Hasil imbang 1-1 saat bersua Republik Demokratik Kongo tidak hanya membuat Portugal kehilangan poin penting di laga pembuka grup. Lebih dari itu, laga ini kembali memantik perdebatan lama yang tak kunjung usai: Masihkah Cristiano Ronaldo layak menjadi tumpuan di usianya yang kini menginjak 41 tahun?
Panggung Piala Dunia 2026 baru saja memanjakan mata pencinta sepak bola lewat aksi memukau para bintang lini depan. Erling Haaland tampil menggila dengan torehan brace untuk membawa Norwegia menekuk Irak. Kylian Mbappe juga menyumbang dua gol dalam kemenangan Prancis atas Senegal.
Bahkan, sang rival abadi, Lionel Messi, menghentak turnamen lewat performa magis berupa hat-trick ke gawang Aljazair.
Di tengah gemuruh ekspektasi tersebut, Cristiano Ronaldo memasuki lapangan Stadion Houston dengan beban berat di pundaknya. Laga kontra RD Kongo sejatinya diplot sebagai panggung pembuktian bagi sang kapten.
Ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya belum habis dan masih sanggup bersaing di level tertinggi.
Namun, alih-alih menjadi pahlawan kemenangan, CR7 justru kembali terisolasi dalam laga krusial. Portugal sebenarnya memulai laga dengan sangat baik lewat gol cepat Joao Neves pada menit ke-6.
Sayangnya, dominasi penguasaan bola Selecao das Quinas gagal dikonversi menjadi peluang matang untuk menyudahi perlawanan musuh.
Di lini depan, Ronaldo tampak mati kutu. Striker Al Nassr ini sempat mendapatkan beberapa peluang dari umpan silang Francisco Conceicao, namun eksekusinya terlalu lemah untuk menaklukkan kiper lawan.
Sepanjang laga, Ronaldo lebih banyak turun menjemput bola atau menjadi pemantul bagi rekan-rekannya, ketimbang memberikan ancaman langsung ke gawang RD Kongo.
Hingga peluit panjang berbunyi, Ronaldo gagal menciptakan momen magis yang bisa diingat penonton. Sebaliknya, RD Kongo bermain spartan dan sukses menyamakan kedudukan menjadi 1-1 lewat aksi Yoane Wissa, sekaligus mengamankan poin bersejarah pertama mereka sepanjang keikutsertaan di Piala Dunia.
Ronaldo Bukan Lagi Pusat Permainan
Catatan minor ini sayangnya bukan sekadar laga buruk yang kebetulan. Ronaldo sejatinya masih sangat tajam di babak kualifikasi maupun bersama klubnya, Al Nassr. Musim lalu, ia sukses mengemas 28 gol dari 30 laga di Saudi Pro League.
Dalam perjalanan menuju Amerika Utara, ia juga mengantongi 5 gol dari 5 laga kualifikasi.
Namun, panggung turnamen akbar menceritakan realitas yang berbeda. Sejak gol penaltinya ke gawang Ghana di Piala Dunia 2022, Ronaldo tercatat hanya mampu menambah satu gol saja di kompetisi mayor antarnegara.
Mandulnya keran gol ini membentang panjang dari sisa laga Piala Dunia 2022, Euro 2024, hingga laga pembuka Piala Dunia 2026 ini.
Sebagai perbandingan di periode yang sama, Lionel Messi telah membukukan 9 gol di panggung Piala Dunia. Sepak bola tentu tidak bisa diukur lewat angka semata, namun statistik ini mempertegas penurunan pengaruh Ronaldo di atas lapangan.
Di usia 41 tahun, Ronaldo kehilangan kecepatan, akselerasi, dan mobilitas yang dulu menjadi momok menakutkan bagi bek lawan. Ia tetaplah predator berbahaya di dalam kotak penalti, namun untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya, tim harus membangun sistem permainan yang sepenuhnya melayani dirinya.
Hal inilah yang menjadi buah simalakama bagi Portugal. Ketika Ronaldo berada di lapangan, para pemain cenderung memaksakan arah bola kepadanya. Skema serangan ini membuat gaya main Portugal menjadi sangat monoton dan mudah dibaca oleh tim dengan pertahanan rapat terorganisasi seperti RD Kongo.
Dalam laga di Houston, Portugal menguasai bola tetapi minim kreasi. Ronaldo tidak lagi mampu mendikte permainan seperti dulu, sementara timnas Portugal tampak belum sepenuhnya siap menerima kenyataan tersebut.
Roberto Martinez Butuh Keputusan Berani
Jika ada satu topik yang memicu perdebatan panas di publik Portugal saat ini, hal itu bukanlah soal penurunan performa Ronaldo, melainkan bagaimana cara pelatih Roberto Martinez memanfaatkannya.
Ronaldo kembali turun sebagai starter dan bermain penuh selama 90 menit—sebuah kebijakan yang seolah menjadi harga mati di bawah kendali taktis pelatih asal Spanyol tersebut. Padahal, Piala Dunia adalah turnamen yang menuntut pragmatisme tingkat tinggi.
Keputusan di atas lapangan hijau tidak boleh lagi diambil hanya berdasarkan nama besar atau romantisme sejarah.
Portugal saat ini diberkahi generasi emas dengan kedalaman skuad yang luar biasa. Ada Bruno Fernandes, Vitinha, Bernardo Silva, Joao Neves, hingga Rafael Leao.
Ini adalah komposisi tim yang sangat mapan untuk berburu gelar juara, asalkan mesin tim bekerja secara kolektif. Pertanyaannya kini: Apakah Martinez berani menaruh kepentingan strategi tim di atas ego sang megabintang?
Di usia kepala empat, Ronaldo sejatinya tetap bisa menjadi kartu AS yang berharga pada momen-momen tertentu. Pengalaman, naluri gol, dan kepemimpinannya di ruang ganti tidak perlu diragukan.
Namun, menjadikannya pilihan mutlak yang harus bermain di setiap menit laga Piala Dunia jelas bukan lagi opsi yang bijak.
Hasil imbang kontra RD Kongo memang belum membuat Portugal berada dalam situasi krisis, mengingat peluang lolos ke fase gugur masih terbuka lebar. Kendati demikian, hasil ini menjadi alarm keras yang menguak masalah utama yang selama bertahun-tahun coba dihindari oleh publik sepak bola Portugal.
Cristiano Ronaldo akan selalu menjadi ikon terbesar dalam sejarah sepak bola Portugal. Namun, jika ingin melangkah jauh di Piala Dunia 2026, Portugal harus segera menemukan formula untuk menang, bahkan ketika eks bintang Manchester United dan Real Madrid itu tidak lagi bisa menjadi pembeda di lapangan.
Scr/Mashable















