Pelatih kepala tim nasional Brasil, Carlo Ancelotti, memicu kontroversi panas usai timnya didepak Norwegia dari Piala Dunia 2026. Arsitek taktik asal Italia tersebut kedapatan menolak diwawancarai di area mixed zone dan memilih melimpahkan tugas berbicara kepada media kepada putranya sendiri sekaligus sang asisten pelatih, Davide Ancelotti.
Sikap ‘menghilang’ yang ditunjukkan eks pelatih Real Madrid di momen krusial ini langsung memanen kritik. Absennya Ancelotti memicu tanda tanya besar di kalangan publik mengenai bentuk tanggung jawabnya sebagai nakhoda utama skuad Selecao dalam menghadapi tekanan opini publik.
Mencoba meredakan situasi panas tersebut, Davide Ancelotti pasang badan dan berusaha mengecilkan masalah terkait absennya sang ayah.
“Saya tidak tahu pasti, semua itu tergantung pada dinamika momen setelah pertandingan dan ini bukan kapasitas saya untuk menjawab. Yang jelas, seluruh jajaran staf kepelatihan akan menanggung tanggung jawab ini bersama-sama,” ujar Davide.
Akibat absennya sang ayah, Davide terpaksa harus berdiri sendiri di garda terdepan untuk membela setiap keputusan teknis tim yang dikritik habis-habisan. Salah satu momen yang paling disorot tajam oleh media adalah kegagalan penalti Bruno Guimaraes di babak pertama.
Davide menegaskan bahwa penunjukan gelandang Newcastle United tersebut sebagai algojo penalti utama bukanlah keputusan mendadak, melainkan sudah disepakati dalam rapat internal tim sebelum laga dimulai.
“Di dalam sepak bola, sebuah penalti bisa saja gagal dieksekusi dan hal itu sayangnya terjadi hari ini,” tegas putra Ancelotti tersebut.
Meski sempat mangkir dari area mixed zone, Carlo Ancelotti pada akhirnya tetap menampakkan diri dan menghadiri sesi konferensi pers resmi pascapertandingan untuk menjawab pertanyaan wartawan. Kekalahan tipis 1-2 akibat gelontoran dua gol Erling Haaland ini resmi menyudahi perjalanan sang pelatih veteran bersama timnas Brasil di panggung Piala Dunia 2026.
Scr/Mashable















