Saatnya Portugal Lepas dari Ketergantungan Masa Lalu

07.07.2026
Saatnya Portugal Lepas dari Ketergantungan Masa Lalu
Saatnya Portugal Lepas dari Ketergantungan Masa Lalu

Cristiano Ronaldo bukan lagi solusi utama bagi tim nasional Portugal. Kekalahan menyakitkan dari Spanyol di babak 16 besar Piala Dunia 2026 menjadi bukti sahih bahwa siklus sang megabintang di tim nasional sudah sepatutnya berakhir.

“Cristiano Ronaldo: Kami tidak ingin menjatuhkanmu, tapi cukup sudah,” tulis jurnalis Francisco Vaz de Miranda dalam kolom opini tajamnya di media ternama Portugal, A Bola.

Portugal harus angkat koper dari Piala Dunia 2026 setelah takluk 0-1 dari Spanyol. Namun, masalah sejatinya bukan sekadar gol di menit-menit akhir pertandingan.

Kekalahan ini menelanjangi fakta yang sudah terjadi selama bertahun-tahun: Portugal memiliki segudang pemain berkualitas, tetapi selalu tampil melempem dan tidak meyakinkan setiap kali berlaga di pertandingan besar.

Martinez Bayar Mahal Keberanian yang Minim

Pelatih Roberto Martinez menjadi sosok yang paling bertanggung jawab atas kegagalan ini. Pelatih asal Spanyol tersebut sejak awal dipilih oleh Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) sebagai opsi yang ‘aman’, lembut, dan jarang memicu konflik.

Namun, sepak bola level tertinggi tidak butuh diplomasi. Sepak bola modern menuntut keputusan yang berani dan tegas, terutama di momen-momen krusial yang menentukan hidup-mati tim.

Saat menghadapi Spanyol, Martinez kembali menunjukkan keragu-raguannya. Ketika Portugal terus-menerus ditekan sepanjang babak kedua, ia sama sekali tidak memasukkan Gonçalo Ramos.

Ini adalah keputusan yang sangat sulit dipahami. Padahal, Ramos sudah terbukti mampu membuat perbedaan di momen-momen penting. Di saat Portugal sangat membutuhkan perubahan karakteristik di lini serang, Martinez justru mempertahankan struktur lama dan terus memaksakan kepercayaannya pada Cristiano Ronaldo hingga peluit panjang berbunyi.

Ronaldo memang bukan satu-satunya penyebab Portugal tersingkir. Namun, keputusan memainkannya secara penuh adalah simbol nyata dari ketergantungan ekstrem timnas Portugal pada sosok ikon yang masa kejayaannya telah lewat.

Di usianya saat ini, Ronaldo mungkin masih bisa memberikan kontribusi di momen-momen tertentu. Masalahnya, Portugal tidak bisa lagi bermain dengan memperlakukan CR7 sebagai pusat absolut dari semua rencana permainan.

Kondisi ini terasa sangat disayangkan mengingat Portugal saat ini memiliki generasi pemain yang luar biasa. Lini tengah yang dihuni Bruno Fernandes, Vitinha, Bernardo Silva, serta opsi menyerang seperti Rafael Leão, João Félix, hingga Gonçalo Ramos, seharusnya mampu membentuk tim yang lebih fleksibel, modern, dan sulit ditebak.

Namun, di bawah asuhan Martinez, tim ini berkali-kali bermain di bawah ekspektasi.

Dari total laga yang dimainkan di Piala Dunia, Portugal setidaknya menunjukkan dua performa yang sangat mengecewakan saat fase grup, yakni ketika menghadapi Kongo dan Kolombia. Itu bukan lagi sebuah kebetulan, melainkan sinyal bahwa sistem permainan Portugal memang tidak pernah berjalan mulus.

Jika saja mereka mampu menang atas Kolombia, Portugal bisa menghindari Spanyol di babak 16 besar dan masuk ke jalur bagan yang lebih menguntungkan. Namun, performa loyo di fase grup justru menjerumuskan mereka ke dalam situasi sulit ini.

Oleh karena itu, argumen bahwa “kalah dari Spanyol tidak memalukan karena mereka juara Eropa” hanya benar sebagian. Masalah utamanya bukan pada siapa yang mengalahkan Portugal, melainkan bagaimana Portugal menjerumuskan diri mereka sendiri ke posisi tersebut.

Ronaldo Tidak Bisa Selamanya Jadi Pusat Dunia

Ronaldo adalah kebanggaan terbesar dalam sejarah sepak bola Portugal. Tidak ada yang bisa membantah apa yang telah ia dedikasikan untuk negara selama lebih dari dua dekade.

Namun, justru karena statusnya yang sangat besar itulah, proses regenerasi dan perpisahan dengan peran utamanya menjadi sangat sulit dilakukan.

Ronaldo sempat berujar bahwa orang-orang mencoba “menjatuhkannya” selama 23 tahun terakhir. Namun, situasi saat ini bukan lagi soal mengkritik atau tidak menghormati warisan (legacy) miliknya.

Tidak ada yang perlu menjatuhkan Ronaldo. Masalahnya jauh lebih sederhana: sudah waktunya Portugal melangkah maju.

Sebuah tim nasional yang besar tidak boleh terus-menerus beroperasi hanya di seputar ego dan status satu individu, sebesar apa pun nama pemain tersebut. Ronaldo tetap bisa berguna jika digunakan di peran yang tepat, waktu yang tepat, dan situasi yang tepat.

Namun, ia tidak bisa lagi menjadi pilihan otomatis di setiap laga, apalagi menjadi pemain yang ‘haram’ diganti dalam tensi tinggi babak gugur.

Hal yang menjadi pertanyaan besar bagi publik Portugal bukanlah soal apakah Ronaldo masih memiliki ambisi. Dia jelas masih berjuang, masih haus mencetak gol, dan masih ingin memimpin tim.

Namun, ambisi besar tidak otomatis menghasilkan efektivitas. Ketika pertandingan membutuhkan kecepatan, kemampuan pressing, pergerakan tanpa bola yang intens, serta fleksibilitas serangan, Portugal butuh sosok striker nomor 9 yang berbeda.

Itulah mengapa keputusan Martinez untuk tidak menarik keluar Ronaldo menjadi poin paling kontroversial. Dalam 20 menit terakhir laga, Portugal butuh suntikan energi dari bangku cadangan.

Mereka butuh penyerang yang bisa mengoyak dan merenggangkan lini pertahanan Spanyol, memberikan tekanan baru, dan membuka ruang. Namun, perubahan taktis itu tidak pernah datang.

Jika kabar mengenai Jorge Jesus akan mengambil alih kursi pelatih Portugal itu benar, ia akan dihadapkan pada tugas yang sangat berat: merombak skuad yang kaya bakat tetapi terjebak dalam kebiasaan lama. Perubahan tidak boleh hanya terjadi di kursi pelatih, tetapi juga di atas lapangan, di mana Ronaldo tidak boleh lagi menjadi pusat absolut permainan.

Portugal harus berhenti sekadar bicara dan mulai bertindak. Mereka tidak bisa terus-menerus mengeklaim memiliki generasi terbaik dalam sejarah, tetapi selalu masuk ke turnamen besar dengan mentalitas yang ragu-ragu, minim nyali, dan bergantung pada masa lalu.

Generasi Luis Figo, Deco, Ricardo Carvalho, Maniche, hingga Nuno Gomes dahulu tidak butuh kata-kata manis untuk membuktikan kehebatan mereka. Mereka membuktikannya langsung lewat performa nyata di atas lapangan.

Ronaldo sangat layak dihormati. Namun, menghormati bukan berarti harus mempertahankan dan mengikatnya mati-matian dengan mengorbankan tim. Terkadang, cara terindah untuk menjaga warisan seorang legenda adalah dengan berani mengakui bahwa siklusnya memang telah berakhir.

Portugal mungkin kalah dari Spanyol karena satu momen brilian dari Mikel Merino. Namun, kekalahan yang jauh lebih besar sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum laga itu, yaitu ketika tim nasional tidak punya cukup keberanian untuk membebaskan diri dari ketergantungan pada seorang Cristiano Ronaldo.

Scr/Mashable





Don't Miss