Petinggi Riot Games Kritik Keras Kebocoran Data IGRS

17.04.2026
Petinggi Riot Games Kritik Keras Kebocoran Data IGRS
Tangkapan layar BlueSky.

Industri game global kembali menjadi sorotan setelah muncul dugaan kebocoran data dari sistem Indonesia Game Rating System (IGRS).

Platform yang seharusnya menjadi acuan klasifikasi usia game di Indonesia ini justru dituding membuka akses ke sejumlah informasi sensitif, termasuk cuplikan game AAA yang belum dirilis. Isu ini pun memicu kekhawatiran luas terkait keamanan data serta kesiapan infrastruktur regulasi game di Tanah Air.

Sorotan tajam datang dari Nic McConnell, Manager Age Rating dari Riot Games, yang mengungkap pengalaman langsungnya saat menggunakan sistem IGRS.

Dalam pernyataannya baru-baru ini yang diunggah melalui BlueSky, ia menjelaskan bagaimana proses penilaian di IGRS masih berjalan dengan metode yang belum sepenuhnya matang.

“Saya bertanggung jawab menjalankan proses dan strategi IGRS di Riot, dan ini merupakan sebuah perjalanan. Cara kerja sistem mereka adalah dengan mengisi survei singkat yang menghasilkan peringkat, lalu disertai tautan ke rekaman dan gambar yang relevan untuk konten seperti kekerasan, bahasa kasar, atau unsur dewasa. Sejauh yang saya ketahui, IGRS memproses setiap pengajuan secara manual. Kami membagikan rekaman melalui tautan Google Drive yang terkunci, dan baru-baru ini menerima permintaan akses dari beberapa anggota tim IGRS. Saya tidak akan terkejut jika beberapa tautan tersebut terbuka lebih luas selama proses yang masih bersifat ad hoc tersebut”, tulisnya

manajer rating riot games nic mcconnell baru baru ini mengun e3k1
Tangkapan layar BlueSky.

Sistem Manual Jadi Celah Kebocoran

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa sistem IGRS saat ini masih sangat bergantung pada proses manual. Developer diminta mengunggah materi sensitif melalui tautan eksternal, yang berpotensi membuka celah keamanan jika tidak dikelola dengan ketat.

Dalam kasus yang ramai diperbincangkan, disebutkan bahwa sistem IGRS memungkinkan akses ke data tersembunyi melalui API publik. Hal ini membuat sekitar 1.000 email pengembang serta detail game yang belum dirilis ikut terekspos. Bahkan, beberapa judul besar disebut-sebut muncul dalam kebocoran tersebut, memicu kekhawatiran di kalangan publisher global.

Nic McConnell juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian bagi developer saat mengirimkan materi penilaian. Ia menyarankan agar hanya konten yang benar-benar relevan yang dibagikan, guna mengurangi risiko kebocoran data.

Minimnya SDM Jadi Sorotan

Selain masalah teknis, Nic juga menyinggung keterbatasan sumber daya manusia dalam tim IGRS. Ia menilai beban kerja yang besar tidak sebanding dengan jumlah personel yang tersedia.

“Saya juga ingin menambahkan bahwa menurut saya tim di IGRS berukuran kecil dan diberi tanggung jawab yang sangat besar tanpa sumber daya yang memadai. Saya sempat bertemu dengan mereka setelah mencoba menghubungi selama berbulan-bulan, dan menurut saya mereka adalah sekelompok kecil orang-orang baik yang berusaha melakukan yang terbaik. Namun, mereka menghadapi tekanan waktu yang besar. Secara umum, lembaga penilai, baik yang dikelola pemerintah maupun industri pada dasarnya berupaya menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin. Memang tidak sempurna dan kritik itu wajar, tetapi ini adalah bagian dari upaya untuk membuat sistem berjalan dengan baik”, ungkapnya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa permasalahan IGRS tidak hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut dukungan sistemik yang belum optimal.

Kasus kebocoran data IGRS menjadi peringatan penting bagi industri game nasional. Sebagai salah satu pasar game terbesar di Asia Tenggara, Indonesia membutuhkan sistem regulasi yang tidak hanya kuat secara kebijakan, tetapi juga aman dari sisi teknis.

Jika isu ini tidak segera ditangani, kepercayaan developer global bisa menurun. Padahal, potensi Indonesia untuk menjadi pusat pertumbuhan industri game masih sangat besar.

Scr/Mashable




Don't Miss