Strategi Rekrutmen 2026: Menggabungkan Wisdom Senior dan Agivitas Gen Z di Dunia Kerja

29.04.2026
Strategi Rekrutmen 2026: Menggabungkan Wisdom Senior dan Agivitas Gen Z di Dunia Kerja
Strategi Rekrutmen 2026: Menggabungkan Wisdom Senior dan Agivitas Gen Z di Dunia Kerja

Dunia kerja saat ini sedang mengalami pergeseran besar di mana perusahaan mulai mencari keseimbangan antara energi kreatif Gen Z dan kebijaksanaan profesional senior. Menanggapi fenomena ini, episode perdana podcast Power Talks oleh Jobstreet by SEEK menghadirkan Dudi Arisandi, Chief People Officer tiket.com, untuk membedah strategi membangun workforce yang tangguh di tengah gempuran AI.

Masa depan organisasi tidak lagi ditentukan oleh pilihan antara mempekerjakan anak muda atau tenaga berpengalaman, melainkan bagaimana menyatukan keduanya dalam satu harmoni. Sinergi antara literasi digital kaum muda dan judgment matang dari para senior menjadi fondasi utama agar perusahaan tetap relevan di pasar global.

Prioritaskan Skill di Atas Prestise Almamater

Perusahaan progresif kini mulai meninggalkan standar rekrutmen kuno yang hanya melihat nama besar kampus atau rentang usia tertentu sebagai indikator kesuksesan. Fokus utama telah bergeser pada rekrutmen berbasis skill, di mana kemampuan nyata kandidat dalam menyelesaikan masalah jauh lebih berharga daripada sekadar gelar di atas kertas.

Dudi Arisandi menekankan bahwa talent shortage yang terjadi saat ini sebenarnya bisa diatasi jika perusahaan berani mendefinisikan kapabilitas yang benar-benar dibutuhkan secara spesifik. Dengan proses asesmen yang objektif, talenta dari latar belakang mana pun memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi secara maksimal bagi pertumbuhan bisnis.

Budaya “Start Helping” untuk Mengembangkan Gen Z

Menghilangkan stigma negatif terhadap Gen Z seperti label “manja” atau “sulit diatur” adalah langkah krusial bagi pemimpin HR yang ingin timnya berkembang pesat. Alih-alih melontarkan kritik tanpa solusi, perusahaan sebaiknya mengadopsi prinsip “stop blaming, start helping” untuk memoles potensi besar yang dimiliki generasi termuda ini.

Pengembangan soft competency seperti kecerdasan emosional dan kemampuan mengambil keputusan menjadi area yang perlu mendapatkan perhatian lebih melalui program mentoring. Gen Z harus dipandang sebagai aset dengan potensi tinggi yang membutuhkan arahan strategis dan umpan balik jujur agar mereka bisa bertransformasi menjadi pemimpin masa depan.

Memformalkan Reverse Mentoring sebagai Standar Baru

Era digital melahirkan dinamika unik di mana pemimpin senior bisa belajar banyak hal baru dari staf junior, terutama terkait penggunaan platform kreatif dan alat bantu AI. Melalui program reverse mentoring, perusahaan dapat menciptakan ekosistem belajar dua arah yang saling menguntungkan antara si pemilik “jam terbang” dan si “paling digital”.

Dudi mencontohkan pengalamannya sendiri yang tidak segan belajar menggunakan alat desain seperti Canva dari anggota tim yang lebih muda untuk meningkatkan produktivitas. Kolaborasi ini tidak hanya mempersempit kesenjangan teknologi, tetapi juga memperkuat ikatan emosional dan budaya inklusif di dalam lingkungan kerja.

Mengasah “Authentic Judgment” yang Tak Tergantikan AI

Meskipun banyak pekerjaan administratif kini bisa diotomasi oleh teknologi, kemampuan manusia dalam memberikan penilaian otentik dan memahami konteks tetap tidak tergantikan. Perusahaan harus mulai menaikkan bobot penilaian kinerja pada aspek analytical thinking dan manajemen pemangku kepentingan (stakeholder) daripada sekadar penguasaan alat teknis.

Kombinasi antara data yang diolah AI dengan intuisi manusia akan menghasilkan keputusan bisnis yang jauh lebih akurat dan humanis. Di sinilah letak titik temu di mana Gen Z dan generasi senior bisa saling mengisi kekosongan demi mencapai tujuan organisasi yang lebih besar.

Kerangka Strategis 5B untuk SDM Tangguh

Agar tidak terjebak dalam rekrutmen yang bersifat reaktif, pemimpin HR disarankan untuk menerapkan kerangka kerja “5B” yang mencakup Build, Buy, Borrow, Bridging, dan Bot. Strategi ini memastikan perusahaan memiliki regenerasi talenta yang sehat sekaligus memanfaatkan teknologi di area yang memang membutuhkan efisiensi tinggi.

Pendekatan ini mendorong perusahaan untuk terlebih dahulu mengembangkan talenta internal sebelum memutuskan untuk mencari tenaga dari luar atau menggunakan jasa gig worker. Dengan peta jalan yang jelas, setiap individu dalam organisasi memiliki jalur pengembangan karier yang terukur dan selaras dengan visi perusahaan.

Komitmen Jobstreet by SEEK dalam Transformasi HR

Melalui peluncuran podcast Power Talks, Jobstreet by SEEK berkomitmen untuk terus menyediakan ruang dialog yang bermakna bagi para praktisi HR dan pencari kerja di Indonesia. Program ini dipandu oleh Sawitri, Head of Country Marketing Indonesia Jobstreet by SEEK, yang secara rutin mengulas transformasi dunia kerja bersama para pemimpin C-level ternama.

Diskusi mendalam seperti yang dibagikan oleh Dudi Arisandi diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi para pemimpin bisnis untuk membangun tim yang lebih kuat dan humanis. Anda dapat menyimak wawasan terbaru dari Power Talks setiap bulannya untuk tetap update dengan dinamika rekrutmen yang terus berevolusi di era kecerdasan buatan.

Scr/Mashable




Don't Miss