Piala Dunia 2026 sejauh ini menjadi panggung pembuktian kelayakan bagi sepak bola Asia. Setelah rentetan hasil positif yang diraih Korea Selatan, Qatar, dan Australia, giliran Jepang yang sukses mencuri perhatian.
Tampil heroik, tim Samurai Biru berhasil menahan imbang raksasa Eropa, Belanda, dengan skor 2-2 meski sempat dua kali tertinggal.
Awal gelaran Piala Dunia 2026 ini seolah menjadi sinyal kebangkitan sepak bola Asia. Empat wakil AFC tercatat belum terkalahkan saat berhadapan dengan tim-tim asal Eropa.
Catatan impresif ini menjadi penegasan bahwa posisi sepak bola Asia kini semakin diperhitungkan di panggung dunia.
Dominasi Asia Tak Tersentuh di Hadapan Wakil Eropa
Menilik laga-laga awal para wakil Asia di Piala Dunia 2026, ada satu benang merah yang sangat menarik: mereka kompak menolak kalah dari tim-tim Benua Biru.Kejutan dimulai saat Korea Selatan sukses menumbangkan Republik Ceko dengan skor 2-1. Skuad Taeguk Warriors tidak hanya menang skor, tetapi juga unggul segalanya di lapangan.
Mereka mendominasi ball possession hingga 61%, melepaskan 15 tembakan (dua kali lipat dari lawan), dan mencatatkan angka expected goals (xG) mencapai 2,4—tiga kali lipat dari Ceko. Laga ini menjadi bukti sahih bahwa wakil Asia mampu mendikte total permainan tim Eropa.
Tak kalah mengejutkan, Qatar berhasil memaksakan hasil imbang 1-1 melawan Swiss. Bagi Qatar, poin ini terasa sangat historis karena menjadi poin pertama mereka sepanjang sejarah keikutsertaan di Piala Dunia. Empat tahun lalu saat menjadi tuan rumah, mereka babak belur dan kalah di tiga laga fase grup.
Oleh karena itu, mencuri 1 poin dari Swiss yang bertengger di peringkat 17 FIFA adalah sebuah lompatan besar.
Australia kemudian memperpanjang napas positif AFC lewat kemenangan meyakinkan 2-0 atas Turki. Skuad Negeri Kanguru tampil sangat efektif dalam memanfaatkan peluang demi menumbangkan tim peringkat 22 FIFA tersebut.
Namun, jika harus memilih penampilan yang paling mengguncang panggung Piala Dunia 2026 sejauh ini, apresiasi tertinggi layak disematkan kepada Jepang.
Satu Poin Kontra Belanda Lebih Bernilai dari Sebuah Kemenangan
Di atas kertas, hasil imbang 2-2 melawan Belanda mungkin tidak terasa se-meledak kemenangan Korea Selatan atau Australia. Namun, jika melihat sejarah dan peta kekuatan, hasil ini bisa dibilang sebagai capaian paling bernilai bagi Asia di turnamen ini.
Belanda menapakkan kaki di Piala Dunia 2026 dengan status tim peringkat 7 FIFA—jauh di atas Republik Ceko (40) atau Turki (22). Tim Oranje juga merupakan salah satu tim paling tradisional di dunia dengan koleksi tiga gelar runner-up Piala Dunia, dan selalu masuk dalam bursa calon juara.
Sebelum laga ini digelar, Belanda memiliki rekor sempurna alias selalu menang dalam 5 pertemuan melawan wakil Asia di Piala Dunia. Jadi, ketika Belanda sempat unggul dua kali, banyak pihak mengira sejarah kelam Asia akan kembali terulang.
Namun, Jepang menolak menyerah pada takdir.
Anak asuh Hajime Moriyasu sama sekali tidak meraih poin ini karena faktor keberuntungan atau gol gaib di menit akhir. Memasuki babak kedua, Jepang justru mengambil alih kendali permainan.
Mereka unggul penguasaan bola 52%, melepaskan 7 tembakan (berbanding 6 milik Belanda), dan terus menekan hingga membuat lini pertahanan Belanda pontang-panting. Gol penyama kedudukan dari Daichi Kamada di menit ke-88 adalah hadiah yang sangat layak atas kerja keras tanpa henti dari wakil Asia ini.
Mengapa Jepang dan Korsel Terasa Lebih Spesial?
Jika disandingkan dengan hasil laga lainnya, nilai dari hasil imbang yang diraih Jepang ini terasa jauh lebih berbobot. Australia memang menang atas Turki, namun mayoritas kerangka tim mereka diisi oleh pemain-pemain keturunan Eropa.
Banyak pengamat menilai Australia tak ubahnya tim Eropa yang “menumpang hidup” di federasi AFC. Kesuksesan mereka dinilai kurang merepresentasikan perkembangan murni sepak bola Asia.
Di sisi lain, Qatar memang mencetak sejarah lewat poin perdana mereka, namun kerangka tim mereka masih sangat bergantung pada kebijakan naturalisasi pemain-pemain asal Afrika.
Berbeda cerita dengan Jepang dan Korea Selatan. Kedua negara ini adalah kiblat sepak bola yang tumbuh besar lewat kekuatan mandiri (local power). Mereka berinvestasi besar-besaran pada pembinaan usia muda, membangun sistem kompetisi domestik yang profesional, dan konsisten mengekspor talenta lokal ke klub-klub elite Eropa selama beberapa dekade.
Sebab itulah, pencapaian Jepang dan Korea Selatan terasa jauh lebih bermakna.
Korea Selatan sukses membalikkan kedudukan atas Ceko, sementara Jepang dua kali bangkit menantang salah satu tim terkuat di dunia. Sebuah kemenangan memang selalu berharga, namun terkadang, hasil imbang juga bisa terasa setara dengan kemenangan.
Bagi Jepang, satu poin dari Belanda adalah buktinya.
Scr/Mashable


















