Pernah Bangkrut, Kini Rekrut Ronaldinho: Tim Apa Ravenna FC yang Bermimpi Tembus Serie A?

21.08.2026
Pernah Bangkrut, Kini Rekrut Ronaldinho: Tim Apa Ravenna FC yang Bermimpi Tembus Serie A?
Pernah Bangkrut, Kini Rekrut Ronaldinho: Tim Apa Ravenna FC yang Bermimpi Tembus Serie A?

Kedatangan Ronaldinho ke Ravenna terasa seperti cerita yang terlalu liar untuk sepak bola kasta ketiga Italia. Seorang pemenang Ballon d’Or berusia 46 tahun muncul di kota kecil Emilia-Romagna, bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai pemain sekaligus pemegang saham minoritas.

Ravenna FC memang jauh dari gemerlap Barcelona, Milan, atau Paris Saint-Germain yang pernah menjadi panggung Ronaldinho. Namun justru di klub berusia lebih dari satu abad inilah legenda Brasil itu memilih membuka bab baru setelah penampilan kompetitif terakhirnya bersama Fluminense pada 2015.

Football Italia melaporkan Ronaldinho tiba melalui Bandara Forlì sebelum menuju Ravenna untuk diperkenalkan kepada publik dan skuad. Presiden Ravenna FC, Ignazio Cipriani, menyebut hubungan pertemanan dan ketertarikan terhadap proyek klub menjadi faktor penting yang membuat transfer tidak biasa ini akhirnya terwujud.

Ronaldinho mengatakan dirinya datang untuk membantu, membangkitkan semangat pemain lain, menjalani musim yang spektakuler, dan mencoba menang. Ketika ditanya tentang kenangan di Italia, ia kembali menyebut golnya dalam derby Milan sebagai salah satu momen yang paling memberinya kebahagiaan.

Reuters kemudian memberi konteks yang lebih unik karena Ronaldinho tidak hanya masuk sebagai nama besar untuk pemasaran. Ia juga mengambil saham di Ravenna FC, sementara keputusan mengenai apakah dirinya benar-benar akan kembali bermain masih diserahkan kepada presiden dan pelatih.

Ravenna FC Bukan Klub Baru, Usianya Sudah 113 Tahun

Ravenna FC adalah klub dari kota Ravenna di wilayah Emilia-Romagna yang berdiri pada 1913 sebagai bagian sepak bola Unione Sportiva Ravennate. Identitasnya adalah warna kuning-merah atau Giallorossi, sementara pertandingan kandang dimainkan di Stadio Bruno Benelli.

Sejarah panjang Ravenna FC tidak pernah benar-benar berjalan lurus karena klub beberapa kali naik, jatuh, berganti nama, dan kembali membangun diri. Pada 1936, Ravenna FC pertama kali tampil di Serie C dan kemudian bertahan di level itu dalam sejumlah periode berbeda.

Lonjakan terbesar terjadi pada awal 1990-an ketika Ravenna FC menjuarai Serie C2 pada 1992, lalu langsung merebut gelar Serie C1 setahun berikutnya. Hasil tersebut membawa klub untuk pertama kalinya mencapai Serie B pada musim 1993/94, sebuah tonggak penting dalam sejarahnya.

Ravenna FC hanya bertahan semusim pada pengalaman pertamanya di Serie B, tetapi mampu kembali pada 1996 dan bertahan hingga 2001. Periode itu menjadi masa paling stabil di level tinggi, meski klub kemudian kembali menghadapi masalah keuangan yang mengguncang fondasinya.

Ravenna FC kembali menjuarai Serie C1 pada 2006/07 dan merebut tiket Serie B setelah enam musim absen dari divisi kedua. Namun kebangkitan itu hanya bertahan semusim karena mereka terdegradasi lagi pada 2008, yang hingga kini menjadi penampilan terakhir di Serie B.

Krisis tidak berhenti di sana karena Ravenna FC beberapa kali harus memulai ulang perjalanan setelah persoalan finansial dan restrukturisasi. Pada 2012, Ravenna Calcio bahkan dinyatakan bangkrut, memaksa proyek sepak bola kota tersebut kembali dibangun dari tingkatan yang lebih rendah.

Secara keseluruhan, klub tersebut telah menjalani tujuh musim di Serie B tanpa pernah mencapai kasta tertinggi sepak bola Italia. Catatan itulah yang membuat target menuju Serie A sekarang terasa seperti upaya menciptakan sejarah baru, bukan sekadar menghidupkan kembali kejayaan lama.

Karena latar belakang itu, ambisi Ravenna FC hari ini terasa jauh lebih dramatis daripada sekadar mengejar promosi biasa. Klub yang berkali-kali jatuh sekarang mencoba mengubah identitasnya menjadi proyek global, sambil tetap mempertahankan hubungan kuat dengan kota asalnya.

Ravenna FC Berubah Sejak Datang Ignazio Cipriani

Perubahan terbesar dimulai pada Juni 2024 ketika Ignazio Cipriani mengambil alih 100 persen saham Ravenna FC dan menjadi presiden. Cipriani berasal dari keluarga bisnis hospitality ternama, tetapi proyek sepak bola ini dibangun dengan narasi emosional untuk mengangkat klub kota kelahirannya.

Cipriani merupakan cucu Giuseppe Cipriani, pendiri Harry’s Bar di Venesia, sedangkan dari pihak ibunya ia adalah cucu industrialis Raul Gardini. Pengusaha kelahiran Ravenna tersebut tumbuh di New York sebelum akhirnya kembali membangun proyek sepak bola di kota asalnya.

Situs resmi Ravenna FC menjelaskan visi klub sebagai franchise olahraga berkelas dunia yang tetap berakar kuat pada komunitas lokal. Target tersebut mencakup keberhasilan olahraga, pengembangan infrastruktur, perluasan daya tarik internasional, serta ambisi jangka panjang untuk membawa Ravenna menuju kasta tertinggi Italia.

Cipriani tidak bekerja sendirian karena struktur klub juga memasukkan Ariedo Braida sebagai wakil presiden. Mantan direktur AC Milan itu membawa pengalaman puluhan tahun dari salah satu periode tersukses Rossoneri dan memiliki hubungan lama dengan Ronaldinho ketika sang pemain membela Milan.

Di sisi teknis, Ravenna FC kini dilatih Andrea Mandorlini, sementara Davide Mandorlini menjabat direktur olahraga dan Paolo Scocco menjadi general manager. Kehadiran figur-figur berpengalaman tersebut memperlihatkan proyek klub tidak hanya bertumpu pada sorotan nama Ronaldinho atau strategi pemasaran.

Ravenna FC juga membangun citra baru melalui kerja sama empat musim dengan Nike yang diumumkan pada 2024 melalui GTZ Distribution. Kesepakatan itu mencakup perlengkapan tim utama dan akademi, serta menjadi salah satu tanda awal bahwa pemilik baru ingin membawa standar berbeda.

Strategi tersebut kemudian diperluas melalui konsep Ravenna by Cipriani yang menggabungkan sepak bola, mode, budaya, dan gaya hidup. Klub bahkan memperkenalkan koleksi bersama Nike dengan ambisi membuat identitas kuning-merah dikenal melampaui batas tradisional sebuah kesebelasan Serie C.

Transformasi itu mulai menghasilkan hasil di lapangan ketika Ravenna FC memenangi Coppa Italia Serie D pada musim 2024/25. Mereka juga memenangi playoff dan kembali ke level profesional, sehingga proyek baru Cipriani memperoleh legitimasi olahraga hanya dalam waktu relatif singkat.

Pada musim 2025/26, Ravenna FC kembali membuat langkah maju dengan finis sebagai tim peringkat ketiga terbaik di seluruh Serie C. Hasil tersebut memberi mereka tiket menuju babak pendahuluan Coppa Italia nasional dan menempatkan klub semakin dekat dengan target promosi berikutnya.

Musim 2026/27 karena itu menjadi fase yang sangat penting karena Ravenna tidak lagi dipandang sekadar sebagai klub yang baru kembali dari Serie D. Mereka memasuki Serie C dengan ekspektasi lebih tinggi, struktur lebih matang, dan perhatian global yang melonjak setelah kedatangan Ronaldinho.

Stadio Bruno Benelli menjadi pusat dari seluruh proyek tersebut, tetapi stadion ini juga sedang mengalami proses pembaruan. Pemerintah kota Ravenna pada 2026 menyiapkan investasi lebih dari satu juta euro untuk renovasi tribun dan lapangan utama sebagai bagian peningkatan infrastruktur.

Kapasitas operasional stadion sebelum renovasi tercatat sekitar 4.995 tempat duduk dan ditargetkan meningkat menjadi 6.345 setelah sebagian pekerjaan selesai. Angka ini lebih relevan daripada kapasitas historis 12.020 yang masih sering muncul dalam sejumlah basis data lama.

Ravenna FC dan Ronaldinho, Transfer yang Lebih Besar dari Sepak Bola

Ronaldinho kemudian masuk ke dalam proyek pada Juni 2026 ketika Ravenna FC mengumumkan dirinya akan didaftarkan secara resmi sebagai pemain. Klub menyebut kedatangannya sebagai salah satu perekrutan terbesar dalam sejarah, sekaligus jembatan antara sepak bola, budaya, kreativitas, dan identitas Italia modern.

Statusnya tetap tidak biasa karena Ronaldinho bukan rekrutan reguler yang langsung diproyeksikan bermain setiap pekan. Reuters melaporkan ia tidak akan tampil pada laga pembuka melawan Reggiana, sedangkan peluang turun berikutnya bergantung pada keputusan presiden dan Andrea Mandorlini.

Ada satu sasaran personal yang membuat cerita ini semakin menarik, yakni kemungkinan mengejar gol profesional ke-300 dalam karier Ronaldinho. Sang pemain tidak menjanjikan hal itu akan terjadi, tetapi mengatakan momen tersebut akan terasa lebih indah apabila kesempatan benar-benar datang.

Bagi Ravenna FC, nilai Ronaldinho jelas melampaui kemungkinan satu gol atau beberapa menit di lapangan. Kehadirannya memberi klub eksposur dunia yang sulit dibeli melalui performa Serie C saja, sekaligus membantu Cipriani memperbesar basis penggemar dan mendekatkan kota kepada tim.

Tujuan tersebut memang menjadi bagian dari alasan transfer karena Cipriani ingin membuat masyarakat Ravenna semakin dekat dengan klub. Sang presiden juga melihat Ronaldinho sebagai figur yang dapat membawa kegembiraan dan menciptakan antusiasme baru menjelang musim penuh ambisi.

Di sisi lain, Ravenna FC tetap membutuhkan hasil olahraga agar proyek ini tidak berhenti sebagai fenomena pemasaran sesaat. Ambisi mencapai Serie A untuk pertama kalinya dalam sejarah menuntut promosi berlapis, konsistensi investasi, pengembangan stadion, serta keputusan teknis yang jauh lebih penting daripada nostalgia.

Target Cipriani bahkan tidak berhenti pada Serie A karena ia pernah menyebut kompetisi Eropa sebagai horizon jangka panjang proyeknya. Pernyataan itu terdengar luar biasa untuk klub kasta ketiga, tetapi menggambarkan seberapa jauh pemilik baru mencoba mengubah skala pemikiran Ravenna.

Itulah alasan profil Ravenna FC kini menjadi lebih menarik dibandingkan sekadar cerita klub kecil merekrut seorang legenda. Di balik Ronaldinho terdapat klub 113 tahun yang pernah merasakan Serie B, bangkrut, bangkit lagi, dan sekarang mencoba menulis ulang batas ambisinya.

Bagi Ronaldinho, Ravenna FC menawarkan sesuatu yang tidak mungkin diberikan klub besar pada usia 46 tahun, yakni kebebasan menjadi simbol sekaligus bagian proyek. Bagi klub, sang legenda memberikan perhatian global untuk mimpi yang sebelumnya hanya terdengar di lingkup sepak bola regional Italia.

Jika proyek Cipriani berhasil membawa Ravenna menembus Serie B lalu Serie A, kedatangan Ronaldinho akan dikenang sebagai momen ketika dunia mulai memperhatikan kota tersebut. Namun jika perjalanan berhenti di Serie C, transfer ini tetap menjadi salah satu eksperimen paling unik sepak bola Italia modern.

Scr/Mashable





Don't Miss