Danse Marende - Dansemuria
Artwork: Danse Marende - Dansemuria

Dansemuria Menyulap Keresahan Mahasiswa dan Lirik Batak Menjadi Anthem Lantai Dansa

Meracik keresahan Gen Z, beban ekspektasi keluarga, hingga satir telak untuk senior tongkosong dalam balutan groove funk-disco berbahasa Batak Toba.
02.10.2026
1 min read

Mendengar lirik berbahasa daerah dibalut aransemen funk-disco era 70/80-an mungkin bukan formula yang umum ditemukan di gigs kampus zaman sekarang. Tapi, kolektif pendatang baru dari Yogyakarta, Dansemuria, justru ngambil rute nekat tersebut. Terbentuk pada awal 2026 dari obrolan panjang tongkrongan mahasiswa yang tengah libur panjang, band ini resmi melepas maxi-single debut mereka bertajuk “Danse Marende”.

Dihuni oleh Aliamsa (gitar ritme), Stanly William (kibor/synth), Rovay (gitar melodi), Quinn (bas), Nopal (drum), dan Mikha (perkusi), Dansemuria menjadikan bahasa Batak Toba bukan hanya ornamen eksotis, melainkan senjata utama untuk menyampaikan kritik sosial tongkrongan yang sangat relatable. “Danse Marende” membawa dua amunisi utama: “Terlena Akan Takut” dan “Brother Vintage“, yang keduanya direkam di Rumah Jurnalis, Yogyakarta.

Pada track pertama, “Terlena Akan Takut”, Dansemuria menangkap fenomena kelumpuhan gerak (paralysis) yang dialami banyak anak muda ketika dihadapkan pada standar kesuksesan keluarga. Lagu ini menyoroti bagaimana bayang-bayang ekspektasi besar orang tua justru membuat seseorang ragu memulai karier atau mengambil langkah baru. Aransemen funk-disco yang cerah seolah menjadi ironi sekaligus dorongan semangat agar pendengarnya berani keluar dari zona ketakutan tersebut.

Dansemuria [by @noelkristfl]
Dansemuria [by @noelkristfl]

Tapi, daya pikat paling nakal dari Dansemuria justru meledak di track kedua, “Brother Vintage”. Lagu ini adalah sebuah diss-track berbalut groove retro yang ditujukan langsung untuk para “abang-abangan” kampus. Senior yang bergaya perlente yang hobi mengobral omong kosong tapi minim aksi.

Menggunakan idiom Batak Toba “marhata raja”, Dansemuria mengkritik kebiasaan orang yang bersikap sok dominan, berlagak paling hebat dan merasa paling tahu segalanya di tongkrongan yang justru merusak dinamika sosial. Pesannya lugas! berhentilah menjadi figur tongkosong, mulai bertindak nyata dan bertanggung jawablah atas ucapan sendiri. Kehadiran vokal tamu Eureka Demetria di lagu ini juga menambah lapisan dinamika yang membuat sindirannya makin terasa groovy.

Digarap serius dengan sentuhan mixing dari Alif Ilham dan mastering oleh Fedo Sibarani, “Danse Marende” membuktikan bahwa obrolan resah mahasiswa perantauan bisa dieksekusi menjadi materi lantai dansa yang cerdas, lokal, dan penuh gaya.

Instagram : @dansemuria