Thomas Helveg Ungkap Cara Paolo Maldini Menanamkan DNA AC Milan

21.07.2026
Thomas Helveg Ungkap Cara Paolo Maldini Menanamkan DNA AC Milan
Thomas Helveg Ungkap Cara Paolo Maldini Menanamkan DNA AC Milan

Mantan bek Timnas Denmark Thomas Helveg mengungkap cerita menarik tentang bagaimana Paolo Maldini menyambutnya saat pertama kali bergabung dengan AC Milan.

Bukan melalui pidato resmi atau sesi orientasi panjang, legenda Rossoneri itu justru mengajaknya minum kopi dan menjelaskan filosofi klub yang telah menjadi salah satu kekuatan terbesar di sepak bola Eropa.

Kisah tersebut diungkap Helveg dalam wawancaranya bersama La Gazzetta dello Sport. Pengalaman itu menjadi salah satu momen yang paling membekas sepanjang kariernya di Italia, setelah sebelumnya memperkuat Udinese sebelum akhirnya membela AC Milan dan Inter Milan.

Bagi Helveg, percakapan singkat bersama Maldini menjadi pintu masuk untuk memahami budaya kerja dan mentalitas juara yang selama puluhan tahun melekat pada Rossoneri.

Paolo Maldini Sambut Thomas Helveg dengan Secangkir Kopi

Helveg masih mengingat jelas hari pertamanya di Milanello. Ia mengaku datang dengan rasa kagum melihat pusat latihan AC Milan yang saat itu dihuni banyak pemain kelas dunia.

Namun yang paling berkesan justru adalah sambutan dari Paolo Maldini.

“Pada hari pertama saya di tempat latihan, Paolo Maldini datang menjemput saya dan mengajak saya minum kopi. Dalam waktu sekitar setengah jam, dia menjelaskan kepada saya apa itu AC Milan dan bagaimana saya harus bersikap,” ujar Helveg.

Menurut Helveg, pertemuan sederhana tersebut jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar perkenalan biasa.

Maldini menjelaskan nilai-nilai yang harus dipegang setiap pemain yang mengenakan seragam merah-hitam, mulai dari profesionalisme, kerja keras, hingga tanggung jawab terhadap klub.

Budaya Kerja Keras Jadi Identitas AC Milan

Selain Maldini, Helveg juga belajar dari sejumlah pemain senior yang menjadi ikon AC Milan saat itu, seperti George Weah, Alessandro Costacurta, hingga pemain-pemain lain yang setiap hari menunjukkan standar latihan sangat tinggi.

Helveg mengaku dirinya memang dikenal sebagai pemain yang selalu bekerja keras. Namun ketika bergabung dengan AC Milan, ia menyadari standar yang dimiliki para juara jauh lebih tinggi.

“Saya adalah pemain yang selalu memberikan segalanya. Tetapi mereka adalah para juara dan mereka tidak pernah mengurangi intensitas latihan sedikit pun”, ucapnya.

Pengalaman tersebut membuatnya memahami mengapa AC Milan mampu menjadi salah satu klub terbaik di Eropa pada era tersebut.

Milanello Bikin Helveg Takjub

Helveg juga mengenang suasana Milanello saat pertama kali datang untuk menandatangani kontrak bersama AC Milan.

Ia menggambarkan tempat latihan legendaris itu sebagai lokasi yang memberikan kesan mendalam.

“Milanello adalah tempat yang luar biasa. Saat datang untuk menandatangani kontrak, tidak ada siapa pun di sana. Saya berjalan-jalan seperti anak kecil yang sedang berada di taman hiburan.”

Baginya, bergabung dengan AC Milan merupakan mimpi besar yang akhirnya menjadi kenyataan.

Alberto Zaccheroni Jadi Sosok Penting dalam Perkembangannya

Sebelum memperkuat AC Milan, Helveg lebih dulu berkembang bersama Udinese di bawah arahan Alberto Zaccheroni.

Ia menyebut Zaccheroni sebagai pelatih yang sangat membantunya memahami permainan sepak bola modern.

“Saya membawa banyak hal indah dari Zaccheroni. Saya berkembang sangat pesat bersamanya”, ungkap Helveg.

Helveg mengungkapkan bahwa pada sesi latihan pertama, Zaccheroni memberi pesan sederhana kepada seluruh pemain.

“Jangan khawatir jika saya berteriak kepada kalian. Justru kalian harus khawatir jika saya mulai mengabaikan kalian.”

Menurut Helveg, Zaccheroni sering memanggilnya secara khusus untuk menjelaskan posisi ketika menyerang maupun bertahan.

Pendekatan tersebut membuatnya berkembang menjadi bek sayap yang lebih produktif.

“Saya membuat banyak assist pada masa itu. Saya mengirim umpan silang dan Oliver Bierhoff mencetak gol.”

Carlo Ancelotti Bangun Ruang Ganti yang Solid

Setelah era Zaccheroni, Helveg juga sempat bekerja sama dengan Carlo Ancelotti di AC Milan.

Ia mengatakan hubungan antarpemain saat itu sangat harmonis.

“Baik bersama Zaccheroni maupun Ancelotti, kami memiliki ruang ganti yang fantastis. Kami akrab, baik di dalam maupun di luar lapangan”, ungkap Helveg.

Helveg juga memberikan pujian khusus kepada Zvonimir Boban, yang menurutnya memiliki kemampuan luar biasa.

“Boban adalah seorang pesulap. Sulit menjelaskan apa yang bisa dia lakukan dengan bola. Kadang saya melihatnya bermain dan bertanya-tanya bagaimana dia bisa melakukan itu”, ungkapnya.

Silvio Berlusconi Pernah Menyebutnya “Singa Tuli”

Salah satu pengalaman yang masih diingat Helveg adalah ketika mantan presiden AC Milan Silvio Berlusconi pernah menjulukinya sebagai “singa tuli”.

Ia mengaku hingga kini tidak memahami alasan di balik pernyataan tersebut.

“Presiden pernah menyebut saya singa tuli. Saya tidak pernah mengerti mengapa.”

Beberapa hari setelah komentar itu muncul, Berlusconi sempat menghubunginya.

“Dia menelepon saya dan mengatakan bahwa dia tidak pernah mengucapkan hal seperti itu. Tetapi saya tidak benar-benar mempercayainya.”

Helveg mengakui dirinya sempat merasa kecewa, meski akhirnya memilih melupakan kejadian tersebut.

Tetap Memberikan Segalanya Meski Pindah ke Inter Milan

Karier Helveg kemudian berlanjut bersama Inter Milan melalui kesepakatan pertukaran pemain.

Meski demikian, ia mengaku sebenarnya ingin bertahan lebih lama di AC Milan.

Menurutnya, para pendukung Rossoneri memahami situasi tersebut.

“Saat Trofeo TIM, para pendukung AC Milan tetap memberikan tepuk tangan kepada saya. Mereka tahu saya menjadi bagian dari pertukaran pemain dan saya tidak memiliki pilihan.”

Sesampainya di Inter, beberapa suporter sempat bercanda mengenai pergantian warna seragamnya.

Namun Helveg menegaskan profesionalismenya sebagai pemain.

“Saya selalu memberikan segalanya di setiap pertandingan, meskipun AC Milan tetap ada di hati saya.”

Paolo Maldini Tinggalkan Kesan Mendalam

Cerita Thomas Helveg memperlihatkan bahwa Paolo Maldini tidak hanya dikenal sebagai salah satu bek terbaik sepanjang sejarah sepak bola, tetapi juga sosok yang berperan penting dalam menjaga identitas AC Milan.

Lewat percakapan sederhana sambil menikmati secangkir kopi, Maldini berhasil memperkenalkan nilai-nilai yang menjadi fondasi Rossoneri selama bertahun-tahun. Bagi Helveg, pelajaran tersebut menjadi bekal berharga yang terus dikenangnya, bahkan setelah bertahun-tahun meninggalkan San Siro.

Sumber foto: Instagram

Scr/Mashable





Don't Miss