Kemenangan 2-0 Argentina atas Austria pada pekan kedua Piala Dunia 2026 langsung menuai badai kritik. Pasca-laga yang berlangsung pada Selasa (23/6) dini hari WIB tersebut, publik sepak bola dunia ramai-ramai menyoroti sejumlah keputusan ganjil dari sang pengadil lapangan.Sorotan tajam langsung mengarah pada proses terjadinya gol pembuka dari Lionel Messi.
Sebelum bola bersarang di gawang Austria, Alexis Mac Allister terlihat terlibat benturan fisik dengan pemain Austria, Xaver Schlager. Alih-alih meniup peluit pelanggaran, wasit utama Mohamed Omar justru bergeming dan tetap mengesahkan gol Messi.
Dalam tayangan ulang (slow-motion), Mac Allister terlihat jelas memeluk tubuh Schlager dari belakang lalu mendorongnya hingga terjatuh. Banyak pengamat menilai aksi tersebut merupakan pelanggaran mutlak.
Meski demikian, sebagian pihak membela dengan argumen bahwa gelandang milik Liverpool itu sudah menyentuh bola terlebih dahulu sehingga aksi tersebut dianggap bersih.
Mantan kiper legendaris Denmark, Peter Schmeichel, bahkan tak sungkan melemparkan kritik pedas saat menjadi komentator pertandingan.
“Bagi saya, itu sama sekali tidak sah. Mac Allister jelas-jelas melakukan pelanggaran, dan Austria seharusnya mendapatkan hadiah tendangan bebas,” cetus Schmeichel.
Insiden Sikut Lautaro Martinez yang Lolos dari Kartu Merah
Kepemimpinan wasit Mohamed Omar kembali dipertanyakan pada masa injury time babak pertama (45+2′). Striker Argentina, Lautaro Martinez, terlibat duel udara yang sengit dengan Konrad Laimer.
Kamera pertandingan dengan jelas menangkap momen di mana Martinez melayangkan sikutnya tepat ke arah leher belakang Laimer.
Anehnya, saat Laimer melakukan protes keras atas tindakan berbahaya tersebut, wasit asal Mesir itu justru membentak balik gelandang Austria itu dengan gestur tangan yang menegaskan dirinya tidak akan mengeluarkan kartu apa pun untuk Martinez.
Di dalam regulasi sepak bola modern, tindakan menyikut—terlebih sengaja diarahkan ke area vital seperti leher belakang—merupakan pelanggaran berat yang dikategorikan sebagai perilaku kekerasan (violent conduct). Publik pun dibuat heran mengapa wasit utama maupun petugas di ruang Video Assistant Referee (VAR) sama sekali tidak mengintervensi atau meninjau ulang potensi kartu merah tersebut.
Netizen Ngamuk, Tuding Ada Konspirasi untuk Argentina
Keputusan-keputusan janggal ini langsung memicu gelombang kekecewaan di media sosial. Netizen dari berbagai belahan dunia menuding adanya perlakuan istimewa terhadap skuad Albiceleste.
“Apakah mereka semua di ruang VAR sudah buta?” tulis salah satu netizen dengan nada geram.
Netizen lain menimpali, “Itu pelanggaran kartu merah yang sangat jelas dan telanjang. Lalu untuk apa ada teknologi VAR di turnamen ini?”
Kontroversi kepemimpinan wasit asal Mesir ini pun memicu spekulasi liar mengenai transparansi jalannya Piala Dunia 2026. Apalagi, ini bukan kali pertama Argentina diuntungkan. Pada laga sebelumnya, Lionel Messi kedapatan melakukan tekel keras langsung ke arah betis pemain Aljazair tanpa menerima hukuman kartu sama sekali.
Insiden tersebut bahkan berbuntut panjang setelah Federasi Sepak Bola Aljazair (FAF) resmi melayangkan surat gugatan kepada FIFA.
Melalui kemenangan ini, Lionel Messi resmi menobatkan dirinya sebagai top skor sepanjang masa Piala Dunia, dan Argentina sukses mengamankan poin sempurna (6 poin) dari dua laga awal. Sayangnya, tinta emas keberhasilan sang megabintang dan kepastian langkah Albiceleste ke babak 32 besar harus ternoda oleh buruknya kinerja korps baju hitam di atas lapangan.
Scr/Mashable















