Inter Milan memilih berhati-hati menyikapi situasi Alessandro Bastoni yang kini terseret penyelidikan dugaan prostitusi anak di bawah umur. Bek Timnas Italia itu mendapat pemberitahuan resmi sebagai bagian dari penyelidikan jaksa Milan terkait peristiwa yang disebut terjadi pada 2020.
Kasus ini mencuat setelah nama Bastoni masuk dalam penyelidikan lebih luas terhadap sebuah perusahaan acara di Milan. Perusahaan tersebut diduga mengatur malam hiburan “all-inclusive” untuk klien VIP, termasuk pesta mewah, makan malam, hingga akses ke apartemen pribadi.
Menurut laporan media Italia yang dikutip Football Italia dan The Guardian, Bastoni diduga membayar untuk berhubungan seksual dengan seorang perempuan berusia 17 tahun. Namun, perempuan tersebut telah diperiksa jaksa sebagai saksi dan membantah adanya hubungan seksual dengan pemain Inter Milan tersebut.
Pihak Bastoni juga membantah tuduhan itu. Pengacara sang pemain, Salvatore Scuto, menegaskan kliennya tidak pernah membayar untuk hubungan seksual, apalagi melakukan hubungan seksual dengan anak di bawah umur.
Penyelidikan ini disebut berkaitan dengan jaringan acara VIP di kawasan Cinisello Balsamo, dekat Milan. Jaksa menduga pihak agensi menyediakan apartemen pribadi bagi para klien yang ingin melanjutkan acara setelah makan malam atau pesta.
Dalam laporan yang beredar di media Italia, penyidik disebut memiliki sadapan komunikasi dari 2020. Isi komunikasi itu diduga menunjukkan percakapan mengenai kemungkinan pertemuan setelah makan malam, meski substansi kasus tetap harus dibuktikan melalui proses hukum.
The Guardian melaporkan bahwa jaksa menyebut peristiwa itu terjadi pada malam 11 Juli 2020. Di sisi lain, sejumlah laporan lain menulis dugaan tersebut berkaitan dengan periode Juni 2020, sehingga detail waktu tetap mengikuti perkembangan penyelidikan resmi.
Dalam hukum Italia, tindakan seksual dengan anak berusia 14 sampai 18 tahun yang melibatkan uang atau imbalan lain, termasuk yang baru dijanjikan, dapat masuk kategori pidana. Ancaman hukuman untuk perkara semacam itu disebut berkisar antara satu hingga enam tahun penjara.
Meski begitu, status Bastoni saat ini masih berada dalam tahap penyelidikan. Belum ada putusan pengadilan yang menyatakan bek berusia 27 tahun itu bersalah, sehingga asas praduga tak bersalah tetap menjadi dasar utama dalam membaca kasus ini.
Inter Milan disebut langsung menghubungi Bastoni setelah kabar tersebut mencuat. La Gazzetta dello Sport melaporkan bahwa klub tidak berniat meninggalkan sang pemain menghadapi perkara ini sendirian dan memilih memberi dukungan dalam situasi sulit tersebut.
Sikap Inter saat ini cukup jelas. Nerazzurri tidak ingin mengambil keputusan terburu-buru, termasuk menjual Bastoni hanya karena munculnya penyelidikan ini.
Namun, posisi transfer Bastoni tetap mengikuti dinamika pasar musim panas. Seperti beberapa pemain Inter lain, jika ada tawaran besar yang datang, klub dan pemain akan duduk bersama untuk membahas kemungkinan terbaik.
Rumor ketertarikan Barcelona sempat muncul pada awal musim panas, tetapi jalur itu disebut mulai meredup. Kini, perhatian justru mengarah ke Spanyol setelah muncul bisikan soal minat Real Madrid, terutama dikaitkan dengan Jose Mourinho.
Meski begitu, laporan terbaru menyebut belum ada kontak formal antara Real Madrid dan Inter Milan terkait Bastoni. Artinya, untuk saat ini belum ada negosiasi resmi yang benar-benar berjalan antara kedua klub.
Situasi ini membuat Inter berada di posisi menunggu. Klub tetap menjaga Bastoni sebagai bagian penting skuad, tetapi tidak menutup ruang evaluasi jika tawaran yang sangat menarik datang dalam bursa transfer.
Bastoni sendiri bukan pemain biasa bagi Inter. Ia merupakan salah satu bek tengah andalan Nerazzurri dan selama beberapa musim terakhir menjadi bagian penting dalam struktur pertahanan klub.
Pada Mei 2026, Bastoni bahkan masih menjadi salah satu wajah penting Inter setelah tampil dalam momen perayaan trofi domestik. Namanya melekat dengan generasi skuad yang membawa Nerazzurri bersaing di level tertinggi sepak bola Italia.
Kasus ini datang pada periode yang tidak mudah bagi Bastoni. Sebelumnya, ia juga menjadi sasaran kritik suporter Italia setelah Timnas Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026.
Kritik itu menguat karena Bastoni mendapat kartu merah cepat dalam kekalahan Italia dari Bosnia dan Herzegovina pada April 2026. Kekalahan tersebut ikut mengakhiri harapan Italia tampil di putaran final Piala Dunia.
Dua bulan sebelum itu, Bastoni juga sempat menuai kontroversi dalam laga Inter melawan Juventus. Ia dituduh melakukan simulasi yang berujung kartu merah keliru untuk bek Juventus, Pierre Kalulu.
Dalam insiden tersebut, Kalulu mendapat kartu kuning kedua dan harus meninggalkan lapangan. Juventus sempat berharap ada tinjauan VAR, tetapi kartu kuning kedua tidak dapat ditinjau melalui aturan VAR yang berlaku.
Inter kemudian memenangi laga itu dengan skor 3-2. Setelah pertandingan, Bastoni meminta maaf dalam konferensi pers dan mengakui telah melakukan simulasi pada momen tersebut.
Kini, perhatian publik kembali mengarah kepada Bastoni, tetapi dengan konteks yang jauh lebih serius. Perkara hukum ini tidak hanya menyangkut reputasi pribadi, melainkan juga masa depan kariernya di Inter dan Timnas Italia.
Bagi Inter, langkah paling aman adalah menunggu proses hukum berjalan sambil menjaga stabilitas internal tim. Klub tidak ingin mengambil keputusan emosional yang dapat merugikan posisi mereka di bursa transfer maupun ruang ganti.
Bagi Bastoni, pembuktian hukum akan menjadi titik penting untuk memulihkan situasi. Bantahan dari pihak pemain dan keterangan perempuan yang membantah hubungan seksual menjadi bagian penting dari pembelaan awal.
Namun, penyelidikan jaksa Milan tetap berjalan dan masih dapat berkembang. Karena itu, semua pihak perlu menunggu hasil resmi, bukan hanya bersandar pada potongan laporan, rumor transfer, atau tekanan opini publik.
Di tengah situasi tersebut, Real Madrid masih menjadi bayangan besar di pasar transfer. Akan tetapi, selama belum ada tawaran resmi, Bastoni tetap berstatus pemain Inter yang masih berada dalam perlindungan klubnya.
Kasus ini menempatkan Inter dalam dilema besar. Mereka harus menjaga pemain penting, menghormati proses hukum, sekaligus tetap realistis menghadapi kemungkinan tawaran besar dari klub elite Eropa.
Scr/Mashable















