Apa Kabar Ardy B. Wiranata? Tunggal Putra Indonesia Peraih Perak Olimpiade 1992 yang Kini Menetap di Kanada

01.09.2026
Apa Kabar Ardy B. Wiranata? Tunggal Putra Indonesia Peraih Perak Olimpiade 1992 yang Kini Menetap di Kanada
Apa Kabar Ardy B. Wiranata? Tunggal Putra Indonesia Peraih Perak Olimpiade 1992 yang Kini Menetap di Kanada

Nama Ardy B. Wiranata pernah begitu lekat dengan kejayaan bulutangkis Indonesia. Pada era 1990-an, ia bukan sekadar salah satu pemain terbaik Tanah Air, tetapi juga menjadi wajah Indonesia di panggung dunia.

Kini, puluhan tahun setelah meninggalkan lapangan pertandingan, kehidupan Ardy B. Wiranata telah berubah. Ia tak lagi mengejar gelar juara atau berdiri di podium dengan raket di tangannya.

Ardy justru menjalani kehidupan baru di Kanada, tempat ia menetap bersama keluarga sekaligus melanjutkan kecintaannya terhadap bulutangkis dengan menjadi pelatih.

Perjalanan tersebut menjadi babak lain dari kisah seorang atlet yang pernah membawa nama Indonesia ke level tertinggi.

Ardy B. Wiranata dan Masa Keemasan Bulutangkis Indonesia

Lahir di Jakarta pada 10 Februari 1970, Ardy B. Wiranata tumbuh menjadi salah satu tunggal putra paling disegani pada masanya.

Namanya berada di jajaran elite dunia. Ardy bahkan pernah menduduki peringkat satu dunia. Prestasinya bersama Indonesia pun sangat panjang, mulai dari berbagai gelar turnamen internasional hingga keberhasilannya tampil di ajang olahraga terbesar dunia.

Salah satu pencapaian paling dikenang tentu terjadi pada Olimpiade 1992 di Barcelona. Saat itu, Ardy berhasil melaju hingga partai final tunggal putra. Ia harus puas membawa pulang medali perak setelah menghadapi wakil Indonesia lainnya, Alan Budikusuma, yang akhirnya merebut emas.

Meski gagal menjadi juara, pencapaian tersebut tetap menjadi bagian penting dalam sejarah bulutangkis Indonesia. Selain medali perak Olimpiade, Ardy juga tercatat enam kali menjadi juara Indonesia Open serta mengoleksi tiga medali Kejuaraan Dunia.

Kariernya pun turut dihiasi keberhasilan membela Indonesia di ajang beregu. Dengan sederet pencapaian tersebut, tidak berlebihan jika Ardy B. Wiranata ditempatkan sebagai salah satu legenda tunggal putra Indonesia.

Namun, seperti perjalanan setiap atlet, masa kejayaan tersebut akhirnya harus berakhir. Pada 1998, Ardy memutuskan gantung raket.

Dari Amerika Serikat hingga Menetap di Kanada

Pensiun ternyata tidak membuat Ardy benar-benar meninggalkan dunia bulutangkis.

Setelah mengakhiri karier sebagai pemain pada 1998, ia memilih melanjutkan perjalanan sebagai pelatih. Ardy sempat pindah ke Amerika Serikat dan bekerja sebagai pelatih kepala selama sekitar tiga tahun.

Setelah itu, pada 2001, ia mengambil keputusan untuk menetap di Kanada. Di Calgary, Ardy kemudian menjalani kehidupan yang jauh berbeda dibanding ketika dirinya masih menjadi atlet profesional.

Ia bekerja sebagai pelatih di Glencoe Club, tempat yang menjadi wadah bagi anak-anak hingga orang dewasa untuk mempelajari bulutangkis.

“Kabar saya baik, dan saat ini saya tinggal di Calgary, Kanada. Saya di sini jadi pelatih di Glencoe Club yang mewadahi anak-anak kecil sampai dewasa untuk belajar bulutangkis,” ujar Ardy dalam sebuah wawancara pada 2023 lalu seperti dilansir Mashable Indonesia dari Indosport.

Bagi Ardy, menjadi pelatih memberikan pengalaman tersendiri. Ia melihat bagaimana bulutangkis berkembang di Kanada, tetapi juga menemukan tantangan yang berbeda dengan Indonesia.

Menurutnya, banyak orang Kanada menyukai bulutangkis, meski sebagian menjadikannya sekadar aktivitas hobi.

“Di sini banyak yang senang dengan bulutangkis, namun ada yang cuma sekadar hobi. Seperti contohnya anak kecil yang saya latih. Setelah lulus SMA, mereka ada yang berhenti karena harus ke universitas,” tuturnya.

Meski demikian, Ardy tetap berusaha menularkan pengalaman dan pengetahuannya kepada generasi muda.

Tak Lagi Memburu Medali, Ardy Tetap Mengabdi Lewat Bulutangkis

Salah satu anak didiknya, Kevin Lee, pernah dipersiapkan untuk tampil di Canada Open. Turnamen tersebut menjadi kesempatan bagi Ardy untuk kembali merasakan atmosfer kompetisi, kali ini dari sisi berbeda.

“Ada anak buah saya yang akan tanding di situ, Kevin Lee, mens double,” kata Ardy.

Ia juga antusias melihat perkembangan level turnamen tersebut dan peluang para pemain untuk berhadapan dengan atlet-atlet top dunia.

Kehidupan sebagai pelatih membuat Ardy tetap dekat dengan olahraga yang telah membesarkan namanya. Di sisi lain, teknologi juga membuat jaraknya dengan Indonesia tidak benar-benar terasa jauh.

Ardy mengaku masih rutin mengikuti perkembangan bulutangkis Indonesia maupun dunia melalui internet.

“Saya masih mengikuti perkembangan bulutangkis Indonesia dan dunia. Apalagi sekarang internet bikin gampang nyari berita,” ujarnya.

Perhatiannya terutama tertuju kepada sektor yang dahulu menjadi wilayahnya: tunggal putra.

Ia pernah memberikan penilaian positif terhadap performa Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie yang ketika itu berada di jajaran atas ranking dunia.

Ardy pun berharap generasi penerus mampu menjaga konsistensi agar Indonesia tetap memiliki wakil kuat di turnamen-turnamen besar, termasuk Olimpiade.

Menurutnya, konsistensi merupakan salah satu kunci penting bagi atlet untuk mempertahankan performa di level tertinggi.

“Cuma konsisten yang saya yakin bisa membuat mereka lebih bagus prestasinya,” ujar Ardy.

Harapannya sederhana, tetapi sarat makna: ia ingin melihat Indonesia kembali meraih medali emas di ajang olahraga terbesar dunia.

“Saya sih mengharapkan yang lebih bagus lagi ya. Bisa dapat medali emas lagi di Olimpiade, dan di pertandingan-pertandingan yang besar,” katanya.

Berganti Kewarganegaraan, tetapi Tidak Pernah Merasa Meninggalkan Indonesia

Ada satu bagian lain dari perjalanan Ardy yang sempat menjadi sorotan. Setelah lebih dari satu dekade tinggal di Kanada, Ardy dan keluarganya memutuskan mengganti kewarganegaraan pada 2014. Keputusan tersebut bukan sesuatu yang diambil dengan mudah.

Ardy mengakui ada perasaan berat ketika harus meninggalkan status kewarganegaraan Indonesia. Namun, kehidupan yang telah ia bangun di Kanada membuat keputusan tersebut menjadi pertimbangan praktis bagi dirinya dan keluarga.

Masalah administrasi perjalanan, pekerjaan, hingga akses layanan kesehatan menjadi sejumlah alasan yang ia pertimbangkan.

Dengan paspor Kanada, Ardy merasa mobilitasnya menjadi lebih mudah karena pekerjaannya sebagai pelatih mengharuskannya melakukan perjalanan ke berbagai negara.

Namun, pergantian paspor tidak serta-merta mengubah identitas yang ia rasakan. Ardy dengan tegas mengatakan bahwa dirinya tetap orang Indonesia.

“Kalau saya, ya saya ini tetap orang Indonesia. Hanya keadaan yang bikin saya pindah dan tinggal di sini,” katanya.

Bahkan, ketika berbicara mengenai keluarganya, Ardy menyebut identitas Indonesia tetap melekat. Ia mengatakan sang istri, Elisabeth Tamzil, dan putra mereka, Shawn Wiranata, juga tetap mengakui bahwa mereka berasal dari Indonesia.

Tuduhan Tidak Nasionalis Pernah Membekas

Keputusan menjadi warga negara Kanada ternyata sempat membuat Ardy menerima kritik.

Ada pihak yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk ketidaknasionalisan atau tanda bahwa dirinya tidak lagi mencintai Indonesia.

Bagi Ardy, anggapan itu sangat menyakitkan. Ia merasa pengabdiannya selama bertahun-tahun kepada Indonesia sebagai atlet seharusnya menjadi bukti bahwa kecintaannya terhadap Tanah Air tidak ditentukan oleh paspor.

“Saya ini masih dan selalu menjadi orang Indonesia. Saya menetap di sini maka dari itu saya pindah, bukan karena saya sudah nggak cinta Indonesia. Saya juga sekarang kan cari nafkah di sini,” ujar Ardy.

Selama bertahun-tahun membela Indonesia di arena internasional, ia merasa telah memberikan bagian penting dari hidupnya untuk Merah Putih.

“Berapa tahun saya bermain dan membela Indonesia? Mana mungkin saya nggak cinta?” tuturnya.

Bahkan dari Kanada, perasaan itu tidak hilang. Ardy mengaku masih merasa bangga ketika melihat atlet Indonesia memenangkan pertandingan internasional dan bendera Merah Putih berkibar di negara lain.

“Saya tetap orang Indonesia walaupun pindah warga negara, sampai kapanpun,” tegasnya.

Dari Medali Olimpiade 1992 ke Lapangan Latihan di Kanada

Kisah Ardy B. Wiranata pada akhirnya bukan hanya tentang seorang mantan atlet yang memilih menetap di luar negeri.

Perjalanannya menunjukkan bagaimana hubungan seorang atlet dengan olahraga dan negaranya dapat terus bertahan meski panggung kehidupan berubah.

Dulu, ia berjuang mendapatkan medali untuk Indonesia di Olimpiade 1992. Kini, dari sebuah lapangan bulutangkis di Calgary, Kanada, Ardy menjalankan peran berbeda. Ia membagikan pengalaman kepada anak-anak dan pemain muda yang ingin mengenal olahraga tersebut lebih jauh.

Raket yang dahulu digunakan untuk mengejar gelar juara kini menjadi bagian dari pekerjaannya sebagai pelatih.

Dan meski paspornya telah berubah, satu hal menurut Ardy tidak pernah berubah: rasa memiliki terhadap Indonesia.

Puluhan tahun setelah namanya menghiasi papan atas dunia, Ardy B. Wiranata masih membawa Indonesia dalam bagian lain kehidupannya.

Bukan lagi melalui medali, melainkan lewat dedikasi untuk bulutangkis dan pesan sederhana bahwa seseorang dapat tinggal jauh dari Tanah Air tanpa harus kehilangan rasa cintanya kepada negeri tempat ia berasal.

Scr/Mashable





Don't Miss