Perusahaan Kini Incar Senior daripada Gen Z? Simak Cara Menghadapi Pergeseran Dunia Kerja di Era AI

29.04.2026
Perusahaan Kini Incar Senior daripada Gen Z? Simak Cara Menghadapi Pergeseran Dunia Kerja di Era AI
Perusahaan Kini Incar Senior daripada Gen Z? Simak Cara Menghadapi Pergeseran Dunia Kerja di Era AI

Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di dunia kerja kerap memicu spekulasi mengenai efisiensi tenaga kerja. Fenomena unik muncul di permukaan: banyak perusahaan mulai kembali melirik profesional senior karena faktor “wisdom” dan pengalaman, sementara talenta muda Gen Z merasa khawatir akan tersisih.

Namun, masa depan dunia kerja ternyata tidak ditentukan oleh pemilihan salah satu kelompok usia, melainkan sinergi antara keduanya.

Dalam episode perdana podcast Power Talks oleh Jobstreet by SEEK, Dudi Arisandi, Chief People Officer tiket.com, membedah lima strategi kunci bagi perusahaan untuk membangun tenaga kerja yang tangguh di era AI.

1. Pergeseran ke Rekrutmen Berbasis Kompetensi

Banyak perusahaan mengalami kelangkaan talenta (talent shortage) meski angka pengangguran muda tetap tinggi. Dudi menyoroti adanya ketimpangan antara keterampilan (skill) kandidat dengan kebutuhan industri yang terus berevolusi.

Menurut Dudi, perusahaan yang progresif kini mulai meninggalkan indikator prestise seperti almamater atau usia, dan beralih sepenuhnya ke pengujian kapabilitas nyata. Di tiket.com misalnya, proses seleksi difokuskan pada kemampuan menjalankan tugas secara spesifik, bukan sekadar reputasi kampus.

2. ‘Stop Blaming, Start Helping’: Mengasah Soft Competency

Narasi negatif yang sering dilekatkan pada Gen Z—seperti kurang gigih atau sulit dipimpin—dinilai justru merugikan perusahaan. Dudi mengajak para pemimpin perusahaan untuk mengubah pola pikir dari mengkritik menjadi mendukung.

Ia menekankan bahwa tantangan terbesar bagi talenta muda bukan pada teknis, melainkan pada soft competency seperti komunikasi, kolaborasi, dan pengambilan keputusan. “Stop blaming, start helping,” tegas Dudi. Ia menyarankan agar perusahaan melihat Gen Z sebagai individu berpotensi tinggi yang memerlukan coaching dan penugasan strategis (stretch assignment) untuk berkembang.

3. Standarisasi ‘Reverse Mentoring’

Era digital menciptakan dinamika di mana setiap generasi memiliki keunggulan yang berbeda namun saling melengkapi. Profesional senior memiliki intuisi dan penilaian matang, sementara Gen Z memiliki ketangkasan digital yang luar biasa.

Dudi mencontohkan pengalamannya sendiri sebagai “generasi PowerPoint” yang kini tak segan belajar alat desain seperti Canva dari timnya yang lebih muda. Melalui program reverse mentoring yang formal, pemimpin senior bisa berbagi kebijaksanaan organisasi, sementara talenta muda mengajarkan literasi digital dan kreativitas format terbaru.

4. Mengutamakan ‘Authentic Judgement’ di Atas Hard Skill

AI kini telah mengambil alih banyak tugas administratif dan repetitif yang biasanya dikerjakan level entry. Dudi menegaskan bahwa memiliki hard skill saja tidak lagi memadai di pasar kerja saat ini.

Nilai jual manusia di masa depan terletak pada authentic judgement—kemampuan menyeimbangkan data dengan konteks kemanusiaan untuk mengambil keputusan tepat waktu. Kualitas inilah yang menjadi titik temu di mana profesional senior dan Gen Z dapat saling menguatkan.

5. Implementasi Strategi SDM ‘5B’

Untuk membangun ekosistem kerja yang kuat, Dudi memperkenalkan kerangka kerja “5B” sebagai panduan strategis bagi para pemimpin HR:

  • Build: Mengembangkan talenta dari dalam organisasi.
  • Buy: Rekrutmen eksternal untuk keterampilan kritis yang belum dimiliki.
  • Borrow: Pemanfaatan pekerja lepas (gig worker) atau outsourcing.
  • Bridging: Rotasi talenta lintas fungsi untuk memperkaya perspektif.
  • Bot: Otomasi pada area yang tepat menggunakan teknologi.

Sebagai penutup, Dudi Arisandi menekankan bahwa kolaborasi lintas generasi adalah kunci utama dalam menghadapi disrupsi teknologi.

“Teknologi dan AI akan terus mengubah cara kita bekerja, tapi yang tidak berubah adalah nilai dari manusia yang mau belajar dan mau berkolaborasi. Bagi saya, kuncinya bukan memilih antara talenta muda atau senior, tapi bagaimana HR dan leaders menggabungkan energi Gen Z dengan kebijaksanaan generasi sebelumnya,” pungkasnya.

Podcast Power Talks yang diproduksi oleh Jobstreet by SEEK hadir sebagai wadah dialog bagi praktisi HR, pemimpin bisnis, dan pencari kerja. Dimoderatori oleh Sawitri, Head of Country Marketing Indonesia Jobstreet by SEEK, program ini menyajikan insight praktis mengenai transformasi dunia kerja.

“Semoga insights dari Kang Dudi bisa membantu para HR leaders di seluruh Indonesia dalam membangun tim yang lebih kuat dan lebih humanis di era AI,” ujar Sawitri.

&t=1s

Scr/Mashable




Don't Miss