Frekuensi Tudey V.3: Eksplorasi Lintas Genre PUNKESMAS, NFT, Beludru, dan Joggan

Frekuensi Tudey #3: Eksplorasi Lintas Genre PUNKESMAS, NFT, Beludru, dan Joggan

Dari distorsi perlawanan literasi hingga kembalinya para mammoth skena ke atas panggung.
27.09.2026
2 mins read

Skena musik independen lokal di paruh akhir September 2026 menawarkan spektrum eksplorasi yang tidak hanya tajam secara musikal, tetapi juga matang secara narasi. Para musisi ini menolak sekadar meramaikan algoritma; mereka membawa cetak biru pemikiran, hasrat masa muda yang menolak padam, hingga proses pendewasaan dalam menerima realita. Dalam edisi Frekuensi Tudey Vol. 3 kali ini, berikut adalah empat rilisan terbaru yang patut masuk radar eksplorasi audio Anda pekan ini.

PUNKESMAS: Distorsi Literasi dan Akal Sehat

Grup independen asal Karawang, PUNKESMAS, membuktikan bahwa keriuhan musik punk bisa dikonversi menjadi medium edukasi yang mematikan lewat single “Baca Pikir Lihat“. Alih-alih hanya berteriak menentang otoritas, lagu ini menyoroti fenomena kepatuhan buta di era digital dan menegaskan bahwa literasi adalah senjata perlawanan paling berbahaya.

Digarap oleh gitaris Eris Ristendi bersama Anggi (bas) dan Apas (drum), lagu ini mengeksekusi tempo cepat khas punk yang berpadu dengan lirik artikulatif dari duet vokal Anzarriva dan Bayu Guntara. Mantra utama mereka berbunyi “Baca! sebelum percaya / Pikir! sebelum berkata / Lihat! apa yang nyata”, sebuah tamparan keras bagi masyarakat modern yang kerap kali malas berpikir dan sekadar ikut arus informasi. Bagi PUNKESMAS, satu kepala yang sadar dan kritis jauh lebih menakutkan bagi pemegang kekuasaan dibandingkan tumpukan materi.

Neo Funk Therapy (NFT): Eksperimen Kamar ke Daur Ulang Resmi

Berawal dari keisengan mengunggah cover dan aransemen ulang di media sosial, inisiasi Winky Wiryawan dan Panji Ndrio kini bertransformasi menjadi proyek profesional bernama Neo Funk Therapy (NFT). Dengan bergabungnya drummer senior Bowie Champa, trio ini meleburkan funk dengan disko, house, rock, hingga psychedelic tanpa mempedulikan kotak genre.

Langkah perdana mereka ditandai dengan perilisan “Kita Ke Sana – NFT Remix” pada 25 September 2026 di bawah naungan HALOS Records. Mengantongi izin resmi untuk mendaur ulang karya milik Hindia, NFT menyuntikkan groove funk yang jauh lebih fresh dan playful tanpa membunuh esensi asli lagunya. Rilisan ini menjadi deklarasi eksistensi mereka di lanskap musik Indonesia, membuktikan bahwa eksperimen organik bisa menembus panggung profesional.

Beludru: Hasrat Bermusik yang Menolak Padam

Memasuki awal usia 30-an, Hasbi (vokal & bas), Fawwaz (gitar), dan Rifqi (drum) merajut kembali ambisi masa muda mereka dengan membentuk Beludru. Pada 25 September 2026, mereka merilis “Bingar“, sebuah single perayaan kecil yang merepresentasikan hasrat bermusik yang masih terus bergejolak. Vokalis Hasbi menggambar sendiri artwork lagu ini, menerjemahkan metafora mammoth—sosok yang kembali melewati jalur kehidupan yang pernah dihuninya puluhan tahun lalu.

Direkam di Soundhead Studio Jakarta Selatan, lirik “Bingar” bercerita tentang daya tarik gemerlap tata suara dan lampu panggung yang bersifat sementara. Dibungkus dengan aransemen yang beranjak dari keresahan menuju nuansa festif, lagu yang ditulis oleh Rifqi ini tidak sedang berusaha mengulang masa lalu, melainkan menata sisa ambisi untuk melangkah menuju EP perdana mereka.

Joggan: Fase Kedewasaan dan Penerimaan

Setelah membuka awal tahun dengan trek jenaka, unit funk asal Yogyakarta, Joggan, berbelok ke arah yang jauh lebih reflektif lewat single “Berlalu” yang dirilis pada 15 September 2026. Aziz (vokal), Prahara (gitar), Aul (bas), dan Bayu (drum) berbicara tentang fase sulit melepaskan hubungan antar individu. Baik pertemanan maupun relasi kerja yang memang harus selesai pada waktunya.

Secara musikal, fondasi funk tetap menjadi pijakan utama, namun dieksekusi dengan lebih dinamis, tenang, dan atmosferik. Aransemennya memberikan ruang napas yang lega bagi setiap instrumen, memperlihatkan sisi pendewasaan Joggan tanpa mengorbankan identitas groove mereka. Lewat lirik yang lugas tanpa intensi menggurui, Joggan sekadar ingin mengingatkan bahwa kadang hal tersulit bukanlah kehilangan, melainkan menerima bahwa segala sesuatu memiliki batas waktunya.