Aplikasi pesan instan WhatsApp kembali menjadi sorotan setelah menguji layanan langganan berbayar bernama WhatsApp Plus.
Fitur ini disebut-sebut akan menghadirkan pengalaman chatting yang lebih personal melalui berbagai opsi kustomisasi, mengikuti tren yang sebelumnya telah diterapkan oleh Instagram dan Snapchat lewat layanan premium mereka.
Fokus utama dari layanan ini adalah memberikan fleksibilitas lebih kepada pengguna dalam mengatur tampilan dan pengalaman penggunaan aplikasi.
Fitur WhatsApp Plus: Lebih Personal, Tapi Minim Perubahan Fungsional
Berbeda dari ekspektasi sebagian pengguna, WhatsApp Plus tidak membawa banyak fitur baru dari sisi fungsi utama. Sebaliknya, layanan ini lebih menitikberatkan pada aspek visual dan personalisasi.
Langkah ini telah dikonfirmasi oleh Meta, yang menyatakan bahwa WhatsApp Plus masih dalam tahap uji coba terbatas di beberapa wilayah.
Dilansir dari TechCrunch (20/04/26), pengguna yang berlangganan nantinya dapat menikmati berbagai fitur seperti ikon aplikasi khusus, tema chat yang lebih beragam, nada dering dan notifikasi kustom, hingga pengaturan tampilan daftar chat yang lebih fleksibel. Selain itu, batas pinned chat juga ditingkatkan secara signifikan, dari yang sebelumnya hanya tiga chat menjadi hingga 20 chat sekaligus.
Fitur ini tentu akan sangat membantu pengguna yang memiliki banyak percakapan penting dan ingin mengelolanya dengan lebih rapi. Selain itu, opsi custom list juga memungkinkan pengelompokan chat berdasarkan kategori tertentu.
Informasi tambahan dari WABetaInfo menyebutkan bahwa harga langganan WhatsApp Plus diperkirakan sekitar €2,49 per bulan di Eropa atau sekitar Rp40 ribuan.
Di beberapa wilayah seperti Pakistan, harga bahkan lebih terjangkau dengan kisaran 229 PKR (sekitar $0,82). Menariknya, Meta juga disebut akan memberikan masa uji coba gratis selama satu bulan bagi pengguna baru.
Meski menghadirkan berbagai fitur premium, WhatsApp Plus tidak menghilangkan iklan di fitur Status, yang mulai diperkenalkan Meta sejak tahun lalu.
Hal ini menunjukkan bahwa layanan berbayar ini lebih berfokus pada pengalaman personal ketimbang menghapus elemen monetisasi yang sudah ada.
Strategi Monetisasi Meta
Hadirnya WhatsApp Plus menjadi bagian dari strategi besar Meta dalam mengembangkan sumber pendapatan baru dari platform messaging.
Setelah mengakuisisi WhatsApp pada 2014, Meta sempat menghapus biaya langganan tahunan yang sebelumnya diterapkan pada aplikasi ini.
Kini, pendekatan yang diambil berbeda. Alih-alih memaksa semua pengguna membayar, Meta memilih menghadirkan model premium, di mana layanan dasar tetap gratis, sementara fitur tambahan bisa diakses melalui langganan.
Strategi ini terbukti efektif. Dalam laporan keuangan kuartal keempat 2025, Meta mencatat peningkatan pendapatan dari lini aplikasi sebesar 54% secara tahunan, mencapai sekitar $801 juta.
Bahkan, bisnis WhatsApp sendiri telah menembus angka pendapatan tahunan lebih dari $2 miliar, sebagian besar berasal dari layanan pesan berbayar untuk bisnis.
Meski begitu, karena WhatsApp Plus masih dalam tahap uji coba terbatas, dampaknya terhadap pendapatan Meta dalam waktu dekat kemungkinan belum signifikan. Dengan basis pengguna lebih dari 3 miliar orang di seluruh dunia, hanya sebagian kecil yang saat ini bisa mengakses fitur ini.
Namun, jika uji coba ini berhasil dan mendapatkan respons positif, bukan tidak mungkin WhatsApp Plus akan diluncurkan secara global.
Scr/Mashable

















