Starter 31 Laga Pun Tak Aman, Ruben Amorim Mulai Bongkar AC Milan

14.08.2026
Starter 31 Laga Pun Tak Aman, Ruben Amorim Mulai Bongkar AC Milan
Starter 31 Laga Pun Tak Aman, Ruben Amorim Mulai Bongkar AC Milan

Fikayo Tomori tampil sebagai starter dalam 31 dari 38 pertandingan Serie A musim lalu, tetapi catatan tersebut ternyata belum cukup menjamin masa depannya bersama AC Milan. Bek Inggris itu kini termasuk pemain yang dapat dilepas dalam perombakan skuad Ruben Amorim.

Situasi Tomori menjadi gambaran paling jelas bahwa perubahan yang dilakukan Ruben Amorim bukan sekadar menyingkirkan pemain cadangan atau mereka yang jarang digunakan. Sejumlah pemain reguler justru mulai dievaluasi karena Milan ingin membangun skuad dengan karakter berbeda.

Dilansir talkSPORT, Jumat (14/08/2026) keputusan membuka pintu transfer untuk Tomori muncul setelah Ruben Amorim melakukan pembicaraan dengan co-owner Milan, Gerry Cardinale. Christopher Nkunku dan Youssouf Fofana juga termasuk nama yang berpotensi meninggalkan San Siro sebelum bursa ditutup.

Belum ada keputusan resmi bahwa ketiganya pasti dijual, sehingga situasinya masih bergantung pada tawaran dan perkembangan beberapa pekan mendatang. Namun, daftar tersebut cukup untuk memperlihatkan bahwa Amorim tidak merasa terikat oleh hierarki skuad yang diwarisinya.

Ruben Amorim Tidak Sekadar Membuang Pemain Cadangan

Kasus Tomori menarik karena pemain berusia 28 tahun tersebut masih mempunyai posisi penting dalam pertahanan Milan sepanjang musim 2025/2026. Selain menjadi starter 31 kali di Serie A, ia telah mengoleksi sekitar 214 penampilan bersama Rossoneri.

Tomori juga bukan pemain tanpa prestasi karena pernah membantu Milan menjuarai Serie A dan Supercoppa Italiana, sekaligus mengoleksi enam caps bersama Inggris. Namun, kontraknya hanya tersisa satu tahun sehingga klub menghadapi keputusan finansial yang semakin mendesak.

Milan pada dasarnya memiliki tiga pilihan: memperpanjang kontraknya, mempertahankan sang pemain dengan risiko kehilangan secara gratis, atau menjualnya sekarang. Dalam konteks pembangunan ulang Ruben Amorim, opsi terakhir menjadi semakin masuk akal apabila ada tawaran sesuai valuasi klub.

Laporan di Italia memperkirakan Milan dapat mempertimbangkan angka sekitar 20 juta euro untuk Tomori, meski harga akhirnya tetap bergantung pada negosiasi. Nilai tersebut relatif terjangkau bagi klub Premier League yang membutuhkan bek tengah berpengalaman di level tertinggi.

Persoalan Tomori Mungkin Ada pada Profil Permainannya

Ada alasan taktikal yang membuat posisi Tomori menjadi menarik untuk dianalisis karena Ruben Amorim terkenal menuntut bek yang nyaman ketika membangun serangan. Kecepatan dan agresivitas Tomori tetap berharga, tetapi distribusi bola dari belakang memiliki bobot besar dalam struktur tiga bek.

Pada laga pramusim menghadapi Celtic, Ruben Amorim menempatkan Tomori sebagai bek kanan dalam trio bersama Matteo Gabbia dan Strahinja Pavlovic. Eksperimen tersebut menunjukkan sang pelatih tetap memberikan kesempatan, tetapi sekaligus sedang menguji kombinasi yang paling cocok untuk sistemnya.

Tomori kemudian digantikan Mario Gila saat jeda, detail yang belum tentu berarti keputusan permanen tetapi menarik setelah Milan merekrut bek Spanyol tersebut. Gila datang dari Lazio dan mendapatkan kontrak jangka panjang sampai 30 Juni 2031.

Gila masih berusia 25 tahun dan telah memainkan 120 pertandingan selama empat musim bersama Lazio, membuatnya membawa pengalaman Serie A tanpa kehilangan nilai jangka panjang. Kehadirannya memberikan Ruben Amorim alternatif sekaligus meningkatkan kemungkinan Milan menerima penawaran untuk Tomori.

Nkunku Justru Lebih Mengejutkan

Jika situasi Tomori sudah cukup menarik, keberadaan Christopher Nkunku dalam daftar pemain yang dapat dilepas mungkin lebih mengejutkan. Milan baru mendatangkan penyerang Prancis tersebut dari Chelsea pada musim panas 2025 dengan investasi besar dan kontrak lima tahun.

Nilai transfer Nkunku dilaporkan berada di sekitar 42 juta euro, membuat kemungkinan menjualnya setelah hanya satu musim terlihat sebagai keputusan yang sangat agresif. Hal tersebut mengindikasikan Ruben Amorim lebih memprioritaskan kecocokan terhadap proyek dibanding biaya yang sebelumnya dikeluarkan klub.

Secara statistik, musim pertama Nkunku juga tidak bisa sepenuhnya dikategorikan gagal karena ia membukukan tujuh gol dan tiga assist dalam 32 penampilan Serie A. Menariknya, 10 kontribusi gol tersebut diperoleh hanya dari 1.351 menit pertandingan.

Persoalannya kemungkinan terletak lebih dalam daripada jumlah gol karena Ruben Amorim harus menentukan bagaimana Nkunku ditempatkan dalam struktur 3-4-2-1 miliknya. Kompetisi di area belakang striker juga semakin padat setelah Milan melakukan investasi besar pada lini depan.

Kedatangan Goncalo Ramos Mengubah Peta Serangan

Milan telah mengeluarkan lebih dari 70 juta euro untuk membawa Goncalo Ramos dari Paris Saint-Germain dan mengikat striker Portugal tersebut sampai 2031. Transfer besar itu secara otomatis mengubah hierarki sekaligus komposisi pemain menyerang yang tersedia bagi Ruben Amorim.

Ramos menawarkan profil nomor sembilan yang lebih natural, sementara dua tempat di belakang striker membutuhkan pemain dengan karakter spesifik. Christian Pulisic, Rafael Leao dan beberapa opsi lain membuat persaingan semakin ketat, sehingga fleksibilitas Nkunku belum tentu menjamin tempat.

Dari perspektif ekonomi, menjual Nkunku dengan harga yang masih tinggi juga memberi Milan kesempatan memulihkan sebagian besar investasi sebelum nilainya berpotensi turun. Roma sudah disebut sebagai salah satu klub yang mempertimbangkan sang pemain dengan kisaran sekitar 30 juta euro.

Artinya, keputusan mengenai Nkunku bisa menjadi contoh bagaimana Ruben Amorim dan manajemen menyeimbangkan kebutuhan sepak bola dengan neraca transfer. Pemain produktif sekalipun dapat dikorbankan apabila profilnya tidak dianggap ideal atau penjualannya membuka ruang untuk investasi berikutnya.

Youssouf Fofana Juga Tak Aman meski Starter 28 Kali

Youssouf Fofana memperkuat kesan bahwa perombakan Milan menyasar pemain utama, bukan sekadar lapisan kedua dalam skuad. Gelandang Prancis tersebut tampil 33 kali di Serie A musim lalu dengan 28 kali menjadi starter dan memainkan 2.218 menit.

Ia juga menghasilkan dua gol dan tiga assist, angka yang memang bukan luar biasa tetapi cukup menunjukkan keterlibatannya secara konsisten. Namun, laporan di Italia menempatkan Fofana dalam posisi borderline dengan Milan diperkirakan menginginkan setidaknya sekitar 25 juta euro.

Di lini tengah, Ruben Amorim kini memiliki pilihan lebih beragam melalui Samuele Ricci, Ardon Jashari, Luka Modric dan sejumlah pemain lainnya. Kondisi tersebut memungkinkan pelatih memilih gelandang berdasarkan karakter yang dibutuhkan, bukan berdasarkan jumlah penampilan musim sebelumnya.

Jika Fofana akhirnya dilepas, keputusan tersebut akan semakin menegaskan bahwa Milan sedang melakukan perubahan profil pemain. Ruben Amorim tampaknya menginginkan lini tengah dengan kombinasi teknik, progresi bola dan kemampuan menempati ruang sesuai struktur permainan barunya.

Bersih-bersih AC Milan Sebenarnya Sudah Dimulai

Perombakan tersebut bukan hanya wacana karena Milan sudah mengambil keputusan besar terhadap Ismael Bennacer pada awal Agustus. Kedua pihak sepakat mengakhiri kontrak sang gelandang setelah tujuh tahun kebersamaan dan 137 penampilan di Serie A bersama Rossoneri.

Bennacer merupakan bagian penting tim peraih Scudetto 2021/2022, sehingga kepergiannya mempunyai nilai simbolis dalam perubahan generasi Milan. Sekarang Tomori dan Fofana, dua nama lain dari kerangka lama, menghadapi ketidakpastian yang serupa.

Dalam konteks tersebut, istilah “bersih-bersih” tidak berarti Ruben Amorim menganggap seluruh pemain lama tidak berkualitas. Perubahan lebih tepat dipahami sebagai upaya menyusun ulang skuad berdasarkan kebutuhan sistem sekaligus menciptakan ruang finansial untuk melakukan perekrutan baru.

Milan sudah mengeluarkan dana besar untuk Ramos dan kemudian mendatangkan Mario Gila, sehingga penjualan menjadi semakin penting sebelum kembali memasuki pasar. Aktivitas selanjutnya disebut sangat bergantung pada kemampuan klub menghasilkan pemasukan dari pemain yang dianggap dapat dilepas.

Kegagalan Musim Lalu Menjadi Pemicu

Perubahan besar tersebut tidak datang tanpa konteks karena Milan menyelesaikan Serie A 2025/2026 hanya di posisi kelima. Rossoneri gagal mendapatkan tiket Liga Champions untuk musim kedua berturut-turut, sebuah pencapaian yang sulit diterima untuk klub dengan ambisi sebesar Milan.

Ruben Amorim kemudian ditunjuk pada 16 Juni sebagai bagian dari pembangunan kembali setelah musim mengecewakan tersebut. Milan melihat kemampuan pelatih Portugal membangun identitas permainan, organisasi tim, serta mengembangkan pemain sebagai fondasi untuk memulai siklus baru.

Karena itu, mempertahankan seluruh skuad lama lalu berharap hasil berbeda mungkin bukan pilihan yang dianggap cukup oleh manajemen. Ruben Amorim diberi kesempatan untuk menentukan karakter pemain yang sesuai dengan sistemnya, bahkan ketika keputusan tersebut melibatkan nama-nama populer.

Gazzetta sebelumnya melaporkan skuad Milan dibagi menjadi beberapa kelompok, mulai dari pemain yang dipertahankan, masih dievaluasi, hingga dapat dijual. Tomori, Fofana, Ruben Loftus-Cheek, Pervis Estupinan dan Rafael Leao sempat muncul dalam kategori yang masa depannya dipertimbangkan.

Tetapi Belum Ada Vonis untuk Tomori, Nkunku dan Fofana

Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah keberadaan nama dalam daftar transfer tidak otomatis berarti hubungan mereka dengan Milan telah berakhir. Tomori, Nkunku dan Fofana tetap masuk skuad tur pramusim Rossoneri ke Australia dan Indonesia.

Mereka masih berlatih dan mendapatkan kesempatan menunjukkan kemampuan kepada Ruben Amorim sebelum kompetisi resmi dimulai. Situasi dapat berubah jika performa pramusim meyakinkan sang pelatih atau tidak ada klub yang memenuhi tuntutan finansial Milan.

Bursa transfer juga baru ditutup pada 1 September sehingga Milan mempunyai waktu untuk menilai tawaran yang muncul. Tottenham sebelumnya tertarik kepada Tomori, sementara Newcastle, West Ham dan Brentford juga pernah memantau mantan pemain Chelsea tersebut.

Coventry City bahkan dikaitkan dengan kemungkinan reuni Tomori bersama Frank Lampard, pelatih yang pernah bekerja dengannya di Derby County dan Chelsea. Tomori tercatat memainkan 81 pertandingan di bawah Lampard, jumlah terbanyak kedua dalam kariernya setelah Stefano Pioli.

Amorim Sedang Mengubah DNA Milan

Jika seluruh rangkaian keputusan tersebut dibaca bersama, pola yang terlihat bukan sekadar aktivitas jual-beli menjelang penutupan bursa. Ruben Amorim tampaknya sedang mencoba mengubah DNA AC Milan dengan memperbarui usia, karakter teknis dan kecocokan posisi dalam skuad.

Tomori memberi contoh bahwa status starter tidak lagi memberikan perlindungan, sedangkan Nkunku menunjukkan harga pembelian besar juga bukan jaminan. Fofana memperlihatkan bahwa pemain reguler tetap dapat dikorbankan apabila karakter lini tengah yang dicari pelatih berubah.

Pendekatan itu tentu memiliki risiko karena Milan berpotensi kehilangan pemain yang sudah memahami Serie A ketika kompetisi segera dimulai. Terlalu banyak perubahan sekaligus juga dapat memperpanjang proses adaptasi, terutama karena sistem tiga bek Ruben Amorim membutuhkan koordinasi yang sangat detail.

Namun, mempertahankan struktur lama juga mempunyai risiko setelah Milan gagal mencapai target dalam dua musim terakhir. Manajemen tampaknya memilih memberikan ruang kepada pelatih baru untuk mengambil keputusan sulit sekarang daripada kembali melakukan tambal sulam dengan komposisi yang sama.

Tomori Jadi Simbol Perubahan Ruben Amorim

Pada akhirnya, Fikayo Tomori mungkin menjadi simbol terbesar dari revolusi kecil yang sedang berlangsung di Milan karena ia bukan pemain gagal atau cadangan. Starter 31 pertandingan Serie A tetap bisa berada di pasar ketika pelatih baru menginginkan profil berbeda.

Nasib Tomori, Nkunku dan Fofana belum diputuskan, tetapi keberadaan mereka dalam pembicaraan transfer sudah menunjukkan arah baru klub. Ruben Amorim tampaknya tidak sekadar ingin memperbaiki AC Milan musim lalu, melainkan membangun tim dengan identitas yang benar-benar miliknya.

Beberapa pekan terakhir bursa transfer akan menentukan seberapa jauh proses tersebut benar-benar dijalankan karena penjualan dapat membuka pintu untuk perekrutan berikutnya. Jika beberapa nama besar benar-benar pergi, perubahan Milan musim panas ini bisa jauh lebih besar daripada sekadar pergantian pelatih.

Ruben Amorim baru beberapa pekan bekerja di Milan, tetapi pesannya sudah cukup jelas: reputasi, harga transfer, bahkan status starter musim lalu tidak otomatis menjamin tempat. Di AC Milan yang baru, setiap pemain harus kembali membuktikan bahwa dirinya cocok dengan proyek sang pelatih.

Scr/Mashable





Don't Miss