Artwork Peran Penjahat di Adegan Terakhir - Rakesh
Artwork Peran Penjahat di Adegan Terakhir - Rakesh

Rakesh Membalik Narasi Patah Hati Lewat “Peran Penjahat di Adegan Terakhir”

06.10.2026

Katalog musik pop dan alternatif Indonesia selalu kebanjiran stok lagu patah hati yang memosisikan penyanyinya sebagai korban yang terluka. Mengambil rute yang jauh lebih tidak nyaman, unit asal Palu, Rakesh, secara berani membalik narasi tersebut lewat single terbaru mereka, “Peran Penjahat di Adegan Terakhir”, yang dirilis pada 2 Oktober 2026. Jika single mereka sebelumnya (“Tercatat Hari Ini” dan “Penyintas”) banyak berkutat pada kerentanan dan proses bangkit, karya terbaru ini adalah sebuah pengakuan dari seseorang yang dengan sadar dan sengaja memilih untuk menyakiti tanpa niat meminta maaf.

Lewat lirik utama “Peran penjahat di adegan terakhir, sengaja ku ambil, walau melepas bukan hal yang ku mahir, agar kau membatil,” Rakes tidak sedang berusaha memoles pengorbanan ini menjadi sesuatu yang heroik. Sang penulis lagu, Ahmad Rizqan, tahu betul bahwa memosisikan diri sebagai figur antagonis kadang menjadi satu-satunya jalan pintas agar pihak yang ditinggalkan bisa pergi tanpa rasa penasaran atau penyesalan. Rakesh bahkan secara lugas mengakui ketidakmampuannya dalam merelakan, membuat naskah lagu ini terasa jauh lebih jujur dan getir dibanding lagu patah hati pada umumnya.

Rakesh Membalik Narasi Patah Hati Lewat Peran Penjahat di Adegan Terakhir
Rakesh

Kepadatan emosi dalam lirik tersebut dieksekusi secara brilian di departemen musik. Diproduseri langsung oleh Rakesh dengan mixing & mastering dari Dylan Zainal Abdillah, aransemen lagu ini disusun dengan sangat padat. Setiap bar dan elemen instrumennya diisi serta ditumpuk sedemikian rupa, membangun rasa sesak yang merepresentasikan beratnya menelan serapah dan kepura-puraan. Fikri Tsani (vokal), Rizqan Ahmad (gitar), Berly (kibor/synth), dan Ais Tompoh (drum) tidak sekadar menciptakan kebisingan, melainkan membangun intensitas ketidakberdayaan.

Ketajaman “Peran Penjahat di Adegan Terakhir” meledak pada pre-chorus yang membiarkan dua pertanyaan menggantung tanpa jawaban: “Jika bisa diputar kembali, masih inginkah kau? / Jika ini termaafkan lagi, masih inginkah kau?” Rakesh secara sengaja menolak memberikan penyelesaian yang rapi. Mereka tidak meminta simpati pendengar, melainkan sekadar memamerkan sebuah realita pahit: dalam situasi yang sudah hancur lebur, memilih bentuk kekalahan sendiri adalah satu-satunya kendali yang tersisa.

Instagram: @rakesh_idn