Juventus Selamat dari Kekalahan, Spalletti Tetap Pasang Badan untuk Kolo Muani

07.09.2026
Juventus Selamat dari Kekalahan, Spalletti Tetap Pasang Badan untuk Kolo Muani
Juventus Selamat dari Kekalahan, Spalletti Tetap Pasang Badan untuk Kolo Muani

Juventus gagal meraih kemenangan saat menjamu AC Milan, tetapi Luciano Spalletti justru melihat pertandingan itu sebagai penegasan arah timnya. Bianconeri memaksakan hasil 1-1 melalui gol Federico Gatti pada masa injury time setelah lebih dulu tertinggal dari Alphadjo Cisse.

Pertandingan di Allianz Stadium, Minggu (6/9/2026), berjalan ketat dengan Juventus lebih banyak menciptakan ancaman, sementara Milan kesulitan menghasilkan peluang bersih. Francisco Conceicao beberapa kali memaksa Mike Maignan bekerja keras dan bahkan sempat menghantam tiang gawang sebelum Rossoneri mencuri keunggulan.

Milan unggul melalui aksi individu Cisse setelah pemain berusia 19 tahun itu melepaskan tembakan menyilang yang melewati sela kaki Pierre Kalulu. Juventus baru mendapatkan balasan pada pengujung laga ketika Gatti menyundul umpan silang Teun Koopmeiners dari jarak dekat.

Hasil tersebut sekaligus menghentikan start sempurna kedua tim di Serie A musim ini setelah sama-sama sebelumnya mengoleksi kemenangan. Namun, Spalletti menilai Juventus sebenarnya memperlihatkan karakter yang dibutuhkan untuk membangun tim penantang papan atas.

Dilansir Football Italia, Spalletti menegaskan Juventus tidak boleh bermain seperti tim yang menunggu izin ketika menghadapi lawan besar seperti Milan. Menurutnya, Bianconeri harus berani mengambil alih pertandingan dan menentukan sendiri arah permainan sejak awal.

“Tidak boleh meminta izin dalam pertandingan seperti ini. Anda tidak bisa menunggu untuk diundang, Anda harus pergi ke sana dan mengambil kendali pertandingan,” kata Spalletti seusai laga.

Spalletti Tetap Percaya Kolo Muani

Salah satu sorotan terbesar kembali mengarah kepada Randal Kolo Muani karena Juventus berulang kali mengirimkan bola ke kotak penalti tanpa mendapatkan penyelesaian maksimal. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan apakah Spalletti perlu mengubah pilihan utama di lini depan.

Nick Woltemade menawarkan karakter berbeda karena memiliki kemampuan lebih kuat dalam duel udara dan permainan di dalam kotak penalti. Spalletti mengakui kelebihan tersebut, terutama ketika Juventus harus mengandalkan banyak umpan silang untuk membongkar pertahanan lawan.

Meski demikian, pelatih Juventus itu menegaskan kepercayaannya kepada Kolo Muani belum berubah dan tidak berniat mengganti pilihan hanya karena beberapa pertandingan. Ia bahkan menyatakan akan terus menggunakan striker asal Prancis tersebut hingga akhir musim sebelum melakukan evaluasi menyeluruh.

“Saya memilih Kolo Muani sebagai striker dan saya akan bertahan dengannya sampai akhir musim. Ketika sampai di sana, kita akan melihat di mana posisi kami,” ujar Spalletti.

Pernyataan tersebut menjadi dukungan terbuka bagi Kolo Muani di tengah kritik terhadap ketajaman lini depan Juventus. Spalletti tampaknya ingin memberikan kepastian agar sang striker tidak bermain dengan tekanan tambahan setiap kali gagal mencetak gol.

Persoalan Juventus sebenarnya bukan semata-mata berada pada penyelesaian akhir karena Spalletti juga menyoroti kualitas keputusan ketika tim memasuki sepertiga terakhir. Bianconeri berulang kali berhasil mencapai area berbahaya, tetapi umpan terakhir dan eksekusinya masih sering tidak tepat.

Menurut Spalletti, perbedaan dalam pertandingan besar terkadang hanya muncul dari detail sangat kecil, termasuk posisi bola beberapa sentimeter atau pilihan kaki ketika melepaskan umpan. Masalah itulah yang ingin segera diperbaiki agar dominasi permainan dapat menghasilkan lebih banyak peluang bersih.

Gatti Jadi Penyelamat di Tengah Krisis Cedera

Juventus menjalani pertandingan melawan Milan dengan kondisi skuad yang jauh dari ideal karena sejumlah pemain utama harus absen. Kenan Yildiz, Khephren Thuram, Weston McKennie, Andrea Cambiaso, Jeff Ekhator, Juan Cabal, dan Pape Matar Sarr tidak tersedia akibat cedera.

Situasi tersebut membuat Spalletti memberikan kesempatan pertama sebagai starter musim ini kepada Kerim Alajbegovic dan Nico Gonzalez. Meski kehilangan banyak pemain, Juventus tetap mampu menekan Milan cukup konsisten dan menjaga intensitas hingga menit-menit terakhir.

Keputusan paling berani datang ketika Federico Gatti didorong lebih jauh ke depan dan praktis dimainkan seperti tambahan penyerang. Bek Italia tersebut akhirnya membayar kepercayaan itu dengan sundulan penyama kedudukan setelah menyambut crossing Koopmeiners.

Bagi Spalletti, gol Gatti menunjukkan Juventus tidak kehilangan keyakinan meskipun kebobolan ketika pertandingan memasuki fase penting. Ia menilai timnya tidak pantas tertinggal dan terus menyerang dengan determinasi yang sama sampai mendapatkan hasil.

Spalletti bahkan melihat performa tersebut sebagai fondasi yang dapat digunakan Juventus untuk berkembang lebih jauh. Menurutnya, Milan sudah berada dalam kategori tim besar, sedangkan Juventus sedang berusaha mencapai level yang sama melalui proses pembangunan saat ini.

“Milan adalah tim hebat, tidak ada keraguan soal itu. Kami bisa menjadi tim hebat dan sekali lagi hari ini kami menunjukkan hal tersebut,” kata mantan pelatih tim nasional Italia itu.

Amorim Akui Milan Tidak Layak Menang

Menariknya, penilaian Spalletti tentang jalannya pertandingan tidak jauh berbeda dengan pengakuan Ruben Amorim dari kubu Milan. Pelatih Rossoneri secara terbuka mengatakan timnya tidak pantas mendapatkan tiga poin dari pertandingan tersebut.

Amorim bahkan memilih menyebut Juventus lebih tidak pantas kalah dibandingkan Milan layak memenangkan laga. Ia menilai timnya mengalami kesulitan besar ketika menguasai bola dan terlalu sering kehilangan penguasaan tanpa mendapat tekanan berarti.

“Kami tidak pantas menang kalau mau jujur, atau lebih tepatnya Juventus tidak pantas kalah,” ujar Amorim setelah pertandingan.

Milan memang sempat mengendalikan beberapa fase pada babak pertama, tetapi aliran permainan mereka tidak berjalan sesuai harapan. Amorim mengakui sejumlah kesalahan mendasar dalam menerima dan mengoper bola justru membuat Juventus mendapatkan kesempatan menyerang melalui transisi.

Pelatih asal Portugal tersebut merasa Milan masih belum cukup berani ketika menguasai bola, terutama menghadapi tekanan di stadion besar seperti Allianz Stadium. Ia meminta para pemain bergerak lebih aktif agar memiliki pilihan umpan sekaligus mampu mempertahankan penguasaan dengan lebih agresif.

Meski performanya tidak memuaskan, Amorim memastikan pendekatan permainan Milan tidak akan diubah hanya karena satu pertandingan sulit. Rossoneri baru bekerja bersama sang pelatih sekitar dua bulan sehingga masih membutuhkan waktu untuk memahami sistem secara menyeluruh.

Milan juga sempat mengalami kesulitan ketika Juventus menambah jumlah pemain di lini depan, meskipun organisasi pertahanan mereka relatif mampu bertahan. Masalah yang lebih besar justru muncul setiap kali kehilangan bola dan harus menghadapi transisi cepat tuan rumah.

Alphadjo Cisse Terus Mencuri Perhatian

Salah satu sisi positif bagi Milan datang dari Alphadjo Cisse yang kembali menunjukkan potensi besarnya dengan mencetak gol pembuka. Pemain berusia 19 tahun tersebut menjadi pemain Milan pertama yang mencetak gol Serie A ke gawang Juventus sejak Olivier Giroud pada Mei 2023.

Rossoneri sebelumnya menjalani enam pertemuan liga melawan Juventus tanpa mampu mencetak gol sebelum Cisse mengakhiri catatan tersebut. Amorim mengaku sangat senang dengan perkembangan pemain mudanya, tetapi sekaligus berusaha mengendalikan ekspektasi yang mulai tumbuh.

Amorim sebelumnya sudah menyatakan sangat menyukai Cisse sejak konferensi pers pramusim pertamanya. Namun, ia mengingatkan bahwa pemain muda bisa terlalu cepat mendapatkan label besar ketika baru menunjukkan beberapa penampilan menjanjikan.

Menurut Amorim, Cisse masih berada pada awal perjalanan karier dan harus terus meningkatkan kualitas melalui latihan. Bahkan setelah mencetak gol penting di Turin, sang pelatih merasa pemain muda tersebut masih mempunyai ruang perkembangan yang sangat besar.

Diego Moreira juga mendapatkan debut dalam pertandingan tersebut, meski belum memberikan pengaruh besar terhadap permainan Milan. Adrien Rabiot sementara itu terlihat kurang efektif dibandingkan kontribusinya sebagai pemain pengganti pada dua pertandingan sebelumnya.

Bagi Milan, hasil imbang tersebut mungkin terasa mengecewakan karena keunggulan mereka bertahan hingga injury time. Namun, Amorim mengakui performa Juventus membuat satu poin pada akhirnya menjadi hasil yang sulit diperdebatkan.

Sementara bagi Juventus, gol Gatti menghindarkan mereka dari kekalahan yang terasa tidak sebanding dengan jalannya pertandingan. Spalletti sekarang mempunyai pekerjaan berikutnya: mengubah tekanan, crossing, dan penguasaan area berbahaya menjadi gol tanpa harus terus menunggu penyelamatan pada menit terakhir.

Dan di tengah semua persoalan tersebut, satu keputusan Spalletti sudah sangat jelas. Randal Kolo Muani tetap menjadi pilihannya di lini depan Juventus, setidaknya sampai perjalanan musim ini mencapai garis akhir.

Scr/Mashable





Don't Miss