Banyak sekolah dan perusahaan teknologi kini mulai menerapkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai alat bantu mengajar, alih-alih membiarkan teknologi tersebut menggeser peran utama guru di dalam kelas.
Dalam sebuah acara pendidikan yang digelar di Kuala Lumpur pertengahan Agustus lalu, para perwakilan dari perusahaan teknologi, lembaga penelitian, hingga praktisi pendidikan dari berbagai negara di Asia-Pasifik berkumpul. Mereka berdiskusi mengenai bagaimana teknologi, khususnya AI, mengubah cara guru mengajar dan cara siswa menyerap ilmu pengetahuan.
Salah satu pendekatan yang banyak disyoroti para pembicara adalah bahwa AI seharusnya berperan sebagai penunjang pola pikir, bukan sekadar alat untuk menyelesaikan tugas sekolah siswa secara instan.
Dominic Liechti, Senior Director of Global Educational Product Marketing Apple, menilai bahwa siswa tetap harus menulis draf pertama karya mereka sendiri secara mandiri. Setelah itu, barulah AI digunakan untuk menguji argumen, melatih logika, atau memperkaya sudut pandang yang telah dibuat.
Menurut Liechti, keterampilan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung tetap menjadi fondasi utama. Sementara itu, teknologi berfungsi sebagai pelengkap untuk membantu siswa memverifikasi informasi melalui buku dan perpustakaan demi mengasah kemampuan berpikir kritis (critical thinking).
Dalam pidato pembukaannya, Liechti menekankan bahwa pengalaman belajar harus memberikan ruang bagi siswa untuk bereksplorasi secara mandiri (agency).
“Kemandirian (agency) adalah kemampuan siswa untuk memegang kendali atas cara belajar terbaik bagi dirinya sendiri,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa sekolah perlu membangun budaya independensi di mana siswa berani mencoba hal-hal baru.
Konsep ini sejalan dengan istilah agentic engagement dalam riset pendidikan—yaitu tingkat keterlibatan aktif siswa dalam berkontribusi pada proses belajar-mengajar, bukan sekadar menjadi penerima informasi yang pasif.
Bicara soal penerapan di kelas, Luis Francisco Vargas-Madriz, analis dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), menegaskan bahwa kuncinya bukan hanya pada teknologinya semata, melainkan pada apa yang bisa dibangun bersama teknologi tersebut. Riset menunjukkan bahwa cara manusia berinteraksi dengan teknologilah yang menentukan makna dari pengalaman belajar.
Pandangan senada disampaikan oleh Salman Khan, pendiri Khan Academy, dalam bukunya Brave New Words. Menurutnya, jika dimanfaatkan dengan benar, AI tidak akan membuat siswa menjadi pasif, melainkan justru memberikan wewenang lebih: siswa bisa menentukan ritme belajarnya sendiri, tidak takut mencoba dan salah, serta aktif mengarahkan AI untuk mendukung tujuan belajar pribadi mereka.
Bukan Sekadar Menyediakan Perangkat
Pengalaman di sekolah SBPI Gombak, Malaysia—yang menerapkan model kelas 1:1 dengan iPad sejak 2018—menunjukkan bagaimana teknologi memperluas cara siswa menyerap pengetahuan.
Pada pelajaran Matematika, siswa memilih benda nyata di sekitar mereka untuk diukur jari-jarinya, lalu membandingkannya untuk memahami rumus lingkaran. Pada pelajaran bahasa Jepang, setiap presentasi menghasilkan karya yang unik karena guru hanya memberikan topik tanpa membatasi media penyampaiannya.
Namun, para penyedia teknologi pendidikan mengingatkan bahwa membawa teknologi ke sekolah tidak berhenti pada tahap pembelian perangkat keras semata. Diperlukan pelatihan guru secara berkelanjutan, pemeliharaan mesin, perlindungan data pribadi siswa, hingga daya tahan perangkat dalam jangka panjang.
Di ajang Kuala Lumpur tersebut, Apple memaparkan empat pilar strategi pendidikannya: tingkat keterlibatan (engagement), ruang berekspresi (expression), daya tahan perangkat, dan dukungan berkelanjutan. Saat ini, program pelatihan mandiri gratis untuk guru telah diikuti lebih dari 400.000 pendidik di seluruh dunia.
Dari sisi keamanan data, sejumlah pemrosesan AI kini dilakukan langsung di dalam perangkat (on-device) tanpa harus mengirimkan data ke server luar, bahkan saat dalam kondisi luring (offline). Meski begitu, pihak sekolah tetap diimbau untuk menetapkan kebijakan internal yang ketat terkait penggunaan akun dan perangkat bersama.
Survei terbaru terhadap 10.995 guru di 8 negara Asia-Pasifik menunjukkan bahwa 90% responden menilai perangkat Mac memberikan dampak positif pada siswa—sekitar 5% lebih tinggi dibanding perangkat kompetitor. Lebih dari 80% guru juga menganggap perangkat tersebut berkontribusi nyata pada kreativitas dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking) para siswa.
Scr/Mashable

















