Nama Mike Maignan masih menjadi bahasan menarik di kalangan pendukung AC Milan.
Musim 2025/2026 yang tidak berjalan sesuai harapan membuat sejumlah suporter mulai mempertanyakan apakah penjaga gawang asal Prancis itu masih layak menjadi pilihan utama Rossoneri atau sudah saatnya klub mencari sosok baru di bawah mistar.
Menurut saya, kritik tersebut memang bukan tanpa alasan. Beberapa gol yang bersarang ke gawang Milan musim lalu memunculkan anggapan bahwa performa Maignan mulai menurun dibandingkan ketika membawa klub meraih gelar Serie A beberapa musim lalu.
Namun, jika seluruh data dianalisis secara menyeluruh, rasanya kurang adil apabila seluruh penurunan performa AC Milan dibebankan kepada sang kiper.
Justru, statistik menunjukkan Maignan masih menjadi salah satu penjaga gawang yang paling sering menyelamatkan timnya.
Statistik Bersama AC Milan Masih Menunjukkan Performa Stabil
Berdasarkan data Opta Analyst, Mike Maignan tampil dalam 41 pertandingan di semua kompetisi sepanjang musim 2025/2026. Ia mencatatkan 37 penampilan di Serie A, tiga laga Coppa Italia, dan satu pertandingan Supercoppa Italiana dengan total waktu bermain mencapai 3.656 menit. Sepanjang musim, ia praktis tidak tergantikan dan hanya sekali tidak masuk dalam skuad.
Di tengah inkonsistensi performa AC Milan, Maignan masih mampu menjaga gawangnya tidak kebobolan dalam sejumlah laga penting, termasuk saat menghadapi Juventus, Inter Milan, Lazio, Bologna, Verona, Cagliari, Lecce, hingga AS Roma.
Lebih menarik lagi jika melihat jumlah penyelamatan yang dilakukannya sepanjang musim. Dalam beberapa pertandingan, Maignan tampil sebagai penyelamat utama Milan.
- 9 penyelamatan saat menghadapi Cagliari.
- 8 penyelamatan melawan Como.
- 7 penyelamatan ketika menghadapi AS Roma.
- 6 penyelamatan saat melawan Inter Milan, Napoli, dan Fiorentina.
Data tersebut menunjukkan satu hal penting: lini belakang Milan masih terlalu sering membiarkan lawan menciptakan peluang berbahaya. Dalam situasi seperti itu, Maignan berkali-kali menjadi benteng terakhir yang menyelamatkan tim.
Kebobolan Banyak, Tapi Tidak Selalu Salah Kiper
Memang benar AC Milan beberapa kali menelan hasil mengecewakan, seperti kalah 0-3 dari Udinese, 2-3 dari Atalanta, 0-2 dari Sassuolo, maupun bermain imbang 2-2 melawan Parma dan Sassuolo.
Namun sepak bola merupakan olahraga kolektif.
Seorang penjaga gawang hanyalah garis pertahanan terakhir. Ketika lini belakang gagal menutup ruang atau terlalu mudah ditembus lawan, peluang terjadinya gol tentu akan meningkat.
Jumlah penyelamatan Maignan yang tinggi justru mengindikasikan bahwa ia sering dipaksa bekerja lebih keras dibandingkan banyak kiper elite lainnya.
Jika dibandingkan dengan musim saat Milan menjuarai Serie A, memang terlihat adanya sedikit penurunan konsistensi. Akan tetapi, penurunan tersebut juga sejalan dengan performa tim secara keseluruhan yang mengalami pasang surut.
Masih Dipercaya Menjadi Kiper Utama Timnas Prancis
Argumen bahwa kualitas Mike Maignan telah habis juga terbantahkan oleh performanya bersama Timnas Prancis.
Pelatih Didier Deschamps tetap mempercayakan posisi penjaga gawang utama kepada Maignan sepanjang Piala Dunia FIFA 2026. Hingga babak perempat final, ia selalu tampil sebagai starter dalam lima pertandingan.

Dari lima laga tersebut, Maignan hanya kebobolan empat gol dan berhasil mencatatkan tiga clean sheet, sekaligus mempertahankan persentase penyelamatan yang sangat baik saat Les Bleus melangkah ke delapan besar.
Penampilan impresifnya dimulai sejak fase grup saat Prancis membuka turnamen dengan kemenangan 3-1 atas Senegal. Setelah itu Maignan mencatat clean sheet saat mengalahkan Irak 3-0, hanya kebobolan satu gol ketika menang 4-1 atas Norwegia, kembali menjaga gawang tetap steril dalam kemenangan 3-0 atas Swedia di babak 32 besar, hingga tampil gemilang saat Prancis mengalahkan Paraguay 1-0 pada babak 16 besar untuk memastikan tiket ke perempat final.
Jika seorang penjaga gawang masih dipercaya menjadi pilihan utama salah satu tim nasional terbaik di dunia pada turnamen sebesar Piala Dunia, tentu sulit mengatakan bahwa kualitasnya telah menurun drastis.
AC Milan Justru Bersiap Memberikan Kontrak Baru
Hal lain yang semakin memperkuat posisi Maignan adalah sikap manajemen AC Milan sendiri.
Maignan dikabarkan telah menyetujui kontrak baru hingga 2030 dengan nilai sekitar 5 juta euro per musim, belum termasuk bonus. Nilai tersebut melonjak signifikan dibandingkan gajinya saat ini yang berada di kisaran 2,8 juta euro per tahun.
Apabila kesepakatan tersebut benar-benar rampung, Maignan akan menjadi salah satu pemain dengan bayaran tertinggi di skuad AC Milan, sejajar dengan bintang utama mereka, Rafael Leão.
Bagi saya, keputusan ini menjadi indikator paling jelas bahwa Milan masih memandang Maignan sebagai bagian penting dari proyek jangka panjang klub. Sulit membayangkan sebuah klub memberikan kenaikan gaji hampir dua kali lipat kepada pemain yang dianggap tidak lagi layak menjadi pilihan utama.
Chelsea Masih Mengincarnya
Menariknya, kepercayaan terhadap Maignan bukan hanya datang dari AC Milan.
Laporan yang sama juga menyebut Chelsea masih belum menyerah untuk mendatangkan sang penjaga gawang ke Stamford Bridge. Klub asal London tersebut dikabarkan siap kembali mengajukan tawaran pada bursa transfer musim panas.
Rumor ini menunjukkan bahwa nilai Maignan di mata klub-klub elite Eropa masih sangat tinggi. Seandainya performanya benar-benar mengalami penurunan drastis, kecil kemungkinan Chelsea masih menjadikannya target utama.
Namun hingga saat ini, semua sinyal justru mengarah bahwa Milan masih ingin mempertahankannya sebagai penjaga gawang utama.
Usia 31 Tahun Justru Masa Emas Seorang Kiper
Musim panas ini Maignan memasuki usia 31 tahun. Berbeda dengan pemain di posisi lain, usia tersebut justru sering dianggap sebagai masa puncak seorang penjaga gawang.
Pengalaman membaca permainan, kemampuan mengorganisasi lini belakang, kepemimpinan di lapangan, hingga ketenangan dalam mengambil keputusan biasanya mencapai titik terbaik ketika seorang kiper memasuki usia 30-an.
Karena itu, saya melihat Maignan masih memiliki beberapa musim terbaik di level tertinggi sepak bola Eropa.
Masalah Milan Bukan Ada di Bawah Mistar
Menurut saya, persoalan utama AC Milan musim lalu bukanlah Mike Maignan.
Statistik menunjukkan ia masih melakukan banyak penyelamatan penting, masih dipercaya penuh oleh Timnas Prancis di Piala Dunia 2026, masih menjadi incaran klub sebesar Chelsea, bahkan hampir pasti mendapatkan kontrak baru berdurasi lima tahun dari AC Milan.
Jika semua fakta tersebut disandingkan, maka kritik yang menyebut Maignan sudah habis rasanya terlalu berlebihan.
Yang justru perlu segera dibenahi Milan adalah organisasi pertahanan tim. Terlalu seringnya lawan memperoleh peluang bersih membuat Maignan harus bekerja jauh lebih keras dibandingkan banyak kiper top lainnya.
Jika pertanyaannya adalah “Masih layakkah Mike Maignan di bawah mistar gawang AC Milan?”, jawaban saya tetap ya, masih sangat layak.
Tentu ia bukan tanpa kekurangan. Ada beberapa pertandingan di mana performanya berada di bawah standar yang biasa ia tunjukkan.
Namun, satu musim tidak cukup untuk menghapus reputasi seorang kiper yang telah membawa Milan meraih Scudetto, masih dipercaya menjadi kiper utama Timnas Prancis di Piala Dunia, dan kini justru menjadi salah satu pemain dengan gaji tertinggi di San Siro.
Data, statistik, serta kepercayaan yang diberikan baik oleh klub maupun negaranya menunjukkan bahwa Mike Maignan masih berada di level elite.
Tantangan terbesar AC Milan saat ini bukan mencari pengganti di bawah mistar gawang, melainkan membangun kembali lini pertahanan yang mampu mengurangi beban besar yang selama ini harus dipikul oleh salah satu penjaga gawang terbaik Eropa tersebut.
Scr/Mashable















