninggalkan ruang kosong yang berbahaya.
Tekanan tanpa henti itu akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-21.
Berawal dari umpan Brahim Diaz yang berdiri bebas di area tengah lapangan, Ismael Saibari melakukan pergerakan cerdas di antara dua bek tengah Brasil, Gabriel dan Marquinhos. Penyerang Maroko tersebut kemudian menuntaskan peluang dengan tenang untuk membawa timnya unggul 1-0.
Gol tersebut menjadi hukuman atas buruknya koordinasi lini belakang Brasil yang sepanjang babak pertama tampak selalu terlambat mengantisipasi pergerakan lawan.
Jika ingin mengangkat trofi Piala Dunia untuk keenam kalinya, Brasil jelas harus memperbaiki cara mereka memulai pertandingan. Selecao tidak bisa terus membiarkan lawan mendikte permainan sejak menit pertama.
Ketika permainan Brasil terlihat buntu dan frustrasi mulai muncul, satu momen ajaib datang dari pemain yang digadang-gadang menjadi ikon baru sepak bola Brasil: Vinicius Junior.
Pada menit ke-32, bintang Real Madrid itu menunjukkan kualitas kelas dunia yang dimilikinya.
Menerima bola di sisi kiri serangan, Vinicius melakukan penetrasi sebelum melepaskan tembakan keras ke sudut atas gawang Maroko. Kiper Yassine Bounou bahkan nyaris tidak mampu bereaksi menghadapi kecepatan dan akurasi tendangan tersebut.
Gol itu bukan sekadar menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Lebih dari itu, gol Vinicius mengubah momentum pertandingan secara total.
Brasil yang sebelumnya tampak kehilangan arah mendadak bermain lebih percaya diri. Alur serangan mulai tersusun rapi, kombinasi antar lini menjadi lebih hidup, dan para pemain terlihat lebih nyaman menguasai bola.
Selecao menutup babak pertama dengan momentum positif dan melanjutkan dominasi tersebut hingga babak kedua. Meski gagal mencetak gol kemenangan, Brasil setidaknya berhasil keluar dari tekanan besar yang mereka alami di awal laga.
Sepanjang sejarah Piala Dunia, Brasil sering kali menemukan jalan menuju kejayaan melalui sosok pemain spesial.
Saat menjuarai Piala Dunia 1958, dunia menyaksikan kemunculan Pelé muda yang luar biasa. Empat tahun kemudian, Garrincha menjadi tokoh utama keberhasilan Brasil mempertahankan gelar.
Pada 1994, Romario membawa Brasil kembali ke puncak dunia. Sementara pada 2002, Ronaldo menjadi simbol dominasi Selecao saat merebut trofi kelima.
Kini, harapan itu tampaknya berada di pundak Vinicius Junior.
Gol ke gawang Maroko merupakan gol ke-10 Vinicius dalam 50 penampilan bersama tim nasional Brasil. Usianya yang masih berada dalam periode emas serta hubungannya yang sangat dekat dengan Carlo Ancelotti menjadi alasan kuat mengapa banyak pihak percaya dirinya dapat menjadi wajah utama Brasil di Piala Dunia 2026.
Keduanya sudah bekerja bersama dalam 209 pertandingan selama berada di Real Madrid. Kedekatan itu membuat Vinicius memahami secara mendalam filosofi permainan sang pelatih asal Italia.
Meski hanya pertandingan pertama, hasil imbang melawan Maroko tetap menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi para pendukung Brasil.
Sejarah ternyata tidak berpihak kepada mereka.
Dalam setiap keberhasilan Brasil menjuarai Piala Dunia, Selecao selalu memenangkan pertandingan pembuka fase grup. Kemenangan pertama kerap menjadi fondasi yang membawa mereka melaju jauh hingga akhirnya mengangkat trofi.
Dari 20 edisi Piala Dunia yang pernah diikuti, Brasil tercatat memenangkan 17 laga pembuka dan hanya tiga kali bermain imbang. Menariknya, mereka belum pernah kalah pada laga pertama Piala Dunia.
Karena itu, hasil seri melawan Maroko dianggap sebagai alarm dini bagi tim yang datang dengan status salah satu favorit juara.
Meski demikian, peluang lolos ke babak gugur masih sangat terbuka.
Brasil akan menghadapi Haiti pada pertandingan berikutnya di Philadelphia. Laga tersebut menjadi kesempatan emas untuk mengamankan tiga poin pertama sekaligus memperbaiki posisi di klasemen Grup C.
Setelah itu, Selecao akan menutup fase grup dengan menghadapi Skotlandia pada 24 Juni di Miami.
Laga melawan Maroko memperlihatkan dua wajah Brasil sekaligus.
Di satu sisi, mereka menunjukkan kelemahan yang cukup mengkhawatirkan, terutama dalam mengatasi tekanan lawan dan menjaga keseimbangan pertahanan. Di sisi lain, mereka masih memiliki kualitas individu luar biasa yang mampu mengubah pertandingan dalam sekejap.
Dan selama Vinicius Junior masih mampu menghadirkan momen-momen magis seperti yang ia tunjukkan di MetLife Stadium, mimpi Brasil untuk menambah satu bintang lagi di atas lambang tim nasional mereka belum akan padam.
Namun satu hal sudah jelas yaitu jalan menuju Hexa tidak akan semudah yang dibayangkan.
Scr/Mashable















