Ramalan Diego Maradona Soal Piala Dunia 2026 Jadi Kenyataan, Sindiran Masa Lalu yang Kini Terbukti

01.07.2026
Ramalan Diego Maradona Soal Piala Dunia 2026 Jadi Kenyataan, Sindiran Masa Lalu yang Kini Terbukti
Ramalan Diego Maradona Soal Piala Dunia 2026 Jadi Kenyataan, Sindiran Masa Lalu yang Kini Terbukti

Pernyataan mendiang Diego Maradona pada tahun 2018 silam mendadak kembali viral di media sosial. Sang legenda sepak bola Argentina tersebut secara mengejutkan sempat meramal bahwa Piala Dunia 2026 akan membawa perubahan yang sangat radikal.

Hampir enam tahun setelah kepergiannya, potongan wawancara Maradona kembali ramai diperbincangkan. Banyak pencinta sepak bola menilai prediksi sang maestro terbukti sangat akurat dengan apa yang tengah terjadi pada turnamen akbar di Amerika Utara saat ini.

Dalam wawancara di tahun 2018—tepat setelah FIFA meresmikan Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia 2026— Maradona secara blak-blakan menyatakan ketidaksetujuannya.

Pria yang mengantarkan Argentina menjuarai Piala Dunia 1986 itu menilai bahwa turnamen di kawasan Amerika Utara akan kehilangan atmosfer sepak bola tradisional. Ia juga sangat mengkhawatirkan faktor bisnis dan komersialisasi yang akan merusak nilai murni dari olahraga ini.

Saat itu, Maradona melontarkan sindiran tajam. Ia memprediksi bahwa orang-orang Amerika kemungkinan ingin membagi pertandingan menjadi “empat babak, yang masing-masing berdurasi 25 menit” hanya demi mendapatkan lebih banyak slot tayangan iklan televisi.

Selain itu, Maradona menilai Meksiko sebagai pihak yang paling diuntungkan dari kolaborasi tiga negara ini, meski menurut pandangannya, performa timnas mereka saat itu belum cukup layak berada di level tersebut.

“Tidak ada gairah sepak bola di sana. Orang-orang Kanada mungkin pemain ski yang hebat, sedangkan orang-orang Amerika hanya ingin pertandingan dibagi menjadi empat babak yang masing-masing berdurasi 25 menit demi kepentingan iklan,” kata mendiang Maradona, seperti dilansir dari Givemesport.

Jeda Minum yang Mengubah Ritme Permainan

Memasuki gelaran Piala Dunia 2026, kekhawatiran Maradona kini benar-benar menjadi kenyataan. FIFA secara resmi menerapkan kebijakan dua kali jeda istirahat untuk minum (cooling break) di setiap pertandingan.

Aturan ini secara praktis membagi jalannya laga menjadi empat fase.

Setiap jeda tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga menit, yang biasanya diberikan pada menit ke-22 hingga 25 di masing-masing babak. Aturan ini bersifat wajib dan berlaku untuk seluruh pertandingan, tanpa memedulikan kondisi cuaca maupun lokasi stadion.Regulasi baru ini langsung memicu gelombang perdebatan sengit dari para pengamat, pemain, pelatih, hingga suporter.

Tidak sedikit penonton di stadion yang mencemooh kebijakan ini karena dianggap merusak ritme dan intensitas pertandingan yang sedang seru. Di sisi lain, jeda ini memberikan ruang bernapas bagi stasiun televisi untuk meraup keuntungan lewat tayangan iklan komersial ekstra.

FIFA sendiri berdalih bahwa keputusan yang sudah diketok sejak Desember tahun lalu ini bertujuan untuk menjaga kondisi fisik para pemain agar tetap prima. Keputusan tersebut diambil berdasarkan evaluasi dari turnamen-turnamen sebelumnya, termasuk Piala Dunia Antarklub FIFA yang digelar di Amerika Serikat.

Meski begitu, hingga hari ini, perubahan regulasi tersebut terus dihujani kritik tajam dari para pencinta sepak bola dan pakar di seluruh dunia.

Scr/Mashable





Don't Miss