Sebelumnya gue pernah liat postingan Instagram-nya lampungfeed. Thumbnail-nya: “Susahnya Jadi Anak Muda di Bandar Lampung, Kafe Banyak tapi Ruang Bertumbuh Minim”.
Jujur, gue setuju. Gue paham pedihnya jadi anak muda kreatif di kota ini. Tapi sambil nyruput kopi (yang harganya kemahalan buat rasa yang biasa aja), gue sadar ada yang kurang dari narasi itu. Masalahnya bukan cuma di Ruang yang Minim, tapi juga di Mental yang Kerdil. Baik dari pemangku kebijakan, penguasa gedung, sampai anak skenanya sendiri.
Selamat datang di Bandar Lampung, kota di mana Gapura tumbuh lebih subur daripada kreativitas warganya.
Selamat Datang di Simulator Gapura
Mari kita jujur, Pemerintah Kota (Pemkot) kita yang kemaren-kemaren lagi terobsesi sama kosmetik. Coba lo keliling. Gapura perbatasan dibikin megah, lampu hias di mana-mana, JPO Siger Milenial dibikin estetik cuma buat spot selfie.
Secara visual? Oke lah, kota jadi glowing. Secara fungsi buat anak muda? Nol.
Lo enggak bisa nge-band atau maen skateboard di atas Gapura. Lo enggak bisa bikin pameran gambar lo itu di JPO. Kita kehilangan Pasar Seni Enggal, tempat yang dulu telihat kumuh tapi punya nyawa. Sempet jadi Taman Gajah sebentar, eh sekarang Taman Gajah-nya juga udah rata dengan tanah. Hilang.
Ruang publik yang tadinya inklusif buat ekspresi bebas, diganti jadi fungsi tunggal. Di tahun dua ribua belasan Ruang alternatif organik swasta kayak Warung Nongkrong, Gudang Rupa, Kedai Union dan masih banyak lagi sebenarnya. Semuanya tumbang. Kenapa? Karena idealisme doang enggak bisa bayar token listrik, Bos.
PKOR Way Halim: Markas Raja Kecil, Bukan Rumah Bersama
“Kan ada PKOR? Ada Gedung Kesenian?”
Bueh. PKOR itu bukan ruang kreatif, itu Wilayah Kekuasaan. Lo pikir tantangannya cuma birokrasi izin yang ribet? Salah. Tantangannya adalah Feodalisme Seni.
Ada cerita valid dari gue sendiri nih, bareng temen-temen komunitas (Staxxxxxxxxxxxxx). Pas mereka bikin acara, baru juga kelar, pintu masuk dan keluar udah dikunci. Kita diusir halus layaknya Cinderella jam 12 malem. Padahal komunitas itu butuh After-Party, butuh nongkrong diskusi abis acara. Temen-temen dari Metro yang dateng juga bilang kalo mereka pernah ngerasain hal yang sama.
Dan plot twist-nya. Yang ngegembok bukan cuma satpam (gue gak tau disana ada satpamnya atau enggak), tapi oknum yang gayanya seniman juga, yang bermarkas di ruang bawah/belakang gedung itu. Mereka merasa itu rumah mereka, dan kita cuma tamu yang numpang berisik.
Terjadi kesenjangan aneh. Di bawah ada pameran seni eksklusif, di atas ada anak muda bikin acara. Gak ada kolaborasi, yang ada cuma kayak sikut-sikutan wilayah. Selama mental Gatekeeping dan senioritas ini masih ada, gue rasa PKOR cuma bakal jadi kuburan yang dikunci gembok.
Paradoks: Tiket Dewa Sold Out, Tiket Gigs 20 Ribu Nawar
Tapi jangan cuma nyalahin pemerintah atau kuncen PKOR. Ngaca dulu.
Banyak anak muda di Bandar Lampung ini teriak “Support Lokal!”, tapi kelakuannya munafik. Tiket konser artis Jakarta atau festival musik di Lampung harga 150.000 sampe jutaan ludes. Kopi 30 ribu tiap hari jalan. Rokok sebungkus sehari aman.
Tapi giliran temen sendiri bikin gigs kolektif (kolektif beneran), tiket masuk yang cuma 15 sampe 20 rebuan (dapet minum pula), apa yang terjadi? “Yah kok bayar? Kita kan kawan. Masukin guest list dong, Bang.”
Otak lo kebalik. Justru karena TEMEN, lo harusnya bayar full. Malah kalau bisa bayar lebih. Itu baru namanya support. Kalau dateng minta gratisan, itu namanya lo benalu yang ngerasa jadi rockstar.
Lo rela memperkaya promotor luar, tapi membiarkan ruang kreatif temen lo sendiri mati kelaparan karena enggak sanggup bayar token listrik.
Belum lagi tragedi Taman Budaya Lampung. Giliran dikasih fasilitas AC dingin dan kursi empuk, malah kena api rokok dan kebrutalan lain. Mau diperlakukan kayak seniman kelas dunia, tapi adab masih prasejarah.
Tapis Berseri: Saatnya Bersinar Sendiri
Denger, gue nulis ginian bukan karena benci. Yang gue liat dari dulu sampe sekarang potensi kota ini gila.
Jangan nunggu pahlawan bertopeng atau pejabat berdasi buat nyelamatin skena kalian. Kalianlah pahlawannya.
Kalau PKOR dikuasai Raja Kecil, Bikin Panggung di Garasi, kalau Ruko mahal, Patungan, kalau temen bikin acara, Bayar Tiketnya.
Tapis Berseri jangan cuma jadi slogan di gapura beton yang kaku. Jadikan itu mentalitas. Bahwa walau ruang kita sempit, digusur dan digembok, karya dan solidaritas kita harus tetep berseri-seri.
Ayo, Muda Mudi Tapis Berseri. Buktikan kalau kalian bukan generasi proposal yang cengeng.
Apa Kabar Tetangga? (Tubaba, Metro, Dkk)
Nah, sekarang gue lempar pertanyaan buat kalian yang di luar Bandar Lampung.
Kita sering denger desas-desus kalau Tubaba itu keren banget punya Sekolah Seni dan Kota Budaya Uluan Nughik. Kita juga denger Metro punya gerakan warga yang solid.
Pertanyaannya: Beneran seindah itu kah? Atau aslinya sama aja kayak Bandar Lampung? Apa cuma bagus di konten medsos doang tapi di dalemnya juga berdarah-darah? Coba dong spill realitanya.
Terus buat Pesawaran, Lampung Selatan, Pringsewu, dan lainnya… kalian masih idup? Atau beneran cuma jadi penonton yang numpang tidur doang? Katanya Pesawaran nol banget pergerakannya, bener enggak sih?
Catatan: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis sebagai bentuk kritik sosial untuk perbaikan ekosistem kreatif Bandar Lampung, tanpa bermaksud menyerang individu tertentu.














